Jujur saja. Selain kaget gak kaget, saya juga penasaran.
Lompatan Lampung kali ini benar-benar bikin dahi berkerut.
Bukan cuma soal waktunya yang cepat. Tapi momennya. Ini terjadi saat anggaran sedang minus. APBD defisit. Kas sedang cekak.
Sebagai orang awam, logika saya saat uang gk ada, pembangunan pasti macet.
Ini kemiskinan justru pecah telur turun ke satu digit. Ekonomi tumbuh di atas rata-rata nasional. Nilai Tukar Petani (NTP) malah meroket.
Siapa yang gak penasaran apa penyebabnya?
Saya tidak mau asal percaya angka di atas kertas. Saya coba bertanya ke beberapa senior. Termasuk ke beberapa tenaga pendamping Gubernur.
Mereka yang paham ekonomi mikro-makro. Yang khatam soal dinamika pembangunan daerah.
Saya pengen tau, kebijakan dan program apa yang punya daya ungkit sebesar itu?
Dari diskusi dengan para ahlinya itu, saya jadi tau kata kuncinya adalah Desa. Iya bener, Desa.
Ternyata, setahun terakhir, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal (RMD) merubah kemudi arah pembangunan.
Dari yang tak jelas arah, kini bidikannya jelas dan tajam, yakni ke Desa. Paradigma usang pembangunan yang cenderung ke semua arah disingkirkan.
Jadi hampir semua kebijakan dan program pembangunan Lampung kini berbasis desa. Termasuk program pusat, di optimalkan agar membawa mamfaat sebesar-besarnya di desa.
Kita lihat mulai dari program desa ku maju. Ini adalah pemicu utama penurunan kemiskinan di desa.
RMD tidak hanya memberikan bantuan, tetapi membangun sistem ekonomi mandiri di desa.
RMD mewajibkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk menjadi pembeli pertama produk petani lokal. Ini memotong rantai pasok yang panjang, sehingga petani mendapatkan harga jual yang lebih tinggi.
Program ini juga menjadikan desa sebagai pusat produksi, bukan sekadar tempat tinggal.
Tak berenti disitu, RMD juga mengatur ulang tata niaga.
RMD dengan berani melakukan intervensi pasar ketika harga komoditas strategis mulai goyah.
Salah satunya menetapkan batas bawah harga pembelian yang ketat untuk Gabah Kering Panen (GKP) dan Jagung pipilan.
Kebijakan ini menjaga agar harga tidak jatuh saat panen raya.
Sehingga pendapatan petani padi dan jagung (dua komoditas terbesar di Lampung) terjaga, yang langsung berdampak pada penurunan angka kemiskinan di kantong-kantong pertanian.
Untuk mengefesiensikan arus produk pertanian dari desa, Pemprov Lampung melakukan perbaikan 52 ruas jalan provinsi, yang mayoritas berada di jalur pertanian.
Sehingga menurunkan biaya angkut bagi petani dan margin keuntungan petani menjadi lebih besar karena biaya transportasi berkurang. Akses pasar menjadi lebih cepat, sehingga kualitas komoditas seperti sayur dan buah tetap segar saat sampai di pasar.
RMD juga secara massif mendorong hilirisasi pertanian. Sehingga memiliki efek besar di desa.
RMD mendorong investasi masuk ke sektor pengolahan, bukan hanya ekstraksi bahan mentah. Seperti pembangunan industri pengolahan ayam terintegrasi dan pabrik pengolahan hasil bumi lainnya.
Ini bertujuan agar nilai ekonomi tetap berputar di Lampung. Petani tidak menjual barang mentah murah, tetapi industri menyerapnya untuk diolah menjadi barang jadi yang bernilai tinggi.
Selain menggulirkan program-program provinsi, RMD juga memaksimalkan program-program pusat yang ada di Lampung.
Salah satunya MBG. RMD memaksimalkan dampak MBG dengan strategi wajib produk lokal. Itu langsung berdampak ke Nilai Tukar Petani (NTP).
Sebab bahan baku MBG seperti telur, ayam, sayur, susu, beras dari petani dan peternak lokal Lampung. Bukan impor dari luar.
Petani tidak lagi pusing memikirkan siapa yang akan membeli hasil panen mereka.
Dari penjelasan senior-senior yang paham ekonomi itu, bisa saya simpulkan secara singkat alurnya.
Kombinasi antara jaminan pasar melalui program MBG dan BUMDes, perlindungan harga dan tata niaga, dan kemudahan akses infrastruktur jalan yang baik, membuat petani Lampung saat ini bisa menabung lebih banyak, yang tercermin dari angka NTP 127,62 dan kemiskinan yang turun ke satu digit.
Kni saya yang awam soal ekonomi ini jadi paham, kenapa meski APBD depisit tapi pembangunan Lampung justru memiliki daya ungkit. Karena kebijakan dan program pembangunannya memiliki sasaran yang tepat dan multieffek.
Lampung kini sedang memasuki era dimana uang banyak berputar di desa, bukan lagi menumpuk di kota.
Desa kini jadi pemain aktif dari rantai ekonomi. Jika ini terus berlanjut hingga masa mendatang, maka orang-orang desa tak akan berpikir lagi untuk merantau ke kota.
Tapi orang desa yang sudah terlanjur merantau ke kota seperti saya, apakah harus balik kampung? Entalah…Wassalam.









