Harianpilar.com, Bandarlampung – Provinsi Lampung dengan salah satu basis ekonomi adalah sub sektor perkebunan, diharapkan sektor ini mampu menyerap tenaga kerja (Naker) lebih dari 3,6 juta tenaga kerja. Sedangkan dalam bidang perkebunan, Provinsi Lampung memiliki tujuh komoditas unggulan, yaitu lada, kopi, tebu, sawit, karet, kelapa, dan kakao.
Asisten Bidang Ekonomi Pembangunan Pemerintah Propinsi Lampung Adeham, mengatakan, sebagaimana yang telah tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2015-2019, bahwa Kementerian Perdagangan telah menargetkan untuk meningkatkan ekspor hingga 3 kali lipat dan penambahan jumlah pasar hingga sebanyak 5.000 pasar hingga Tahun 2019.
“Hal ini terlihat dari kontribusi yang mencapai 61,89 % dari nilai ekspor Provinsi Lampung, basis ekonomi provinsi Lampung adalah sub sektor perkebunan, diharapkan sektor ini mampu menyerap tenaga kerja lebih dari 3,6 juta tenaga kerja,” jelasnya dalam membuka acara Musrenbang Perdagangan, yang dihadiri oleh perwakilan dari seluruh Dinas Perdagangan Kabupaten/Kota di Propinsi Lampung, di Balai keratun Kamis (11/3/2015).
Dipaparkannya, selama Kurun waktu 2011-2014, Provinsi Lampung telah menerima DAK Sarana Perdagangan sebesar Rp106,05 miliar untuk Pembangunan Pasar, Gudang SRG (Sistem Resi Gudang) dan Metrologi Legal di 14 Kabupaten/Kota se-Provinsi Lampung. Pada Tahun 2014, Provinsi Lampung telah menerima DAK Sarana Perdagangan sebesar Rp18,55 Miliar Rupiah untuk pembangunan pasar sebesar 12,74 Milyar Rupiah pada 8 kabupaten dan Gudang SRG sebesar 5,81 Milyar Rupiah (1 unit Gudang SRG di Kabupaten Lampung Selatan) melengkapi 6 Gudang SRG lainnya yang telah dibangun di 6 kabupaten.
DAK tersebut telah mengalami peningkatan pada Tahun 2015.
Sedangkan berdasarkan Statistik Perkebunan Tahun 2014 (angka Sementara) dari 7 (tujuh) komoditas tersebut, Produksi Perkebunan Lampung memberikan kontribusi cukup penting secara nasional, yaitu tebu/gula sebanyak 29,03 %, kopi robusta sebanyak 18,80 % dan lada hitam sebanyak 27,81%.
Nilai ekspor Provinsi Lampung pada Bulan Januari 2015 mencapai US$ 275,6 juta kontribusi terbesar dari nilai ekspor tersebut adalah CPO sebanyak 39,29% dan kopi, teh dan rempah-rempah sebanyak 16,42%.
” Selama ini Kondisi secara umum produktivitas perkebunan rakyat masih rendah bila dibandingkan dengan produktivitas perkebunan swasta dan PBN, ini disebabkan beberapa hal, diantaranya faktor rendahnya penggunaan bibit unggul, rendahnya kemampuan pekebun dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman, keterbatasan modal, rendahnya penguasaan teknologi dan terbatasnya pengolahan hasil perkebunan. Produktivitas yang rendah secara umum berdampak pada rendahnya pendapatan perkebun,” jelasnya. (Fitri/JJ).









