Saya menahan diri. Tak mau buru-buru menulis soal kasus eks Jampitsus Febrie Adriansyah.
Sejak awal saya menduga, ini bukan kasus biasa.
Akan banyak proses yang terasa tiba-tiba.
Akan banyak kejutan dalam prosesnya. Dan kejutan itu di luar logika publik. Apalagi bagi orang awam seperti saya, pasti logikanya tak akan sampai.
Benar saja, setelah penggeledahan di belasan lokasi oleh Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortastipidkor) Polri bersama penyidik Polda Metro Jaya, tiba-tiba terjadi simpang siur soal siapa pemilik 74 kg emas dan ratusan miliar uang dalam berbagai mata uang asing itu.
Tiba-tiba terjadi kesimpangsiuran kepemilikan properti lokasi penggeledahan.
Tiba-tiba, pagi hari eks Jampitsus itu menggelar konferensi pers dan mengaku bukan sebagai pemilik barang-barang luar biasa berharga itu.
Tiba-tiba sore harinya, eks Jamputsus itu dikabarkan mengundurkan diri dari jabatannya.
Tiba-tiba, Polri menyiarkan kabar menetapkan eks Jampitsus sebagai tersangka.
Tiba-tiba, Polri mengalihkan penanganan kasus itu ke Kejaksaan Agung (Kejagung).
Tiba-tiba tersiar kabar, status Febri berubah dari tersangka menjadi saksi.
Tiba-tiba, Kejagung mengklarifikasi, status Febri tetap tersangka.
Tiba-tiba, muncul pengacara kondang Hotman Paris Hutapea sebagai kuasa hukum Febri.
Tiba-tiba, Hotman menyeret-nyeret nama Presiden Prabowo dalam pernyataannya terkait Febri.
Tiba-tiba, Hotman mengundurkan diri sebagai pengacara Febri.
Tiba-tiba, muncul ada pihak yang mengklaim menyewa rumah lokasi penggeledahan tersebut.
Tiba-tiba muncul ada pihak yang bersiap mempraperadilkan penyitaan aset-aset bernilai besar itu.
Tiba-tiba, para ahli sibuk berdebat soal sahnya status tersangka tanpa pemeriksaan awal, sementara asal-usul 74 kg emas itu malah makin kabur.
Tiba-tiba, fokus publik digeser, dari skandal kepemilikan harta fantastis, menjadi sekadar perdebatan prosedur penanganan dan tata cara penahanan.
Dan masih banyak tiba-tiba lainnya. Jika saya tulis semua, daftar ketiba-tibaan itu bisa sangat panjang.
Kejutan-kejutan ini terasa tiba-tiba, hanya bagi kita orang awam yang melihatnya. Tapi tidak bagi yang bukan awam.
Meski terasa tiba-tiba, kita tak benar-benar kaget. Memori publik di negara ini masih terang mengingat peristiwa semacam itu.
Dulu kita mengenal dinamika cicak vs buaya, yang juga penuh ketiba-tibaan dalam prosesnya.
Yang tiba-tiba sekaligus mengagetkan hanya soal Febri ditahan, tapi tiba-tiba tidak diborgol dan tidak pakai rompi pink, dengan alasan buru-buru.
Mungkin itu jenis buru-buru yang tiba-tiba. Sekali lagi itu hanya mungkin, mungkin yang tiba-tiba juga..Wallahu a’lam bish-shawab.(*)









