oleh

Dirut PTPN VII Motivasi Mahasiswa Unila

Harianpilar.com, Bandarlampung – Sekitar 200 mahasiswa program studi D3 Fakultas Pertanian Unila mengikuti kuliah umum yang menghadirkan Direktur Utama PTPN VII Andi Wibisono menjadi pembicara utama dalam kuliah umum di Unila, Rabu (9/11/2016).

Mengawali kuliah umum, Andi menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan, tidak hanya dalam bentuk materi tetapi share keilmuan merupakan bagian dari CSR dan kami  sadar bahwa keberhasilan PTPN VII harus didukung oleh seluruh stakeholder tidak terkecuali masyarakat keilmuan atau perguruan tinggi, ujarnya.

Selain itu tujuan kegiatan dimaksudkan untuk memotivasi itu dengan mengajak seluruh anak muda agar sadar keunggulan Indonesia. Potensi perkebunan, kata dia, sangat luar biasa. “Kelapa sawit kita produsen terbesar di dunia, karet nomor dua setelah Thaliland, kakao nomor tiga setelah Pantai Gading dan Ghana, dan Kopi nomor empat di dunia,” kata dia.

Komoditas lain yang sesungguhnya menjadi keunggulan Indonesia adalah tebu atau gula putih. Indonesia berada di posisi 14 dengan produksi 2,023 juta ton, sedangkan di nomor wahid adalah Brasil yang produksinya 34 ribu ton.

“Padahal, kita butuh 3,5 juta ton lebih per tahun. Ini bukan karena kita kekurangan lahan, tetapi produktivitas dan investasi yang masih harus ditingkatkan. Ini tantangan para ilmuwan muda seperti kalian para mahasiswa untuk menemukan formula baru agar produktivitasnya meningkat,” tambah Dirut yang baru memimpin PTPN VII sejak akhir Juli 2016 itu.

Mengurai komparasi berbagai komoditas perkebunan dunia, Andi mengajak generasi muda, terutama mahasiswa D3 perkebunan Unila untuk menjawab tantangan produksi. Ia menyebut, selain teknologi baru untuk menemukan opsi meningkatkan produktivitas semua komoditas membutuhkan inovasi.

“Di tangan kalianlah sumber daya alam Indonesia yang melimpah ini harus dimaksimalkan fungsinya. Jangan lagi hanya mengandalkan perluasan lahan, tetapi bagaimana dengan lahan yang ada, produktivitasnya meningkat siginifikan. Ilmu dan inovasi itu harus kalian temukan dari kampus, dari laboratorium di kampus-kampus seperti yang sedang Anda jalani,” papar dia.

Mengupas tiga komoditas utama yang diusahakan PTPN VII, Andi mengakui pihaknya belum mampu untuk memberi nilai tambah secara maksimal untuk produk-produk yang dihasilkan. Padahal, kata dia, produk derivatif (turunan/hilir) dari produk-produknya sangat banyak dan beragam, terutama dari kelapa sawit.

Andi bertanya kepada mahasiswa untuk menjawab agar produk yang dihasilkan PTPN VII maupun yang dihasilkan kebun rakyat untuk bisa mengolah menjadi produk hilir yang bisa langsung dibutuhkan langsung untuk masyarakat (end used). “Minyak kelapa sawit itu produk turunannya banyak sekali. Mulai minyak goreng, sabun, margarin, kosmetik, dan masih banyak lagi. Kita selama ini membeli barang-barang itu cukup mahal di pasar, tetapi harga bahan bakunya berupa CPO harganya sangat murah. Anda harus bisa menciptakan itu semua,” kata dia.

Kepada mahasiswa yang berasal dari program beasiswa dari Way Kanan dan Tulangbawang barat itu, Andi meminta agar setelah lulus tidak meninggalkan dunia perkebunan yang sudah dipelajari di kampus.

“Di pundak Anda ada beban yang harus dipikul untuk membangun daerah dengan perkebunan yang baik. Anda pasti disiapkan Pemda dengan beasiswa agar nantinya bisa kembali dan menjadi tenaga pembaharu yang menularkan ilmu budi daya perkebunan dengan lebih baik.”

Andi menyebut, PTPN VII mengapresiasi Pemerintah Kabupaten yang peduli dengan memberi beasiswa putera-puteri daerahnya untuk belajar lebih lanjut di Unila. Sebab, kata dia, produk-produk perkebunan yang dihasilkan kebun rakyat juga banyak yang diolah oleh pebrik-pabrik milik PTPN VII.

“Saya sangat optimistis, prospek perkebunan di Provinsi Lampung dan Sumatera pada umumnya masih sangat potensial untuk dikembangkan dan, kalian para mahasiswa harus berjuang keras untuk mewujudkan itu,” kata dia.

Menutup kuliah umum, mantan Direktur SDM dan Umum PTPN IV itu berpesan kepada mahasiswa agar menguasai tiga prinsip memenangkan kompetisi. Pertama adalah knowlegde atau penguasaan ilmu pengetahuan, kedua adalah speed (kecepatan mengambil dan menangkap kesempatan), dan terakhir adalah gut (keberanian mengambil keputusan). “Anda pasti bisa!” kata dia. (Rls/JJ)