oleh

Lebih Tenang

Ramadan dan menjelang Idul Fitri 2026, Lampung tampak lebih tenang.

Gejolak harga dan kelangkaan sembako yang biasanya bikin emak-emak di dapur panik, kali ini relatif lebih terkendali.

Pun kekhawatiran terhadap kondisi infrastruktur arus mudik dan balik, seperti angin di kaki Gunung Pesagi, landai, tenang, dan sejuk.

​Kebijakan bersifat antisipatif yang dijalankan Pemprov Lampung mulai menunjukkan tanda-tanda tepat sasaran dan tepat waktu.

Coba kita intip apa saja langkah-langkah yang dilakukan Pemprov Lampung sehingga membuat Ramadan kali ini seperti udara pagi Pulau Pahawang, hangat, damai dan mengesankan.

​Pertama, itu karena Pemprov Lampung melakukan sekaligus mendorong seluruh kabupaten/kota untuk aktif menyelenggarakan pasar murah dan Gerakan Pangan Murah (GPM) sebagai upaya menyediakan sembako dengan harga di bawah Harga Acuan Pasar (HAP). Ini untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama untuk komoditas pokok seperti beras, minyak goreng, telur ayam, gula pasir, dan tepung terigu.

Pemprov Lampung juga melakukan penguatan stok dan cadangan pangan. Bekerja sama dengan Bulog dan distributor besar, Pemprov memastikan stok pangan dalam posisi aman, di mana stok Bulog Lampung perawal 2026 tercatat mencapai 170.000 ton yang diklaim sangat mencukupi kebutuhan Ramadan dan Lebaran.

Kemudian, Pemprov Lampung melakukan koordinasi dengan PPN Pinsar untuk memastikan pasokan daging sapi dan telur ayam tetap surplus di wilayah Lampung sebagai daerah penghasil.

Guna menjaga stabilitas itu, Pemprov Lampung melakukan pengawasan distribusi dengan menggerakkan Satgas Pangan.

Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal (RMD), juga mengambil langkah pengendalian dengan menginstruksikan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk tidak bekerja secara reaktif, melainkan membenahi tata niaga dari hulu ke hilir.

Terutama untuk melakukan pemantauan harga dan stok secara harian di pasar-pasar tradisional dan ritel modern untuk mendeteksi lonjakan harga sejak dini.

Pemprov Lampung fokus pada empat pilar pengendalian inflasi yakni ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Kerja-kerja seperti ini merupakan kerja-krja rumit dan senyap, tapi memiliki dampak besar terhadap roda kehidupan masyarakat.

Belajar dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya. Kebijakan yang bersifat antisipatif memang lebih jitu daripada penanganan setelah gejolak muncul.

​Bukan hanya emak-emak yang tenang, para perantau yang hendak mudik Lebaran 2026 ini juga tak perlu was-was terhadap kondisi infrastruktur jalan dan jembatan yang akan dilalui di Lampung.

RMD sudah turun langsung ke lapangan guna memastikan Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK) menjalankan instruksinya agar seluruh jalan provinsi bebas lubang pada H-10 Lebaran.

Dinas BMBK hingga saat ini trs melakukan penambalan dan perbaikan pada titik-titik kerusakan strategis untuk menjamin keamanan pengguna jalan.

Percepatan perbaikan itu dilakukan menggunakan skema swakelola agar penanganan di lapangan bisa lebih cepat merespons laporan masyarakat.

Belajar dari kerusakan jalan yang berulang, Pemprov melakukan pendekatan baru di mana RMD menekankan bahwa perbaikan jalan harus disertai pembersihan drainase agar air tidak menggenang, yang selama ini menjadi penyebab utama jalan cepat rusak.

Kemudian mulai tahun 2026, Pemprov merencanakan pengerjaan jalan permanen menggunakan konstruksi rigid beton agar jalan lebih tahan terhadap kendaraan bertonase besar.

Pemerintah Provinsi Lampung juga telah menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) dengan Kementerian Perhubungan dan kepolisian untuk mengantisipasi lonjakan pergerakan yang diprediksi mencapai 143,9 juta orang secara nasional.

Mengingat Lampung adalah pintu utama dari Pulau Jawa melalui Pelabuhan Bakauheni, pelayanan di titik ini menjadi sorotan utama kesiapan infrastruktur.

Ketentraman Ramadan tahun ini adalah bukti bahwa Lampung kini memiliki pemimpin yang selalu berpikir antisipatif yang selalu hadir lebih awal sebelum keluh kesah itu tumpah.

Pada akhirnya, kita masyarakat juga yang merasakan perubahan yang paling mendasar dalam kehidupan. Dimn Lampung bukan lagi sekadar tempat perlintasan yang melelahkan, tapi telah menjadi rumah yang hangat, teduh, dan tenang…Wallahu a’lam bish-shawab. (*)