oleh

100 Desa di Tanggamus Masih Tertinggal

Harianpilar.com, Tanggamus – Badan Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan (Balitbang) Tanggamus akan meneliti penyebab 100 pekon yang berstatus tertinggal. Menurut Sekretaris Balitbang Muayin, mewakili Kepala Balitbang Gilas Kurniawan, untuk penelitian itu akan bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) Tanggamus, dijadwalkan terlaksana tahun ini. Sehingga tahun depan diketahui kondisi terbaru dari pekon-pekon tertinggal itu. Selanjutnya akan dirumuskan bagaimana mengatasi persoalan ketertinggalannya.

“Kami ingin mengetahui penyebab suatu pekon bisa dikatakan tertinggal, dan lembaga yang miliki kemampuan untuk penilaian seperti itu adalah BPS. Lembaga itu juga miliki patokan kriteria penilaian dan berkopeten untuk penilaian urusan statistik,” ujar Muayin, Selasa (5/9/2017).

Muayin menambahkan, dasar penelitian pekon tertinggal adalah data BPS, di sana dinyatakan ada 100 pekon tertinggal di Tanggamus. Harapannya ada validasi lagi sebab penilaian tersebut dilakukan tahun 2014. Tentu sampai sekarang ada perubahan sehingga mengurangi jumlah pekon tertinggal. Dalam hal ini penelitian balitbang memang khusus internal Pemkab Tanggamus, berbeda dengan BPS yang hasilnya bisa digunakan lintas sektoral.

“Kesimpulan sementara pekon tertinggal diakibatkan minimnya infrastruktur dan terbatasnya fasilitas pelayanan publik. Pekon tertinggal berbeda dengan pekon miskin. Sasaran balitbang adalah pekon tertinggal. Sebab dari kondisi pekon tertinggal bisa memunculkan pekon miskin. Kemudian kondisi pekon tertinggal juga jadi patokan tingkat pembangunan di pekon tersebut,” ujarnya.

Muayin menjelaskan indikator pekon tertinggal di antaranya, infrastruktur yang minim. Infrastruktur terbagi bermacam-macam mulai dari jalan, sarana pendukung produksi pertanian seperti irigasi dan lainnya. Ada tidaknya sarana pendidikan atau keterjangkauan dengan sarana pendidikan, ada tidaknya pelayanan publik seperti sarana kesehatan. Tingkat SDM warganya. Lalu ada tidaknya sarana ekonomi seperti pasar. Serta ada tidaknya jaringan listrik.

“Semua itu akan kami lihat ada atau tidak berikut kondisinya. Apabila semuanya tidak ada, kurang, atau jelek maka itu yang jadi indikator pekon tersebut dikatakan tertinggal. Sehingga ke depan segera dicarikan solusi untuk mengatasi. Seperti kalau jalannya kurang maka harus ada pembangunan jalan, begitu juga sarana lainnya,” terang Muayin.

Lebih lanjut Muayin menambahkan semestinya tidak ada lagi pekon tertinggal karena sekarang ada Dana Desa. Dari anggaran itulah pekon berusaha memperbaiki kondisinya agar tidak tertinggal.

“Terlebih Dana Desa sudah ada sejak 2015 maka semestinya kondisi pekon-pekon semakin baik, jika tidak berubah perlu dipertanyakan bagaimana pembelanjaan Dana Desanya,” tukasnya. (Agus/Mar)