oleh

Peminat SMA Favorit di Lampung Melonjak 91 Persen

Harianpilar.com, Bandarlampung- Persaingan masuk SMA unggulan di Provinsi Lampung kian ketat. Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 mencatat lonjakan peminat hingga hampir 91 persen dibanding tahun sebelumnya. Fenomena ini dinilai menjadi sinyal meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan berkualitas.

Pengamat pendidikan sekaligus dosen Pendidikan Bahasa Inggris, Mutiara Ayu, S.Pd., M.Pd, menilai tingginya minat masyarakat terhadap SMA unggulan menunjukkan semakin besarnya kepercayaan publik terhadap sekolah yang memiliki reputasi akademik baik dan peluang lebih besar dalam melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

“Lonjakan jumlah pendaftar SMA unggulan di Provinsi Lampung merupakan sinyal positif bahwa kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan berkualitas semakin meningkat,” ujar Mutiara Ayu, baru-baru ini.

Data SPMB menunjukkan jumlah peserta terverifikasi pada SMA unggulan tahun 2026 mencapai 21.567 siswa, naik drastis dibanding tahun 2025 yang hanya 11.302 pendaftar. Namun, daya tampung yang tersedia hanya 12.384 kursi, sehingga lebih dari 12 ribu calon siswa harus tersingkir dalam proses seleksi.

Kondisi tersebut membuat persaingan masuk sekolah favorit semakin sengit. Di Kota Bandar Lampung, SMAN 5 Bandar Lampung menjadi sekolah dengan peminat tertinggi. Sebanyak 1.498 peserta terverifikasi memperebutkan hanya 360 kursi yang tersedia. Disusul SMAN 9 Bandar Lampung dengan 1.294 peserta terverifikasi untuk 396 kursi, serta SMAN 2 Bandar Lampung yang menerima 1.255 peserta terverifikasi dengan daya tampung serupa.

Tak hanya di ibu kota provinsi, ledakan peminat juga terjadi di berbagai daerah. SMAN 1 Natar di Lampung Selatan, SMAN 1 Kota Gajah di Lampung Tengah, hingga SMAN 1 Gadingrejo dan SMAN 1 Pringsewu turut mencatat jumlah pendaftar yang jauh melampaui kapasitas sekolah.

Meski mengapresiasi tingginya animo masyarakat, Mutiara Ayu mengingatkan bahwa fenomena tersebut sekaligus menjadi indikator masih adanya kesenjangan persepsi maupun kualitas antar sekolah.

“Ketika sebagian sekolah menerima pendaftar jauh melebihi daya tampung, sementara sekolah lain belum menjadi pilihan utama masyarakat, maka diperlukan upaya pemerataan mutu pendidikan. Setiap sekolah seharusnya mampu mengembangkan potensi peserta didik secara optimal,” tegasnya.

Menurutnya, perubahan sistem penerimaan peserta didik yang lebih menitikberatkan pada prestasi akademik turut mendorong meningkatnya kompetisi di kalangan siswa. Namun, kebijakan tersebut tetap perlu dievaluasi secara berkala agar prinsip keadilan dan kesempatan yang setara dapat terjaga.

Mutiara Ayu menambahkan, tantangan pemerintah daerah ke depan bukan hanya menambah daya tampung sekolah unggulan, tetapi juga memperkuat kualitas pembelajaran, sarana-prasarana, dan kompetensi tenaga pendidik di seluruh SMA.

“Keberhasilan sistem pendidikan tidak diukur dari ketatnya persaingan masuk sekolah unggulan, melainkan dari sejauh mana seluruh sekolah mampu memberikan layanan pendidikan yang bermutu dan merata bagi semua peserta didik,” pungkasnya. (Ramona)

Komentar