Harianpilar.com, Bandarlampung – Dugaan politik uang yang terjadi di pemilihan gubernur dan wakil gubernur Lampung 2018 benar-benar dahsyat. Selain diduga ada perintah langsung dari Calon Gubernur Lampung Arinal Djunaidi, ternyata ada juga Training Of Trainer (TOT) dalam mendistribusikan uang. Bahkan, di waktu-waktu terakhir menjelang Pilgub Lampung survey Arinal masih terbilang rendah, tapi tiba-tiba melejit.
Hal itu diketahui dari pengakuan Politisi Partai Golkar Lampung Barlian Mansyur yang terekam dalam video yang beredar luas di masyarakat.
Berlian membeberkan semua seluk beluk proses politik uang. Mulai dari adanya pelatihan atau TOT penyaluran politik uang, hingga survey Arinal yang hanya sekitar 19 persen di waktu terakhir tiba-tiba melejit hingga 38 persen.
“Bukti Pilkada di Lampung semua kotor, apalagi pada daerah-daerah yang tidak terpantau. Penyelenggara ini kayanya sudah miring-miring memihak terutama Bawaslu. Bawaslu ini nggak bener, masa orang bagi-bagi duit tengah malam mereka diamkan. Karena waktu nyaleg saja kalau ketangkap langsung diproses, banyak loh anggota panwas yang berkeliaran tau, tapi kenapa dibiarkan, ada pembiaran, mana fungsi Bawaslu,” ungkap Berlian.
Berlian menceritakan salah satu proses politik yang itu.”Pada saat transaksi dilakukan di halaman parkir Swissbell Hotel, bermula dari perintah Ketua DPD Partai Golkar Kota Bandarlampung Yuhadi yang berlangsung di kediaman Arinal Djunaidi juga,” ungkapnya.
“Itu pak Yuhadi, waktu itu dirumahnya pak Arinal juga membicarakan masalah itu,” tambahnya.
Pada saat itu Yuhadi memerintahkan Barlian agar TPS-TPS yang ada disekitar kediaman Barlian untuk menebar amplop agar jangan sampai Arinal-nunik kalah.
“Tin (panggilan Yuhadi ke Barlian Batin) yang didepan rumah Batin itu TPS berapa, kemudian yang dibelakang itu TPS berapa, dan yang samping agak sebelah sana itu TPS berapa, itu jangan sampai nggak ada isi jangan sampai kalah,”ucap Barlian menirukan ucapan Yuhadi.
Namun pada saat itu Barlian menegaskan kemungkinan untuk menang adalah tidak mungkin, namun dirinya masih kebingungan dengan maksud Yuhadi yang mengatakan harus ada isi.
“Kalau menang nggak mungkin, tapi kalau nggak ada isi ya isi,tapi apa yang dimaksud harus ada isi itu,”kata Barlian.
“Ya ini geh disiram, lalu bagaimana nyiramnya, waduh ya bagaimana ini cara nyiramnya, Ya sudahlah kan teknisnya dah tau begini, begini, begini,”terang Barlian menirukan perkataan Yuhadi.
Meski dalam hati menolak, Barlian mengaku dengan terpaksa menerima perintah Yuhadi. “Ya sudah kalau begitu saya jalankan saja karena ini perintah anda sebagai Ketua DPD Partai Golkar, berarti saya punya konsekuensi, apalagi ini depan pak Arinal ketua provinsi, bisa-bisa kena pecat kalau nggak menjalani ini,”ujarnya.
Selanjutnya, Barlian menjelaskan dalam tenggang waktu H-1 hari raya idul fitri dari tanggal 24 yang dibicarakan pada waktu itu. “Lalu itu saya tanya dong karena waktu itu saya sudah ngomong-ngomong mau isi nggak lo orang, bukan karena itu saja karena itu juga kan perintah harus ada isi, saya juga kan jadi ada sanksi nantinya, Ya sudah saya lakukanlah itu, lalu saya panggil pak Alex, saya datangi malah dia, saya bilang pak Alex saya titip tolong diinikan, pokoknya pak Arinal harus ada isinya sesuai yang ada ini. Kalau nggak salah itu saya nggak itung-itung lagi langsung saya kasih aja amplopnya,”tuturnya.
