oleh

Debat Terbuka Cawabup Lamsel Anang Tuding Eki Pembohong

Harianpilar.com, Lampung Selatan – Debat terbuka Calon Wakil Bupati Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) sesi kedua, yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) Lamsel, Sabtu (7/11/2015) lalu di Aula Krakatau Grand Elty Krakatoa Nirwana Resort Kalianda sempat diwarnai saling ejek.

Acara yang dimulai sekitar pukul 14.00 wib dipadati para pendukung ketiga pasangan calon, nomor urut 1 Ahmad Ngadelan Jawawi yang berpasangan dengan Soleh Bajuri, nomor urut 2 Eki Setyanto berpasangan dengan Rycko Menoza SZP, dan nomor urut 3 Nanang Ermanto berpasangan dengan Zainudin Hasan.
Suasana debat kandidat yang bertema Agama, Budaya, Sosial Kemasyarakatan, dan Pariwisata yang dimoderatori Oyos Suroso, manta Ketua Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Lampung itu sempat memanas ketika Nanang Ermanto, Calon Wakil Bupati Lamsel nomor urut 3 mematahkan pertanyaan calon wakil bupati nomor urut 2, Eki Setyanto terkait dengan program keagamaan. Nanang menuding Eki Setyanto seorang pembohong.

Calon wakil bupati pasangan Rycko Menoza ini sebelumnya memberikan pertanyaan kepada Nanang terkait pelaksanaan umroh ke tanah suci untuk umat Islam, kemudian ke Vatikan untuk umat Nasrani dan ke Bali untuk umat Hindu, yang selama ini telah dilakukan oleh bupati dan wakil bupati periode sebelumnya. “Apakah jika pak Nanang jadi wakil bupati, sekali lagi kalau jadi wakil bupati, apakah Pak Nanang akan melanjutkan program keagamaan seperti umroh, ke Vatikan atau ke Bali?” kata Eki.

Nanang Ermanto menjawab dengan tegas pertanyaan Calon Wakil Bupati pasangan Rycko Menoza itu. “Nomor tiga pasti menang, saya tahu Pak Eki, 6 tahun saya jadi wakil rakyat dan bergaul dengan Pak Eki, pak Eki itu seorang pembohong, selama lima tahun bapak pengangguran dan bapak menjabat wakil bupati pun tidak dipakai,” jawab Nanang menjawab pertanyaan calon wakil bupati nomor urut 2.

Nanang juga melanjutkan, bila dirinya bersama Zainudin Hasan terpilih menjadi Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Lampung Selatan, mereka akan menjalankan program- program secara bersama dan akan lebih baik dari program-program bupati dan wakil bupati sebelumnya. “Kami secara bersama- sama akan menjalankan program dan roda pemerintahan dengan baik, karena sudah memiliki program yang jelas. Selain itu bupati dan wakilnya harus harmonis agar program-program berjalan dengan baik.” lanjutnya.

Nanang juga menambahkan, bahwa jika Zainudin dan Nanang terpilih, mereka akan melakukan dan menjalankan program lebih baik dari bupati dan wakil bupati sebelumnya. “Kami akan menjalankan program pemerintahan akan lebih baik dari bupati sebelumnya tentu saja.” tambahnya. Mendapatkan jawaban dari Nanang, Eki pun mengaku selama dua tahun dirinya sakit dan menepis jawaban dari Nanang bahwa dirinya menganggur. Ia pun mengaku setiap pekerjaan yang ia tangani tidak mungkin cerita kepada mas Nanang. “Selama jadi wakil bupati saya menopang pekerjaan pak bupati, diantaranya menyelesaikan permasalahan di tubuh PDAM Tirtajasa dan kisruh kepengurusan Koperasi TPI Dermaga Boom,” jawab Eky. Debat Tekesan Formalitas

Dalam acara debat kandidat Calon Bupati dan Wakil Bupati session kedua ini berlangsung singkat dan dijaga ratusan aparat Kepolisian Resort (Polres) Lamsel. Namun dalam pelaksanaan debat kali ini banyak menuai kritik dalam pelaksanaannya. Pasalnya akibat kapasitas ruangan yang terbatas tidak semua tamu undangan bisa masuk ke ruangan tersebut. Hal itu juga dialami sebagian awak media yang hendak meliput kegiatan debat calon wakil bupati. Mereka tidak bisa masuk ruang tempat pelaksanaan debat, karena kapasitas ruangan yang sudah terisi penuh.

Tidak seperti pelaskasanaan debat pertama calon bupati yang digelar di objek wisata Tabek Indah, Kecamatan Natar, pada 10 Oktober lalu. Pada pelaksanaan debat calon wakil kali ini, KPU Lampung Selatan tidak mencetak kartu pengenal khusus untuk awak media yang akan meliput. Awak media yang hendak meliput hanya diminta mengisi daftar tamu. Kemudian menunjukan kartu pengenal media masing-masing saat hendak masuk ruang. Sayangnya hal itu tidak sesuai dengan rencana. Petugas yang berjaga dipintu masuk ruangan meminta untuk bergantian masuk karena kapasitas ruangan terbatas. Tetapi saat beberapa orang dari dalam ruangan debat keluar dan beberapa teman media yang awalnya berada diluar hendak masuk. Petugas yang berjaga dipintu masuk justru menanyakan kartu pengenal. (saiful/joe)