Tinta tulisan saya soal “Racikan RMD” belum kering benar, takdir seolah menjawabnya secara kontan.
Provinsi Lampung membuat dunia birokrasi tertegun. Kali ini Lampung membuat publik tercengang bukan karena viral jalan rusak lagi. Tapi karena prestasi pengakuan terhadap birokrasi yang berubah total.
Ombudsman Republik Indonesia, Kamis (29/1), memberikan predikat kualitas tertinggi dalam Penilaian Kepatuhan Penyelenggaraan Pelayanan Publik.
Coba kita lihat peringkatnya dengan seksama.
Dari 38 Provinsi yang dinilai, hanya satu yang berhasil menembus kategori kualitas tertinggi. Ya, benar itu Provinsi Lampung.
Wakil Gubernur Jihan Nurlela yang naik ke panggung menerima penghargaan itu. Gagah. Bangga.
Sekdaprov Marindo Kurniawan pun mengonfirmasi kabar itu dengan nada penuh syukur.
Pertanyaannya sederhana, apakah ini simsalabim? Apakah ini kebetulan?
Bagi yang paham bagaimana dunia birokrasi pemerintahan, jelas menjawab tidak.
Piala Ombudsman ini adalah bukti bayar lunas dari kerja keras Gubernur hingga Sekdaprov dan jajaran. Kerja membenahi birokrasi bukan kerja yang di sorot kamera.
Membereskan pekerjaan menyembuhkan penyakit usang bernama lambat dan ruwet, itu pekerjaan sunyi. Perlu keterlitian. Perlu kesabaran. Perlu kehati-hatian.
Seperti yang sempat saya ulas, RMD memulai start dengan membedah penyakit birokrasi. Ia membabat habis kultur ABS (Asal Bapak Senang) dan anak haramnya, ATS (Asal Terlihat Sibuk).
Hasilnya?
Pengakuan dari lembaga Nasional yang bertugas menilai dan mengawasi pelayanan publik. Ombudsman RI jelas tidak main-main memberi nilai.
Predikat kualitas tertinggi itu bukti bahwa tubuh birokrasi Lampung kini sudah bersih, lincah, dan responsif.
Pelayanan publik prima. Maladministrasi minggir.
Ini sinyal keras bagi birokrat yang masih menganut budaya lama atau mereka yang masih malas-malasan.
Era pura-pura kerja sudah tamat.
Ini bukan prestasi kaleng-kaleng. Ini pengakuan bahwa pelayanan publik kita, secara kepatuhan dan SOP, sudah ada di level di atas rata-rata.
Mengubah birokrasi yang dulu banyak di keluhkan menjadi birokrasi yang kualitas tertinggi itu bukan pekerjaan mudah. Dan pastinya butuh komitmen bersama.
Namun, prestasi ini juga menyimpan beban berat. Kenapa? Karena kini Lampung jadi barometer. Birokrasi pemeruntah se-Indonesia bakal melihat Lampung.
Disitulah beban terberatnya. Jangan sampai prestasi gemilang, tapi pas rakyat ngurus surat masih ada keluhan atau disuruh balik lagi besok. Prestasi ini harus benar-benar membawa dampak dan manfaat pada pelayanan rakyat.
Ombudsman menilai standar dan kepatuhan, tapi rakyat menilai rasa dan kecepatan. Sinkronisasi inilah yang jadi pekerjaan rumah selanjutnya.
Menjadi satu-satunya itu membanggakan karena eksklusif, tapi bahaya karena jika slip sedikit, malunya dobel.
Hari ini kita boleh busungkan dada. Kita boleh bangga. Lampung sudah membuktikan jika stigma negatif masa lalu pelan-pelan dikikis habis.
Kita bukan lagi provinsi yang cuma viral karena jalan rusak, tapi viral karena pelayanan publiknya juara satu se-Indonesia.
Selamat buat Pemprov Lampung. Nikmati tepuk tangannya hari ini. Besok, singsingkan lengan baju lagi. Pertahankan yang sudah di raih, dengan menjaga kualitas prima layanan.
Harus diingat, mempertahankan puncak itu kadang jauh lebih berdarah-darah daripada meraihnya…Wassalam.(*)









