Ini bikin kaget. Benar-benar kaget.
Melihat gaya komunikasi publik tokoh-tokoh hebat seperti Hasan Nasbi, Budiman Sudjatmiko, hingga Nusron Wahid.
Saya mencoba benar-benar menyimak. Coba benar-benar memahami. Dalam dua peristiwa yang melibatkan mereka.
Saya bukan melihat substansi perdebatan mereka. Saya melihat sisi lain, yakni gaya komunikasi publik mreka yang berubah.
Pertama, peristiwa perdebatan hebat antara Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi dan Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang begitu viral.
Yang bikin kaget karena terjadi benturan logika yang sangat mendasar.
Hasan Nasbi yang biasanya begitu logis, terstruktur, dan memiliki argumen kuat, tiba-tiba seperti kehilangan keasliannya.
Ia terjebak ketika menyodorkan narasi oknum Badan Gizi Nasional (BGN) disikat karena bermain-main dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Logikanya terlihat sangat sederhana.
”Orang terdekat pun kami tangkap. Ini bukti komitmen,” begitu kira-kira logika yang dibangun Hasan Nasbi.
Jelas ini bukan logika khas Hasan Nasbi. Jika logika ini disampaikan oleh oknum-oknum mahasewa itu, tentu tidak mengagetkan.
Tapi ini keluar dari seorang Hasan Nasbi, yang tak perlu saya gambarkan lagi kepiawaiannya dalam membangun narasi yang logis.
Narasi yang disodorkan Hasan Nasbi jelas sangat mudah diruntuhkan. Wakil Ketua BEM UI yang terlihat tenang itu pasti dengan mudah menemukan cara membalikkan narasi tersebut.
Saya yakin seyakin-yakinnya, Bung Hasan Nasbi sangat paham bahwa penangkapan pejabat sedekat itu bukan bukti prestasi yang patut dibanggakan secara berlebihan. Sebaliknya, itu adalah bukti nyata bahwa sistem pencegahan kita hancur lebur sejak awal.
Saya benar-benar kaget melihat perubahan gaya komunikasi Hasan Nasbi yang kini defensif, mungkin itu demi menyelamatkan muka kekuasaan.
Tapi, ini sepertinya menjadi gejala umum yang terjadi pada loyalis kekuasaan. Gejala gagap berdialog, gagap komunikasi publik, cenderung panik, dan kerap terkesan meremehkan keresahan dari bawah.
Kenapa saya bilang ini gejala umum?
Karena pola ini terus berulang. Seperti peristiwa diskusi kopi darat Total Politik di UGM yang dibubarkan mahasiswa.
Terlepas dari perilaku kurang etis beberapa mahasiswa yang membubarkan diskusi itu, ada pola komunikasi publik tokoh-tokoh sekaliber Budiman Sudjatmiko hingga Nusron Wahid yang menampakkan gaya elite usang. Menggurui. Penuh pembenaran atas pragmatisme politik.
Mereka mencoba mendikte ruang akademis dengan narasi kestabilan versi penguasa.
Ada benang merah yang tebal di sini. Antara pembelaan Hasan Nasbi di televisi dan pendekatan Budiman dkk di UGM adalah satu napas.
Keduanya mencerminkan pola komunikasi monolog yang dipaksakan. Pemerintah merasa cukup melempar jargon, memoles statistik, atau menampilkan gimik ketegasan demi meredam kritik.
Saya sangat yakin, seyakin-yakinnya, Hasan Nasbi, Budiman Sudjatmiko, hingga Nusron Wahid khatam dan sangat paham soal teori retorika Aristoteles.
Mereka tahu betul pentingnya keseimbangan antara logos, pathos, dan ethos.
Tapi mengapa mereka justru terjebak mengeksploitasi pathos (empati) secara manipulatif untuk menutupi rapuhnya logos (logika)?
Narasi tangkap kawan sendiri dijual untuk menyentuh emosi publik. Retorika stabilitas dipakai menjustifikasi pragmatisme.
Namun, begitu pilar logos dipatahkan dengan data kegagalan sistem, bangunan itu roboh seketika. Dampaknya fatal, ethos dalam arti kredibilitas kekuasaan ikut tergerus.
Mereka juga pasti paham teori yg dikembangkan sosiolog Jurgen Habermas. Melalui teori tindakan komunikatif, ia sudah mengingatkan bahwa komunikasi publik yang sehat harus jujur dan setara, bukan tindakan strategis yang manipulatif untuk mengendalikan opini.
Kekagetan sy makin menjadi ketika tokoh-tokoh seperti mereka datang ke ruang publik bukan untuk mendengar suara dan pikiran publik, melainkan untuk indoktrinasi searah.
Hasan Nasbi, Budiman Sudjatmiko, hingga Nusron Wahid nampaknya luput dan lupa, bahwa ruang publik hari ini tidak bisa lagi disuapi retorika usang gaya orde baru yang dulu mereka tumbangkan.
Melihat fenomena ini, saya jadi berpikir. Apakah seberat itu membela persoalan yang ada di kekuasaan hari ini, sehingga orang-orang sekelas Hasan Nasbi, Budiman Sudjatmiko, dan Nusron Wahid bisa kehilangan kemampuan membangun argumen logis? Sampai kehilangan kemampuan menyaring suara dan pikiran massa?
Atau mereka berada dalam tekanan besar sehingga begitu berhati-hati dalam berargumen, yang akhirnya membuat mereka jadi kaku? Entahlah….
Yang pasti, peristiwa debat viral BEM UI dan pembubaran diskusi di UGM adalah dua tamparan keras tepat di wajah cara komunikasi publik pemerintah yang harus segera dibenahi. Semoga… Wallahu a’lam bish-shawab. (*)










Komentar