Harianpilar.com, Bandar Lampung – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu melalui Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (SKSDA) Wilayah III Lampung memperkuat upaya mitigasi bencana Gunung Anak Krakatau (GAK). Bersama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), BKSDA melakukan pemeliharaan peralatan seismograf dan kamera pengawas (CCTV) di kawasan Cagar Alam Gugus Kepulauan Krakatau, Lampung.
Pemeliharaan tersebut menjadi langkah penting untuk memastikan sistem pemantauan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau berfungsi optimal. Pasalnya, keberadaan perangkat seismograf dan CCTV memiliki peran strategis dalam mendeteksi perkembangan aktivitas gunung api sekaligus mendukung penyampaian informasi kebencanaan secara cepat dan akurat.
Dalam kegiatan yang berlangsung pada 29 Oktober 2026 itu, tim PVMBG melakukan pemeriksaan, kalibrasi, serta perawatan sejumlah stasiun seismograf yang tersebar di kawasan hutan konservasi Kepulauan Krakatau.
Tidak hanya mendukung kelancaran teknis, SKSDA Wilayah III Lampung juga melakukan pendampingan langsung guna memastikan seluruh aktivitas pemeliharaan tetap memperhatikan ketentuan pengelolaan kawasan konservasi.
Pendampingan meliputi pengawasan akses masuk kawasan, pengendalian aktivitas di lapangan, hingga upaya mencegah gangguan terhadap flora, fauna, dan ekosistem pulau-pulau yang masuk dalam kawasan cagar alam.
Kepala SKSDA Wilayah III Lampung menyampaikan, kolaborasi BKSDA Bengkulu dan PVMBG merupakan bentuk sinergi penting antara kepentingan konservasi sumber daya alam dan mitigasi kebencanaan.
Menurutnya, pemeliharaan perangkat pemantauan vulkanik harus dilakukan secara berkala agar seluruh instrumen dapat bekerja dengan baik dalam merekam perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Keberadaan seismograf yang terawat menjadi bagian penting dari sistem pemantauan dan peringatan dini, terutama untuk mendukung keselamatan masyarakat pesisir di sekitar Selat Sunda yang berpotensi terdampak aktivitas vulkanik.
Melalui sinergi tersebut, BKSDA dan PVMBG berharap seluruh perangkat pemantauan dapat beroperasi secara maksimal dan menghasilkan data yang akurat.
Dengan demikian, informasi terkait perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dapat diteruskan kepada pihak terkait dan masyarakat secara cepat dan tepat, sekaligus memastikan upaya mitigasi bencana berjalan beriringan dengan perlindungan kawasan konservasi. (*)










Komentar