Harianpilar.com, Bandarlampung – Calon Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal berjanji akan membawa perubahan yang besar dalam tata laksana pemerintahan dan birokrasi. Calon gubernur nomor urut 02 ini akan membuat pemerintahan yang melayani dan membuka ruang dialog terbuka dengan rakyat.
Hal ini disampaikannya dalam debat publik kedua pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung yang berlangsung di Hotel Novotel, Sabtu (2/10) malam.
Dalam sesi penyampaian visi, Mirza membuka pernyataannya dengan tegas bahwa pemerintah harus berperan sebagai pelayan rakyat, bukan sekadar pemegang kekuasaan. “Bagi kami Mirza-Jihan, pemerintah harus melayani rakyat dengan sepenuh hati. Pemerintah harus menjamin kepastian hukum, memberikan pelayanan publik yang prima, memperkuat sinergi dengan pemerintah pusat, kabupaten-kota, TNI-POLRI, serta membuka dialog yang terbuka dengan masyarakat,” ujar Mirza.
Mirza juga menyoroti pentingnya reformasi birokrasi. Ia menyatakan dukungannya terhadap arahan Presiden Prabowo untuk menyederhanakan birokrasi agar lebih melayani masyarakat. “Presiden Prabowo mengatakan bahwa pemerintah tidak boleh membuat birokrasi yang ribet. Harus beri pelayanan terbaik untuk rakyat kita. Kami mendukung penuh pernyataan ini dan siap mewujudkan birokrasi yang berintegritas,” tegas Mirza.
Selain itu, Mirza memberikan perhatian khusus pada peran Aparatur Sipil Negara (ASN) di Lampung. Ia menyebutkan bahwa dengan jumlah ASN lebih dari 100 ribu orang di provinsi ini, ASN harus menjadi teladan dalam melayani dan mengabdi pada masyarakat. “ASN adalah profesi yang mulia dan harus mencerminkan teladan yang baik dalam masyarakat. Semangat mengabdi dengan tulus adalah dasar yang kami pegang,” tambahnya.
Dalam sesi lainnya, Mirza juga menegaskan komitmennya untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh lapisan masyarakat di Lampung. Mirza dan Jihan berjanji akan menjamin kesempatan yang setara dalam pemenuhan hak dasar, tanpa diskriminasi, bagi seluruh kelompok masyarakat termasuk perempuan, anak, penyandang disabilitas, lansia, dan kelompok rentan lainnya.”Bagi kami, keadilan sosial adalah hak setiap masyarakat, dan kami bertekad untuk memperjuangkannya di Lampung,” ujar Mirza.
Ia juga menyebutkan pentingnya keberagaman budaya di Lampung, yang menjadi rumah bagi banyak suku. “Lampung adalah tempat di mana berbagai suku hidup dalam harmoni. Kami, Mirza-Jihan, siap memperkuat dan memajukan nilai-nilai budaya yang ada di sini untuk menjaga identitas dan kearifan lokal masyarakat Lampung,” jelasnya.
Sementara, dr. Jihan Nurlela, calon Wakil Gubernur Lampung, menyampaikan pesan bersejarah dan penting bagi kemajuan Provinsi Lampung. Jihan menyoroti sejarah berdirinya Provinsi Lampung pada 18 Maret 1964, yang telah berdiri selama 60 tahun dengan tujuan memberikan kesejahteraan, kemakmuran, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya. “Lampung didirikan sebagai tanah yang menyatukan kita semua, dengan hak yang sama bagi setiap warga tanpa memandang latar belakang suku atau agama,” ungkap Jihan.
Ia menegaskan bahwa Lampung memiliki potensi besar, mulai dari kekayaan sumber daya alam hingga seni dan budaya yang kuat, yang semuanya dapat dikelola untuk kemakmuran rakyat. “Lampung adalah tanah yang diberkati Tuhan dengan kekayaan alam dan budaya yang harus kita kelola untuk kemajuan bersama,” tambahnya.
Di tengah suasana debat, Jihan mengajak seluruh masyarakat untuk bersatu padu dalam membangun Lampung yang lebih maju. Bersama Mirza, ia mengusung semangat kepemimpinan yang kolaboratif, dengan mengoptimalkan potensi daerah dan kearifan lokal. “Pada momen Pilkada ini, kami mengajak semua pihak untuk menyatukan tekad dan menghadirkan semangat kebersamaan. Kami ingin menghadirkan kepemimpinan yang bisa mengorkestrasikan seluruh potensi Lampung,” serunya.
Sebagai sosok yang peduli terhadap budaya lokal, Jihan menyebut pentingnya memegang teguh nilai Sakai Sambayan dan prinsip Piil Pesenggiri, nilai-nilai budaya yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Lampung.
Jihan juga menekankan peran seorang pemimpin yang tidak hanya memimpin, tetapi juga mengayomi dan menjadi teladan bagi masyarakat. Ia mengutip nilai “pamong,” yang merupakan panggilan hidup untuk melindungi dan mengayomi. “Nama-nama besar seperti Amir Hamzah Djausal, Zainal Abidin Pagaralam, Yasir Hadibroto, dan Abdoel Moeloek adalah teladan dari Provinsi Lampung yang menginspirasi kami untuk melayani masyarakat dengan sepenuh hati,” ucapnya.(*)