Berlian mengaku tidak mengetahui berapa jumlah nominal dalam amplop yang diberikan. Namun jumlahnya kemungkinan untuk 100 orang. “Yang isinya notabene kata yang sudah buka itu uang biru, uang biru itukan 50.000 yakan,”kata dia.
Setelah itu, Berlian melanjutkan berkeliling di TPS belakang rumahnya untuk kembali menabur amplop. “Saya kesana lagi udah hampir jam 12 itu udah siang besok itu udah pemilihan yang TPS belakang rumah saya ini. Kemudian saya berikan kepada pak Giono.”Mas Giomo tolong ini, Karena saya mau lewat pak Topo ketua RT pak ketua RT takut dengan pak Wali (Herman HN). Takut dengan pak wali ini dalam artian dia nggak mau money politik, dia nggak mau hal-hal yang seperti ini, pokoknya bersih-bersihan aja kita,”jelas Barlian menirukan percakapannya dengan Giono dan Ketua RT.
Setelah menebarkan amplop tersebut, Barlian mengaku langsung mendapatkan 63 suara saja. “Yasudah kasihin lah dengan pak Giono itu, kemudian pak Giono itu menyerahkan kemudian dapatlah disana itu 63 suara, kan melesat, tetap melesetlah namanya bagaimana sih inikan,”kata dia.
Barlian hanya memberi sesuai perintah yang diberikan.”Saya ini hanya menyalurkan sesuai dengan perintah-perintah saja, soal perintah itu sebenarnya bertentangan dengan isi hati saya yang paling dalam. Saya ingin pemilu ini bersih, jujur dan adil jurdil,”kata dia.
Kemudian pada hasil survei, Barlian mengungkapkan disaat-saat terakhir hasil survei Arinal mentok hanya 19% saja.
“Itu sudah hari akhir itu. Kok bisa melonjak jadi 38-39%, rasanya ini ada malaikat yang main disini. Bukan malaikat ya iblis tapi yang main,”cetusnya.
Konsep money politik pemenangan Arinal Djunaidi telah terstruktur.”Terstruktur sekali, jadi jauh sebelum itu partai Golkar sering mengadakan kegiatan-kegiatan TOT, mengadakan kegiatan-kegiatan pelatihan bagaimana cara menyalurkan, membuat kanal, simpul-simpul, dibuat kisi-kisi gitu tapi dibuat pelatihan-pelatihan diberikan buku ada semua disitu, pembina itu berapa, Korwan itu cari orang berapa, korda itu membawahi berapa korwan,”jelasnya.
Selain itu juga, lebih parahnya lagi dalam pertemuan dikediaman Arinal Djunaidi, Barlian mengaku tidak hanya ada dirinya, Yuhadi, dan Arinal tetapi juga ada 2 ASN yaitu Palepi dan Samsu.
“Sudah ada dua orang ASN satu pak Pahlepi satu lagi pak Samsu, dua-duanya lurah,” terangnya.
Kedatangan mereka menurut sepengetahuan Barlian bahwa ada instruksi-intruksi Khusus. “Kalau yang saya dengar kedatangan keduanya adalah ada instruksi-intruksi khusus gituloh yang saya dengar, saya juga kaget ada lurah disitu,”jelasnya.
Meski berada disatu ruangan, Barlian mengaku tidak ada pembicaraan apapun dengan kedua ASN tersebut, justru dirinya memberikan peringatan kepada kedua lurah tersebut.
“Saya bilang hati-hati kamu, ASN ada undang-undangnya yang mengatur netralitas, meskipun itu adiknya nggak boleh, apa lagi kalau sudah membicarakan masalah substansi kemenangan,” ungkapnya.
“Harapan saya, ayolah kita tegakkanlah yang benar itu benar, yang salah itu salah, kan pak Arinal namanya sudah demikian sih ya, cobalah junjung tinggi kebenaran itu,” tuturnya.
“Golkar ini adalah partai yang sangat fleksibel, partai yang sangat berpengalaman, 30 tahun lebih pengabdian saya terhadap golkar, dan saya 3 periode menjabat DPRD kota Bandarlampung,” pungkasnya.
Ketua DPD Partai Golkar Bandarlampung Yuhadi saat dikonfirmasi justru memblokir WhatsApp wartawan koran ini. Sementara Arinal Djunaidi dan Berlian Mansyur yang dikonfirmasi melalui WhatsApp tidak menjawab meski pesan di baca.(Ramona/Maryadi)









