Harianpilar.com, Tanggamus – Satu persatu kebobrokan pelaksanaan proyek-proyek milik Dinas Pendidikan (Disdik) Tanggamus terbongkar. Setelah sejumlah proyek terungkap adanya indikasi penyimpangan, kini kembali ditemukan proyek bernilai besar namun pengerjaannya sarat penyimpangan. Indikasi Penjarahan Anggaran?
Proyek yang diduga kuat sarat penyimpangan itu adalah proyek Rehab tiga lokal/ruang kelas SMPN 2 Sumberejo Kecamatan Sumberejo kabupaten Tanggamus senilai Rp348 juta. Dengan menghabiskan anggaran sebanyak itu, rehab hanya dilakukan dengan mengganti pintu, beberapa kusen dan sebagian plafon.
Staf Tata Usaha SMPN 2 Sumberejo, Bambang Sumatri, mengatakan, rahab dilakukan ditiga ruangan tersebut dengan mengganti pintu kelas dan beberapa kusen serta plapfon.”Ya mas tiga ruangan itu yang baru direhab. Ganti pintu, kusen dan bagian plafon,” ungkapnya.
Dari pantauan, meskipun dilakukan pengecatan namun tetap terlihat rehab yang dilakukan hanya bagian-bagian tersebut saja. Hal itu jelas mengindikasikan jika pengerjaan proyek rehab itu tidak sesuai besaran anggaran yang dihabiskan.
Indikasi penyimpangan juga kembali ditemukan pada proyek meubelair di SDN 1 Sidomulyo (3 Lokal) dan SDN 1 Margoyoso (2 lokal) Kecamatan Sumberejo Rp120 juta.Tenaga Pengajar SDN 1 Sidomulyo, Zainal, mengakui jika meubelair disekolahannya itu terindikasi menggunakan kayu racukan,”Kata yang mengatarkannya ini kayu jati,tapi saya tidak yakin kalau ini jati semua bisa di bilang kayu ini campuran. Cuma dia dia cat dan di flitur aja,” cetus Zainal yang di amini oleh Surimin yang juga guru di SD tersebut.
Sementara, Dinas Pendidikan Kabupaten Tanggamus melalui Joko Saputro ST.MM Kasi Sapras Dikdas mewaklil Kepala Disdik Tanggamus Anas Ansyori, menjelaskan jika bangunan yg berbentuk fisik masih ada masa pemeliharaan selama enam bulan.
“Itukan masih dalam masa pemeliharaan selama enam bulan jadi jika ada kekurangan atau apapun terkait masalah pengerjaannya kami akan memerintahkan untuk di perbaiki,terkait muebeler kami akan coba cek kebawa,saat ini saya blm bisa banyak komentar karna kami belum mengecek,” ujarnya singkat.
Proyek-proyek ini mendambah daftar panjang proyek milik Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Tanggamus tahun 2014 yang diduga kuat sarat penyimpangan.
Sebelumnya juga terungkap Beberapa proyek yang ditangrai bermasalah seperti Pembangunan Gedung Aula Dinas Pendidikan senilai Rp1,4 Miliar, Pengadaan Meubelair Ruang Kelas SMPN 1 Kotaagung Kecamatan Kotaagung tiga lokal senilai Rp72 juta, Pengadaan Meubelair Ruang Kelas SDN 4 Kuripan (3 lokal) dan SDN 1 Kedamaian (2 lokal) Kecamatan Kotaagung senilai Rp120 juta, dan Pengadaan Meubelair Gedung Aula Dinas Pendidikan Senilai Rp100 juta.
Proyek-proyek ini diduga kuat sarat masalah, bahkan secara kualitas sangat meragukan. Seperti proyek pembangunan Gedung Aula Disdik Tanggamus. Proyek yang menelan anggaran hingga Rp1,4 miliar ini kondisinya kini mulai mengalami retak-retak di beberapa bagian dinding. Padahal, proyek ini baru sekitar dua bulan selesai dikerjakan. Kondisi itu mengindikasikan jika pengerjaan proyek itu sarat penyimpangan, terutama dalam penggunaan material diduga tidak sesuai spesifikasi.
Kondisi lebih memprihatinkan terjadi pada proyek pengadaan meubelair. Proyek-proyek pengadaan meubelair ini diduga kuat di mark-up dan menggunakan kayu racukan. Seperti terlihat pada proyek Pengadaan Meubelair Ruang Kelas SDN 4 Kuripan (3 lokal) dan SDN 1 Kedamaian (2 lokal) Kecamatan Kotaagung senilai Rp120 juta.
Kondisi meubelir di dua sekolah itu sangat mengcewakan. Meski anggaran yang dihabiskan mencapai Rp120 juta, tapi kondisi meubelair mulai ada rusak dan kondisi meubelairnya jauh dari kesan baru, padahal baru berumur beberapa bulan. Hal itu mengindikasikan jika kayu yang digunakan merupakan kayu racukan berkualitas rendah. Kuat dugaan telah terjadi mark-up dalam pengadaan meubelair itu.
Hal serupa juga terjadi pada Pengadaan Meubelair Ruang Kelas SMPN 1 Kotaagung Kecamatan Kotaagung tiga lokal senilai Rp72 juta. Kondisi meubelair di sekolah ini juga tak jauh berbeda, diduga kuat menggunakan kayu racukan berkualitas rendah.
Kepala SDN 1 Kedamaian, Syahril, mengatakan, kayu yang digunakan untuk meubelair itu memang kayu racukan. Bahkan, lanjutnya, meski proyek ini tahun anggaran 2014 namun tanda terima meubelair itu dari kontarktor belum ada dipihaknya. “Kami belum pegang tanda terimanya sampai sekarang. Kalau kayunya mungkin jenis kayuk racuk,” cetusnya.
Hal serupa disampaikan salah satu guru SMPN 1 Kotaagung yang enggan disebutkan namanya. Menurutnya, kualitas meubelair di sekolahnya itu memang meragukan karena kayu yang digunakan racukan.”Ini jelas kayu racuk, entah akan bertahan berapa lama ini,” cetusnya sambil mewanti-wanti namanya tidak ditulis. (Imron)









