Harianpilar.com,Bandarlampung – Ekonomi masyarakat dinilai menghadapi tekanan yang berat. Indikatornya terlihat dari menurunnya tabungan, meningkatnya pembiayaan gadai barang, serta menguatnya utang konsumtif masyarakat. Dalam arti lain, daya beli masyarakat saat ini terjadi karena hutang
Akademisi dan pengamat ekonomi Andi Desfiandi Alfian menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa konsumsi masyarakat yang masih terlihat terjaga belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan daya beli yang sebenarnya.
Andi menyoroti sejumlah indikator ekonomi yang menunjukkan tekanan tersebut. Salah satunya laporan mengenai rata-rata nominal tabungan masyarakat yang disebut hanya sekitar Rp1,7 juta.
Di sisi lain, pembiayaan gadai barang juga disebut mengalami peningkatan signifikan, sementara utang konsumtif masyarakat terus meroket.
“Tiga indikator ini saja sudah bisa mengindikasikan bahwa ekonomi kita sudah mengalami tekanan yang cukup berat. Daya beli atau konsumsi masyarakat yang masih terjaga adalah semu karena dibiayai oleh tabungan dan pinjaman konsumtif,” ujar Andi, Selasa (25/8/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah karena konsumsi yang ditopang tabungan dan utang tidak dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Andi mengingatkan pemerintah agar tidak mengambil langkah yang justru semakin menekan daya beli masyarakat, terutama melalui kebijakan perpajakan yang terlalu agresif.
“Akan sangat tidak logis apabila kemudian pemerintah memaksakan meningkatkan pendapatan negara melalui pajak yang mencekik,” tegasnya.
Ia mendorong pemerintah segera melakukan deregulasi moneter dan fiskal yang tepat dan cepat untuk menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif sekaligus menjaga daya beli masyarakat.
Menurutnya, belanja modal pemerintah juga harus dipastikan benar-benar produktif dan memberikan multiplier effect bagi perekonomian.
“Belanja modal pemerintah harus dipastikan memiliki dampak multiplier dan produktif. Kepercayaan investor, baik domestik maupun internasional, harus segera dipulihkan,” katanya.
Andi juga menyoroti meningkatnya pinjaman pemerintah. Menurutnya, tekanan terhadap penerimaan dan kebutuhan belanja negara dapat mendorong pemerintah menjadikan utang sebagai salah satu jalan keluar untuk menjaga anggaran.
“Maka tidak usah heran kalau kemudian pinjaman pemerintah melonjak tajam, karena hanya itu jalan keluar tercepat untuk menyelamatkan anggaran belanja negara. Semoga pengelolaan keuangan negara bisa lebih prudent,” ujarnya.
Ia berharap Indonesia mampu menghadapi tekanan ekonomi global maupun domestik dengan kebijakan yang tepat, sehingga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat tetap terjaga.
“Semoga Indonesia akan tetap baik-baik saja di tengah tekanan ekonomi global dan tekanan ekonomi domestik,” pungkasnya. (*)










Komentar