oleh

SMA II Buka Program Biling

Harianpilar.com, Bandarlampung – Menjelang tahun ajaran baru 2015/2016, SMAN 2 Bandarlampung telah membuka program penerimaan siswa baru melalui Program Bina Lingkungan (Biling), program penerimaan siswa biling ini dilaksanakan pada tanggal 1-6 juni.

“Saat ini kita sedang malakukan penerimaan siswa billing dari tanggal 1 sampai tanggal 6 juni,” ujar Kepala sekolah SMAN 2 Bandarlampung Sobirin, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (1/6/2015)

Dijelaskannya, setelah tanggal 6 juni seluruh berkas siswa yang mendaftar melalui program biling akan di rekap, kemudian diseleksi sesuai dengan persyaratan program Biling.

“Setelah tanggal 6 baru kita rekap, untuk syarat biling yang penting dia tinggal di Bandarlampung, orang tuanya alamat nya di Bandarlampung,” jelasnya

Dipaparkannya, ada beberapa syarat yang harus di penuhi oleh siswa yang ingin mendaftar lewat program biling ini yakni Siswa telah ikut ujian SMP dan dibuktikan dengan surat telah mengikuti UN, kemudian surat keterangan belum mampu dari kelurahan, mengumpulkan KTP dan KK ayah ibunya, foto 3x 4  sebanyak 3 lembar serta melampirkan foto rumah tempat tinggalnya

“setelah berkas direkap semua, nanti kita survey, kita akan berkoordinasi dengan guru dan kelurahan setempat,” terangnya.

Menurut sobirin, tidak ada syarat baku mengenai ketentuan rumah siswa program biling itu, namun semuanya akan berdasarkan pada hasil survey dilapangan.

“Ya nanti kita survey, mungkin orang tuanya , potonya rumah bagus tapi masih numpang, jadi kita survey biar jelas,” imbuhnya seraya menjelaskan jika SMAN 2 akan menerima siswa program biling yang layak diterima dan telah lulus survey

“Tahun ini banyak, sepanjang anak itu layak medaftar tempat kita dan telah lolos survey kita terima,” terangnya.

Dikatakan sobirin, Jika program biling ini sangat baik, dan patut untuk diteruskan, sebab program ini sangat membantu anak orang belum mampu untuk bersekolah.

“Program biling ini sangat bagus, karena masyarakat kecil merasa sangat terbantu, sehingga anak-anak yang tidsak mampu bisa bersekolah , ini kan salah satu terobosan,” tuturnya

Sedangkan terkait siswa yang bandel dan nakal, sobirin menerangkan kerjasama antara pihak sekolah dan pihak keluarga sangat diperlukan dalam mengatasi masalah itu, sebab tanggung jawab pendidikan anak bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah tetapi juga keluarga.

“Ya harus ada pengawasan, ada pembinaan, ada komunikasi dengan pihak sekolah, sehingga terjalin komunikasi kerjasama antara keluarga dan pihak sekolah, Karena ada orang tua yang bilang anak ini baik di rumah , ternyata nakal di sekolah,” pungkasnya (Buchari/JJ)