oleh

Tiang Gantung

​Ini sangat menggelikan. Benar-benar menggelikan.

​Saya baru saja menonton rekaman video lama. Isinya pernyataan Bupati Kuantan Singingi (Kuansing), Suhardiman Amby.

Video itu kembali viral. Setelah sang Bupati resmi jadi tersangka KPK.

​Momennya terjadi saat debat Pilkada 2024 lalu. Di atas mimbar, Suhardiman Amby tampil heroik. Ia meminta aparat menyiapkan tiga tiang gantung untuk koruptor.

​”Jika masih ada korupsi, aparat penegak hukum silakan siapkan tiga tiang gantung. Satu untuk pelaku, satu untuk ayahnya, dan satu untuk pihak yang terlibat,” ujarnya.

Targetnya jelas. Menjaring simpati pemilih. Tapi dia lupa. Ucapan adalah doa. Dan doa itu diaminkan oleh jutaan rakyat yang mendengar.

Suhardiman mungkin kaget sendiri. Kenapa ucapan seberani itu bisa meluncur dari mulutnya.

Mungkin dia terinspirasi dari Zhu Rongji. Perdana Menteri RRC tahun 1998. Sang pembabat koruptor.

​Memang ada pernyataan Zhu yang sangat legendaris. “Siapkan 100 peti mati. 99 untuk koruptor, satu untuk saya jika saya korupsi.”

Tapi Zhu tidak sekadar membual. Ucapannya adalah tindakan. Konsistensi dan komitmennya dalam memerangi korupsi teruji.

Saat berkuasa dia tidak pernah pandang bulu. Semua koruptor benar-benar dikirimnya peti mati.

Termasuk kolega dekatnya sendiri, Hu Chang qing. Benar-benat dikirimi peti mati. Bukan basa-basi, apa lagi bualan.

​Hu Chang qing terbukti menerima suap. Berupa mobil dan permata senilai Rp5 miliar.

Eksekusinya juga luar biasa cepat. Hanya 24 jam setelah kasasinya ditolak Mahkamah Agung di Beijing.

Selama masa jabatannya, ekonomi Tiongkok mengalami pertumbuhan dua digit.

​Lantas, bagaimana dengan Suhardiman Amby? Di sini letak lucu dan gelinya.

​Suhardiman justru seperti menggali kuburnya sendiri. KPK mencokoknya. Ia diduga terlibat suap jual beli jabatan. Plus gratifikasi mobil mewah senilai Rp2 miliar dari tersangka Zulkarnain. Tujuannya untuk mengisi kursi Sekretaris Daerah.

​Sekarang, ruang kerja Bupati Kuansing itu sudah disegel. Suhardiman juga sudah pakai rompi oranye. Menjadi tahanan.

​Keheroikan mulutnya kalah oleh syahwat kekuasaan. Ucapan dan tindakannya, berbanding terbalik.

​Ini pelajaran mahal. Bagi siapa saja. Ucapan, tampilan, dan sikap harus selaras dengan tindakan dan prilaku. Kemunafikan selalu membawa kehancuran di kemudian hari. Itu sudah hukum alam.

​Publik kini menunggu. Setelah putusan inkrah nanti, akankah Suhardiman menyiapkan tiga tiang gantung itu? Untuk dirinya dan para kroni. Atau dia akan kembali membual? Wallahu a’lam bish-shawab. (*)

Komentar