Harianpilar.com, Bandarlampung – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung mengingatkan para ahli gizi di Sentra Penyediaan Pangan Gizi (SPPG) dan Sentra Penyediaan Pangan Indonesia (SPPI) untuk lebih ketat mengawasi bahan makanan dalam program MBG.
Hal itu buntut kasus keracunan massal yang menimpa 247 siswa SDN 2 Sukabumi, SDN Campang Raya dan SMPN 31 di Kota Bandarlampung, Jumat (29/8). Apalagi ternyata 40 siswa di SMP Al Islah Kecamatan Mataram Baru, Lampung Timur juga mengalami keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 26 Agustus 2025.
“Setiap SPPG ada ahli gizi, jadi ahli gizi ini harus fokus melaksanakan tugasnya dengan baik. Semua distribusi atau bahan baku harus benar-benar dicek, betul-betul fresh dan higienis. Kalau tidak fresh, maka berpengaruh dengan kualitas makanannya,” kata Kepala Disdikbud Lampung, Thomas Amirico, Senin (8/9)
Thomas juga menekankan pentingnya pengolahan sayuran agar tetap segar saat didistribusikan.”Bagi makanan yang sayuran, harapan kami dibuat di akhir, jangan di awal. Sehingga pada saat distribusi masih segar dan fresh. Persoalannya, apakah ahli gizinya benar-benar memastikan bahan baku higienis maupun fresh,” jelasnya.
Ia berharap pihak sekolah maupun wali murid turut melapor jika ada temuan terkait kualitas makanan.“Saya berharap sekolah dan wali juga menginformasikan kepada kami kalau memang ada temuan. Supaya kami bisa memberikan rekomendasi kepada SPPG maupun Badan Gizi Nasional agar kasus keracunan tidak terulang di seluruh wilayah Provinsi Lampung,” tegasnya.
Sejauh ini program MBG sudah menjangkau hampir seluruh SMA di Lampung dengan lebih dari 150 dapur yang beroperasi. Namun pengawasan tetap akan diperketat.
Kasus terakhir terjadi di SMKN 5 Bandar Lampung pada 29 Agustus 2025 di mana 30 siswa sempat mengalami keracunan. “Siswa yang keracunan juga mendapatkan kompensasi Rp500 ribu per siswa dari SPPG penyedianya,” ungkap Thomas.









