Harianpilar.com, Bandarlampung – Dibalik tragedi tertangkapnya Rektor Universitas Lampung (Unila) Prof.Karomani Cs oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait dugaan suap penerimaan mahasiswa baru Fakultas Kedokteran (FK), terdapat sejarah perjuangan pendirian FK yang penuh liku dan pengorbanan banyak pihak.
Mantan Rektor Universitas Lampung (Unila) Prof.Muhajir Utomo mengaku prihatin atas operasi tangkap tangan (OTT) itu. Menurutnya, hal itu tak perlu terjadi jika semua pihak menjaga integritas dan marwah kampus sebagai benteng akhir penjaga moral.
Guru besar pertanian ini bercerita, FK Unila didirikan karena Lampung mengalami kekurangan dokter, sehingga muncul wacana dan gagasan agar Unila mendirikan FK guna memenuhi kebutuhan daerah atas tenaga kesehatan yang mumpuni dan handal.
“FK Unila resmi berdiri tahun 2002. Saat itu saya sebagai Rektor Unila, keliling mengajak semua pihak mendukung pendirian FK Unila. Semua kepala daerah bupati/walikota berperan. Mulai dari Pak Zulkifli Anwar Bupati Lamsel saat itu, hingga pak Oemarsono Gubernur Lampung saat itu berperan,” ujarnya pada Harian Pilar, Senin (22/8).
Menurutnya, Fakultas Kedokteran Unila didirikan atas persetujuan Menteri Kesehatan saat itu dan di dukung Gubernur dan DPRD Lampung serta para kepala daerah kabupaten/kota saat itu. “Beberapa gedung FK Unila yang dibangun saat awal, itu atas sumbangan dari Pemprov dan Pemda kabupaten/kota saat itu. Karena semua berharap Unila memiliki FK dan bisa memenuhi kebutuhan daerah akan dokter,” tuturnya.
FK Unila, lanjutnya, menjadi Fakultas favorite dan untuk masuk FK Unila harus melalui seleksi yang ketat.”Kita sejak awal mementingkan kualitas, jadi seleksinya memang ketat. Tidak ada cara masuk FK Unila yang mudah, karena kita benar-benar menginginkan kualitas yang baik,” urainya.
Bahkan, meski Pemda kabupaten/kota memiliki kuota untuk mengirimkan pelajar terbaiknya masuk FK Unila tetap harus melalui seleksi yang ketat.”Karena tujuannya memenuhi kebutuhan dokter di kabupaten/kota, Pemda punya kuota untuk pelajar terbaiknya masuk FK Unila, tapi itu tetap harus melalui seleksi yang ketat,” tandasnya.
Rektor Unila dua periode ini mengatakan, penerimaan mahasiswa baru dalam universitas itu harus melihat nilai-nilai integritas. Karena dengan integritas, tidak akan ada yang berani macam-macam atau bermain lewat belakang dalam penerimaan mahasiswa baru.”Karena kita yakin betul, melalui rekrutmen yang baik di fakultas kedokteran itu yang menjamin kedokteran itu akan bermutu,” kata dia.
Muhajir menyarankan kepada pihak Unila agar mengikuti aturan dan menjujung integritas dalam penerimaan mahasiswa baru. Agar, peristiwa seperti ini tidak terulang lagi.”Dan siapapun nanti pimpinannya, baik dari bawah sampai Rektor, mereka harus berkomitmen bahwa perguruan tinggi harus mempunyai nilai integritas,” tegasnya.
Muhajir mencontohkan, salah satu bentuk integritas kampus adalah proses penerimaan mahasiswa baru.”Jadi, implementasikan dulu disitu, baru linier ke misal proses proses pembelajaran harus menjujung tinggi nilai-niai integritas. “Kalau ini diabaikan bisa habis babak belur kita semua,” pungkasnya.(*)









