oleh

Waspada Lontaran Materi Pijar dan Abu Vulkanik

Harianpilar.com, Bandar Lampung – Meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau belakangan ini disebut tidak otomatis berarti akan terjadi erupsi yang lebih besar. Namun bahaya yang paling perlu diwaspadai saat ini adalah lontaran materi pijar, batuan vulkanik, abu vulkanik, gas vulkanik berkonsentrasi tinggi.

Kepala Badan Geologi Lana Saria menyatakan aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini meningkat dibandingkan periode sebelumnya. Kondisi tersebut ditandai dengan erupsi yang berulang dan berlangsung secara menerus.

“Jadi ini ada beberapa kekhawatiran tentunya terhadap aktivitas dari Gunung Krakatau, bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini memang meningkat dibandingkan periode sebelumnya, ditandai oleh erupsi yang berulang dan berlangsung secara menerus,” ujar Lana Saria, Minggu (6/9).

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya suplai magma dan gas dalam tubuh gunung yang masih berlangsung. Namun, erupsi yang sering tidak otomatis berarti akan terjadi erupsi yang lebih besar.

“Badan Geologi tentunya akan terus mengevaluasi perkembangan aktivitas berdasarkan seluruh data pemantauan, bukan hanya berdasarkan jumlah atau tinggi kolom erupsi,” katanya.

Lana Saria menekankan bahwa bahaya yang paling perlu diwaspadai saat ini adalah lontaran materi pijar, batuan vulkanik, abu vulkanik, gas vulkanik berkonsentrasi tinggi, serta kemungkinan aliran material erupsi di sekitar kawah dan lembah Gunung Anak Krakatau.

“Lontaran material ini dapat merusak peralatan yang berada dekat dengan pusat aktivitas dan membahayakan siapa pun yang masuk zona terlarang,” jelasnya.

Ia menambahkan, aktivitas berpotensi berfluktuasi dan meningkat karena gempa frekuensi rendah, hibrid, harmonik, serta tremor masih terekam. Jenis kegempaan tersebut menunjukkan pergerakan atau pelepasan fluida vulkanik dalam sistem gunung api.

“Meskipun demikian, waktu, besar, dan bentuk erupsi berikutnya tidak dapat dipastikan secara tepat. Karena itu evaluasi dilakukan secara berkelanjutan berdasarkan perubahan seluruh parameter pemantauan,” tegas Lana Saria.

Sementara itu, Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, Andi Suardi, mengatakan hasil pemantauan dalam sekitar 12 jam terakhir menunjukkan masih adanya aktivitas erupsi. Bahkan, terpantau satu kali erupsi dengan durasi cukup panjang yang berlangsung sejak malam sebelumnya hingga saat pemantauan dilakukan.

“Sampai sekarang erupsinya masih berlanjut. Kami mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker sebagai antisipasi terhadap paparan debu atau abu vulkanik,” ujar Andi.

Menurutnya, sebaran abu vulkanik tidak hanya terjadi di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau. Abu juga telah dilaporkan mencapai Bandar Lampung serta sejumlah wilayah lainnya, termasuk Tanggamus di bagian barat Lampung.

“Kami mengimbau masyarakat menggunakan masker, terutama ketika beraktivitas di luar rumah, untuk mengantisipasi agar abu vulkanik tidak terhirup,” katanya.

Andi menegaskan pihaknya belum dapat memastikan kapan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau akan berakhir. Kondisi tersebut sangat bergantung pada energi yang masih dimiliki gunung api tersebut.

“Untuk memastikan sampai kapan erupsi ini berlangsung, kami belum bisa memperkirakannya secara pasti. Kalau energinya sudah berkurang atau habis, aktivitas erupsi akan menurun,” ujarnya.

Ia berharap aktivitas Gunung Anak Krakatau segera mereda. Namun, masyarakat diminta tidak menjadikan perkiraan waktu tertentu sebagai kepastian karena aktivitas gunung api dapat berubah sewaktu-waktu.

“Selama Gunung Anak Krakatau masih memiliki energi untuk melontarkan material vulkanik, aktivitas erupsi masih dapat berlangsung,” jelas Andi.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung bersama Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan dampak sebaran abu vulkanik.

Kepala BPBD Provinsi Lampung, Aswarodi, meminta masyarakat tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas sumbernya.

“Masyarakat kami imbau tetap tenang dan waspada. Ikuti informasi resmi dari instansi yang berwenang dan lakukan langkah-langkah perlindungan diri, khususnya apabila terjadi sebaran abu vulkanik,” ujar Aswarodi.

BPBD juga mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila tidak mendesak. Jika harus keluar rumah, masyarakat dianjurkan menggunakan masker atau kain yang dibasahi air untuk mengurangi risiko abu terhirup.

Warga juga diminta menutup jendela, pintu, serta ventilasi rumah untuk mencegah abu vulkanik masuk ke dalam ruangan.

Abu yang telah menempel pada halaman, kendaraan, maupun permukaan lainnya disarankan dibersihkan menggunakan air. Masyarakat diminta menghindari menyapu abu dalam kondisi kering karena dapat membuat partikel kembali beterbangan dan berpotensi terhirup.

“Apabila mengalami gangguan pernapasan atau iritasi setelah terpapar abu vulkanik, segera mendapatkan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan,” pungkasnya.(*)

Komentar