oleh

Mengenal “Cuan” Karbon

Harianpilar,com. Oleh : Mico  P

Belakangan banyak yang menulis tentang potensi karbon. Sebagian besar tulisan-tulisan itu menyebut karbon potensi besar yang bisa menghasilkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Bahkan, Lampung disebut sebagai daerah dengan potensi aset karbon yang besar. Benarkan demikian? Ayo kita ulas warey..

Secara sederhana, potensi karbon adalah kemampuan suatu wilayah yang memiliki hutan, lahan gambut, mangrove, atau laut yang bisa menyerap dan menyimpan gas rumah kaca, khususnya karbondioksida atau CO_2 dari atmosfer.

Nah, dalam konteks ekonomi dan lingkungan saat ini, istilah ini sering dimaknai sebagai aset dari alam yang masih lestari.

​Seperti pohon dan tanah sebagai spons raksasa. Saat pohon melakukan fotosintesis, mereka menghirup racun udara (CO_2). Oksigen dilepaskan kembali untuk kita bernapas. Karbon disimpan di dalam batang kayu, akar, daun, dan tanah. Yang dimaksud potensi karbon adalah hitungan seberapa banyak ton karbon yang tersimpan di dalam spons tersebut. Semakin lebat hutannya, atau semakin tebal gambut/mangrove-nya, semakin besar potensinya.

Itu baru satu contoh. Masih banyak potensi karbon lainnya. Secara umum ada dua potensi karbon, yakni karbon hijau atau bahasa kerennya green carbon. Ini jenis karbon yang tersimpan di ekosistem daratan.

Dan jenis karbon ini memang potensinya sangat besar di Lampung. Sebab Lampung memiliki hutan luas seperti di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Taman Nasional Way Kambas (TNWK), dan perkebunan rakyat seperti kopi dan kakao.

Kemudian, ada jenis karbon biru atau bahasa kerennya blue carbon. Ini karbon yang diserap dan disimpan oleh ekosistem pesisir dan laut. Ini kemampuannya 4-10 kali lebih hebat daripada hutan daratan. Potensinya di Lampung juga sangat besar, karena Lampung punya hutan Mangrove seperti di Pesisir Timur Lampung dan padang lamun di pesisir barat atau pulau-pulau.

Soal karbon ini sedang banyak di bahas belakangan ini itu disebabkan dunia internasional saat ini memiliki sistem perdagangan karbon. Seperti Lampung, jika bisa membuktikan lewat data ilmiah bahwa hutan Lampung menyimpan sekian juta ton karbon, itu bisa diubah menjadi sertifikat kredit karbon.

Kemudian, perusahaan-perusahaan polutan seperti pabrik besar, maskapai penerbangan, dan lainnya bisa membeli sertifikat tersebut untuk menebus emisi mereka. Di situlah karbon itu menjadi peluang uang besar dengan nilai sangat besar.

Di sinilah peran pemerintah dan pihak-pihak terkait lainnya diperlukan. Terutama untuk menyiapkan segala keperluanya agar potensi karbon itu bisa jadi uang besar. Mulai menyiapkan regulasinya sampai menghitung potensi besaran karbonnya.(*)