Harianpilar, com. Bandarlampung – Pemerintah Provinsi Lampung menegaskan komitmennya mengembangkan kakao berbasis agroforestri sebagai model hilirisasi berkelanjutan yang menyatukan kepentingan ekonomi petani dan kelestarian hutan.
Komitmen tersebut mengemuka dalam diskusi lanjutan antara Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela, PT Olam Indonesia, serta tim Partnership for Forests (P4F) dari Pemerintah Inggris, yang digelar di Bandar Lampung, Selasa (27/1).
Pertemuan ini merupakan tindak lanjut kerja sama pengembangan komoditas kehutanan sosial, setelah sebelumnya dilakukan kunjungan lapangan hilirisasi kakao di Kabupaten Lampung Timur, Pesawaran, Lampung Tengah, dan Tanggamus. Kunjungan tersebut bertujuan memetakan potensi kakao petani perhutanan sosial untuk masuk dalam skema hilirisasi berbasis agroforestri.
Wakil Gubernur Jihan Nurlela mengatakan, kerja sama Pemprov Lampung dengan PT Olam memiliki landasan kuat melalui nota kesepahaman dan perjanjian kerja sama yang telah disepakati.
“Kami membersamai PT Olam yang melakukan site visit di beberapa daerah yang sudah disepakati dalam MoU, termasuk Pesawaran dan Lampung Timur, terkait kerja sama hilirisasi kakao,” ujar Jihan.
Ia menambahkan, hasil observasi menunjukkan kualitas kakao petani Lampung dinilai baik dan proyek ini mendapat respons positif dari seluruh pemangku kepentingan.
Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung menegaskan bahwa kerja sama dengan PT Olam sejalan dengan arah kebijakan Gubernur Lampung dalam meningkatkan kesejahteraan petani perhutanan sosial.
“Banyak petani perhutanan sosial membudidayakan kakao. PT Olam tertarik pada komoditas ini dan akan ikut membina petani sekaligus mengembangkan hilirisasi kakao,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan agroforestri menjadi solusi strategis karena mendorong peralihan dari sistem monokultur menuju pengelolaan hutan yang lebih berkelanjutan, tanpa mengorbankan nilai ekonomi.
Direktur PT Olam Food Ingredients (OFI) Indonesia Imam Suharto menyampaikan, pendampingan kakao berbasis agroforestri telah dijalankan pihaknya sejak 2015 dan terbukti berhasil.
“Kami menemukan visi yang sama dengan Pemerintah Provinsi Lampung untuk mengembangkan kakao agroforestri dan multi komoditas di kawasan perhutanan sosial,” kata Imam.
Proyek ini direncanakan mencakup sekitar 35.000 hektare lahan perhutanan sosial dan melibatkan 18.000 petani di empat kabupaten. Program tersebut juga mendapat perhatian Pemerintah Inggris melalui FCDO dan diproyeksikan menjadi percontohan global.
PT Olam menargetkan implementasi program dimulai paling lambat Maret 2026, setelah seluruh tahapan persiapan dan kesepakatan teknis dirampungkan bersama Pemerintah Provinsi Lampung. (Ramona)









