Gaduh, benar-benar gaduh.
Praktik sadap menyadap para elit itu, seperti gempa. Tapi gempa permukaan. Yang merasakan getarannya hanya para elit diatas.
Yang ribut itu para elit.
Yang diributin masalah elit.
Cara ributnya juga elit.
Meributkan kekuasaan. Saling intip antara yang berkuasa dan yang mau kekuasaan. Saling cakar para elit yang sedang silang kepentingan.
Mereka hanya sedang pecah kongsi. Lagi beda keinginan. Lagi beda cara. Nanti juga akur lagi, bersama lagi, sama-sama mengingkari janji pada rakyat lagi.
Mereka bukan ribut karena rakyat belum sejahtera. Bukan karena ekonomi rakyat lagi susah. Bukan karena pengangguran makin banyak. Bukan karena UKT mahasiswa makin mahal. Bukan, sekali lagi yang diributin bukan urusan rakyat.
Memang begitu para elit, sebagian paling sibuk dan paling marah kalau kekuasaan terganggu. Dan sebagian lagi paling bernafsu untuk merebut kekuasaan.
Memang begitu para elit, mereka saling jegal, saling cari celah, saling menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan lawan.
Memang begitu para elit, hanya diatas mimbar kampanye dan podium pidato mereka sok prorakyat. Tapi pada tindakannya mereka hanya tunduk pada kepentingan tuan, pemodal, dan golongan mereka sendiri.
Birahi kekuasaan mereka sangat liar, bisa menggunakan cara apa saja untuk menjaga, merebut atau mengganggu kekuasaan. Hukum, aturan atau birokrasi semua bisa dikangkangi demi tujuan mereka sediri.
Tapi mereka sangat lamban, pelupa, dan kerap lalai ketika berbicara kepentingan rakyat banyak.
Karhutla berlarut-larut, lambat diatasi. Antrian BBM mengular dibiarkan. Yang mereka ligat, hanya saat menghalang-halangi mahasiswa dan rakyat yang protes dengan aksi massa.
Biarkan para pemuja kekuasaan itu saling cakar. Saling jegal. Saling gigit. Biarkan mereka menggali kuburan mereka sendiri.
Biarkan mereka saling sadap. Saling intip. Saling sikut. Saling gontok-gontongan.
“Mereka yang berkuasa tidak memerintah demi kepentingan rakyat, melainkan demi kepentingan diri mereka sendiri,” kata Aristoteles dalam bukunya Politika.
Jadi rakyat cukup nonton saja. Biarkan saja. Tak usah dipedulikan. Jangan ikut-ikutan ribut sesama rakyar karena berdebat urusan elit.
Mahasiswa, buruh, petani dan rakyat pada umumnya cukup perkuat organisasi, konsolidasi dan fokus pada perjuangan kepentingan rakyat.
Rakyat harus berjuang sendiri, karena para elitnya lebih sibuk mengurusi kepentingan mereka sendiri.
Kegaduhan para elit itu, pada akhirnya membuka topeng mereka masing-masing. Menunjukkan pada apa mereka berpihak, dan pada siapa mereka mengabdi.
Dan rakyat cukup jadikan itu hiburan dan tontonan. Begitulah para elit yang digaji rakyat ketika beraksi. Dan yang menggaji ngelus dada sambil nyeruput kopi. Lalu berjuang sendiri lagi…Wallahu a’lam bish-shawab. (*)










Komentar