Harianpilar.com,Bandarlampung – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) terjadi sepanjang 21 hingga 24 Agustus 2026. Namun kebakaran itu terjadi pada padang ilalang dan tidak merembet ke hutan primer.
Kepala Balai TNWK, MHD. Zaidi, mengungkapkan kawasan taman nasional menghadapi tantangan berat akibat kekeringan yang memicu krisis air serta minimnya fasilitas pemadaman di lapangan.
Zaidi menerangkan bahwa sepanjang 21 hingga 24 Agustus 2026, kebakaran beruntun melanda beberapa wilayah TNWK, seperti Desa Braja Harjosari seluas 673,4 hektar, Desa Braja Luhur seluas 123 hektar, dan Resort Rantau Jaya seluas 6,2 hektar.
Meskipun vegetasi yang terbakar didominasi alang-alang dan belum menyentuh hutan primer maupun sekunder, proses pemadaman terkendala akses medan yang sulit serta sumber air yang mengering.
”Vegetasi kawasan terbakar pada umumnya adalah alang-alang. Jadi alhamdulillah sampai saat ini hutan primer maupun hutan sekunder kita belum ada yang terbakar,” kata Zaidi saat memaparkan kondisi lapangan dalam Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Bencana Karhutla Provinsi Lampung di Ruang Pusdalops BPBD Lampung, Rabu (26/8/2026).
Selain kendala geografis yang memaksa petugas menyeberangi sungai dan berjalan kaki ke titik api, Kaba TNWK menyoroti keterbatasan personel serta alat pelindung diri (APD) dan armada pemadam.
Dari luasan kawasan yang mencapai 125.000 hektar, TNWK hanya ditopang 44 personel polisi kehutanan dan 17 personel Manggala Agni. Kondisi peralatan pun mayoritas dalam keadaan rusak. Dari tujuh mesin pompa air yang dimiliki, hanya dua unit yang berfungsi baik, dan lima kendaraan roda empat hanya tiga unit yang dapat dioperasikan.
”Kita punya 44 personel polhut untuk luasan 125.000 hektar. Yang kita punya 17 personel Manggala Agni. Nah ini juga dengan peralatan seadanya, dan APD-nya juga kurang memadai,” ujar Zaidi menegaskan.
Masalah sosial seperti perburuan liar dengan modus pembakaran vegetasi bawah serta perambahan rumput pakan ternak turut disinyalir menjadi pemicu kebakaran di kawasan TNWK.
Untuk itu, pihak Balai TNWK bersama TNI-Polri mengintensifkan patroli deteksi dini, penegakan hukum, serta sosialisasi pencegahan pembakaran lahan di sekitar perbatasan kawasan.
Menanggapi situasi darurat tersebut, Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela meminta BPBD Provinsi Lampung bersama seluruh instansi terkait untuk segera menyusun pemetaan komprehensif yang mengintegrasikan zona merah karhutla dengan posisi personel, ketersediaan alat, dan jalur pasokan air terdekat. Pemetaan ini bertujuan agar pengerahan armada dapat dilakukan secara presisi begitu titik panas terdeteksi.
”Mulai dari hari ini untuk setiap zona merah, kita harus ketahui jalur masuk airnya, jalur alternatifnya, kemudian titik kumpulnya, sumber air terdekat, dan kendaraan yang bisa digunakan untuk lokus-lokus tersebut. Jangan ketika api muncul kita bingung cari air di mana,” tegas Wagub Jihan.
Jihan menguraikan bahwa kemampuan fire suppression atau pemadaman saat api berkobar di Lampung sejauh ini sudah cukup cepat. Namun, efektivitas mitigasi sebelum api muncul (fire prevention) merupakan kunci utama untuk meminimalkan dampak kerugian lingkungan dan kerusakan ekosistem.
”Sebetulnya kita mempunyai respons fire suppression. Fire suppression-nya itu masih lebih baik daripada fire prevention. Artinya bagaimana kita menangani kebakaran pada saat titik api sudah muncul itu sebetulnya kita sudah bisa menangani dengan respons yang cukup cepat, tetapi bagaimana penanggulangan atau mitigasi sebelum titik api itu muncul, ini yang perlu kita kuatkan sama-sama,” ucap Jihan.
Berdasarkan data BPBD Provinsi Lampung, puncak kemarau diproyeksikan berlangsung hingga Oktober 2026, khususnya di wilayah utara, timur, dan tengah Lampung. Hingga 25 Agustus 2026, terdeteksi 194 titik panas di Lampung dengan total luas lahan terbakar mencapai sekitar 4.800 hektar.
Guna menanggulangi ancaman yang kian meluas, Pemprov Lampung mengoptimalkan penanganan udara melalui dukungan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dari BNPB serta pengerahan dua helikopter water bombing di Bandara Radin Inten II untuk membasahi area rawan, termasuk pendinginan di kawasan Taman Nasional Way Kambas. (*)










Komentar