oleh

Gubernur Sebut Kualitas Kesehatan Belum Optimal

Harianpilar.com, Bandarlampung – Gubernur Lampung Arinal Djunaidi menilai, kualitas kesehatan baik secara nasional maupun di daerah belum optimal. Untuk itu, diperlukan penggalakan pembangunan kesehatan secara sistematis dan berkesinambungan.

Hal ini disampaikan gubernur saat membuka acara Pertemuan Nasional Ilmiah Tahunan Himpunan Obstetri dan Ginekologi Sosial (PIT HOGSI) XV, di Ballroom Hotel Novotel, Bandarlampung, Senin (16/10).

“Saya melihat kualitas kesehatan saat ini belum optimal. Pembangunan kesehatan dilaksanakan secara sistematis dan berkesinambungan perlu digalakkan. Pembangunan kesehatan tersebut harus diupayakan oleh seluruh potensi bangsa Indonesia, baik masyarakat, swasta maupun pemerintah pusat dan daerah,” kata gubernur.

Diungkapkan gubernur, pada tahun 2045 Indonesia akan masuk pada usia emas. Di saat itulah, Indonesia diharapkan bisa menjadi negara dengan pendapatan tinggi setara negara maju.

Bonus demografi bisa dicapai secara optimal, akan tetapi, capaian dari cita-cita tersebut hanya bisa didapatkan jika sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki Indonesia berkualitas dan berdaya saing. Hal itu termasuk kualitas dari status kesehatan setiap individu di masyarakat.

Dalam mendorong pelayanan kesehatan kepada masyarakat, gubernur telah melaunching Program Warung Sehat.

Program ini merupakan inovasi dalam rangka penurunan angka stunting, pemberian layanan kesehatan dan penyediaan produk kesehatan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan obat, vitamin, dan lainnya bagi masyarakat di desa. Program tersebut bekerjasama dengan PT. Kimia Farma Apotek.

Tak hanya itu, kedepan Gubernur Arinal juga akan membangun Rumah Sakit berstandar Internasional.

Gubernur juga menyampaikan keberhasilan pembangunan dapat dilihat dari derajat kesehatan masyarakat.

Dalam hal ini terdapat beberapa indikator untuk menilai derajat kesehatan masyarakat, khususnya indikator kesehatan ibu dan anak, yaitu angka kematian ibu dan anak, usia harapan hidup, jumlah cakupan pelayanan kesehatan dan lain-lain.

Hal ini selaras dengan tema yang diusung pada hari ini, yaitu kecepatan penurunan angka kematian ibu dan stunting di Provinsi Lampung.

Provinsi Lampung telah mengerahkan  berbagai  upaya  melalui program Lampung Ramah Perempuan dan Anak dan terus memperluas adanya desa ramah perempuan dan peduli anak di daerah itu untuk mendukung pemberdayaan perempuan.

“Pada tahun 2023 Provinsi Lampung memiliki 30 desa percontohan ramah perempuan dan perlindungan anak. Alhamdulillah, terkait penanganan stunting yang juga menjadi pembahasan pada pertemuan ini, pencapaian prevalensi stunting pada balita di Provinsi Lampung sejak Tahun 2018 sampai dengan Tahun 2022 menunjukkan tren yang positif,” jelasnya.

Ia mengurai, jika dari 27,28% di Tahun 2016, menjadi 18,5% di Tahun 2021, dan 15,2% di Tahun 2022. Pencapaian di Tahun 2022 ini menempati peringkat ke-3 provinsi dengan stunting terendah se-Indonesia.

“Hal ini tentu akan menjadi kebanggaan bagi Provinsi Lampung, namun pencapaian ini jangan membuat kita cepat berpuas diri, masih ada target 14 persen yang perlu kita pastikan untuk kita capai di tahun 2024,” tambahnya. (*).