oleh

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen, Lampung Jadi Penopang di Sumatra

Harianpilar.com, Bandar Lampung — Perekonomian Indonesia pada triwulan I 2026 menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan mencapai 5,61 persen (year-on-year/yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 5,39 persen (yoy). Data ini mencerminkan penguatan aktivitas ekonomi nasional di awal tahun.

Di tingkat regional, Provinsi Lampung turut mencatat kinerja impresif. Ekonomi Lampung tumbuh 5,58 persen (yoy), naik dari 5,54 persen (yoy) pada triwulan sebelumnya. Capaian ini menempatkan Lampung sebagai salah satu kontributor utama pertumbuhan ekonomi di Pulau Sumatra, dengan kontribusi sekitar 10,18 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Bimo Epyanto, mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Lampung ditopang oleh kuatnya permintaan domestik dan kinerja sektor unggulan daerah.

“Pertumbuhan ekonomi Lampung tetap terjaga dan bahkan meningkat. Hal ini didorong oleh konsumsi rumah tangga yang kuat, belanja pemerintah, serta kinerja sektor pertanian yang sedang memasuki masa panen,” ujar Bimo.

Secara nasional, pertumbuhan ekonomi didorong oleh beberapa faktor utama. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52 persen (yoy), meningkat seiring momentum libur panjang, Ramadan, dan Idulfitri. Investasi juga menguat dengan pertumbuhan 5,96 persen (yoy), didorong proyek strategis nasional.
Sementara itu, konsumsi pemerintah melonjak signifikan hingga 21,81 persen (yoy), dipicu oleh realisasi belanja negara. Aktivitas lembaga non-profit yang melayani rumah tangga (LNPRT) juga tumbuh 6,28 persen (yoy). Namun, kinerja ekspor relatif melambat dengan pertumbuhan 0,90 persen (yoy).

Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi Lampung terutama ditopang sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang tumbuh 9,89 persen (yoy), seiring panen raya padi. Sektor perdagangan juga mencatat pertumbuhan 6,91 persen (yoy), didukung peningkatan konsumsi masyarakat.
Di sisi lain, beberapa sektor seperti industri pengolahan dan konstruksi mengalami kontraksi masing-masing sebesar 3,28 persen (yoy) dan 4,58 persen (yoy). Meski demikian, sektor akomodasi dan makan minum tumbuh kuat hingga 12,43 persen (yoy), mencerminkan meningkatnya mobilitas dan aktivitas wisata.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga di Lampung tumbuh 5,54 persen (yoy), sementara konsumsi pemerintah meningkat signifikan sebesar 13,84 persen (yoy). LNPRT juga tumbuh 9,11 persen (yoy).

Namun, investasi (PMTB) mengalami kontraksi 4,39 persen (yoy), dan sektor eksternal menunjukkan perlambatan, dengan ekspor tumbuh 0,75 persen (yoy) serta impor terkontraksi 1,15 persen (yoy).

Bimo menambahkan, meskipun terdapat tantangan dari sisi eksternal, daya tahan ekonomi Lampung masih cukup kuat.

“Kami melihat optimisme masyarakat tetap tinggi, tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen yang berada pada level optimis. Ini menjadi modal penting untuk menjaga pertumbuhan ke depan,” jelasnya.

Optimisme masyarakat Lampung tetap terjaga. Indeks Keyakinan Konsumen berada di level 120,33, mencerminkan persepsi positif terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ke depan.

Selain itu, indeks penjualan ritel meningkat menjadi 240,84, menunjukkan penguatan daya beli masyarakat.
Penyaluran kredit juga tetap tumbuh positif, terutama pada sektor investasi, dengan risiko kredit yang masih terjaga dalam batas aman.

Dengan kombinasi konsumsi domestik yang kuat, peningkatan belanja pemerintah, serta stabilnya keyakinan konsumen, pertumbuhan ekonomi Lampung dan nasional diperkirakan tetap solid ke depan.

Tantangan utama masih berasal dari perlambatan ekspor dan dinamika global yang dapat memengaruhi kinerja perdagangan.
“Kami akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tutup Bimo.
Secara keseluruhan, sinergi antara kebijakan pemerintah dan aktivitas ekonomi masyarakat menjadi kunci menjaga momentum pertumbuhan di tahun 2026. (Ramona).

Komentar