Harianpilar.com, Tanggamus – Sudah beberapa minggu terakhir ini, mendung kelabu tebal yang disertai kilatan lompatan proton, menghisasi sebagian besar wilayah Tanggamus. Tak jarang, fenomena itu disusul dengan guyuran hujan lebat berjam-jam, bahkan semalaman. Jika sudah demikian, warga yang tempat tinggalnya berada di sekitar bantaran Waytuba yang melalui Kelurahan Kuripan, selalu was-was. Betapa tidak, aliran air sungai tersebut bisa saja meluap setiap saat.
Terlebih dari hasil pantauan, Senin (2/2/2015) di sepanjang pondasi talud Waytuba, banyak yang ambrol akibat terkikis aliran air. Kondisi tersebut kontan mengancam sejumlah rumah warga yang berada di tepian sungai. Mereka terancam kehilangan beberapa bagian rumahnya yang amblas bersama tanah yang tergerus arus.
Ketua RT 20 Kelurahan Kuripan, Maratua Simarmata membenarkan keluhan warganya. Saat ini, bukan hanya talud sungai di RT-nya saja yang sudah amblas. Melainkan di RT 19, 21, 22, dan RT 23 talud sungai juga sudah tergerus aliran sungai selama musim hujan.
”Kalau talud penahan aliran sungai sudah hilang, otomatis rumah yang tadinya berdiri di bibir sungai juga pasti amblas. Kondisi seperti ini memang sudah lama terjadi dan memang perlu adanya pembangunan talud lagi di bibir sungai. Apalagi saat ini badan sungai sudah mengalami penyempitan lahan, akibat banyaknya warga yang menimbun sungai untuk membangun rumah. Dampaknya, kalau sungai meluap pasti arusnya deras,” beber pria berdarah batak itu.
Saat hujan deras, kata dia, aliran Waytuba sering meluap ke pemukiman penduduk. Lantaran, minimnya sistem pembuangan air dan daerah resapan air. Kalaupun ada, ukuran drainase sangat kecil tidak sebanding dengan intensitas derasnya air.
“Di sini kalau air Waytuba meluap, pasti pemukiman banjir dengan ketinggian air rata-rata sebetis orang dewasa. Untuk itulah kami minta Pemkab Tanggamus segera turun ke palangan untuk melihat kondisi dan fakta di lokasi,” pinta Simarmata.
Terpisah, Suriah warga Rukun Tetangga (RT) 20 pemukiman setempat mengungkapkan, sekitar dua pekan lalu air sungai Waytuba meluap dan arus menjadi sangat kencang. Saking kuatnya arus dan luapan air, lantai dapur rumahnya retak dan sudah mulai turun. Bahkan nyaris amblas ke dasar sungai. Sebab, talud penahan air sungai yang berada tepat di bagian dapur rumahnya sudah lebih dulu tergerus.
”Setiap musim penghujan, ketinggian permukaan air sungai naik, arusnya juga deras. Sedikit demi sedikit, pondasi talud penahan sungai mulai rontok. Sehingga tanah yang tadinya ditahan oleh talud, juga perlahan ikut amblas tergerus air sungai,” ungkap wanita paruh baya itu.
Jika tak segera disentuh oleh pihak terkait dari Pemkab Tanggamus, tentu keselamatan dan harta benda puluhan kepala keluarga di sepanjang bantaran sungai jadi taruhannya. Paling tidak, secepatnya warga setempat mengharapkan pembangunan atau perbaikan talud sungai oleh Pemkab Tanggamus.
”Selama ini memang belum pernah terjadi ada rumah yang hanyut terbawa air sungai. Tapi kalau kondisi seperti ini dibiarkan, ya bisa jadi mungkin suatu saat akan ada rumah warga hilang tergerus sungai. Untuk itulah kami minta Pemkab Tanggamus segera mengambil tindakan,” harap Suriah yang diamini belasan warga lainnya. (Imron/JJ).









