Harianpilar.com, Bandar Lampung – Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Zulkifli Hasan mendorong generasi muda Lampung menjadikan sektor pangan sebagai ladang ekonomi masa depan dengan mengembangkan hilirisasi berbagai komoditas unggulan daerah.
Menurut Zulkifli, Lampung memiliki kekayaan komoditas yang sangat besar, mulai dari kopi, pisang hingga singkong. Potensi tersebut tidak boleh berhenti sebagai bahan mentah, tetapi harus diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah tinggi.
Pesan itu disampaikan Zulkifli Hasan dalam sesi 1on1 Session Lampung Financial Festival 2026 di Ballroom Hotel Novotel, Bandar Lampung, Sabtu (5/9/2026).
“Jadi kopi itu ada hilirisasinya. Ya, diolah jadi macam-macam. Itulah tugasnya anak-anak muda, Gen Z,” ujar Zulkifli.
Ia menilai perkembangan teknologi saat ini telah membuka peluang besar bagi generasi muda untuk masuk ke sektor pangan. Anak muda tidak lagi harus menunggu memiliki modal besar atau menyelesaikan pendidikan terlebih dahulu untuk mulai membangun usaha.
Zulkifli mencontohkan kopi Lampung. Selama ini kopi banyak dipasarkan dalam bentuk komoditas, padahal memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk olahan dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Menurutnya, pola pikir generasi muda harus diarahkan dari sekadar menjual bahan mentah menjadi menciptakan produk, merek dan pasar sendiri.
“Jadi kopi itu ada hilirisasinya,” tegasnya.
Hal yang sama, kata Zulkifli, dapat diterapkan pada komoditas pisang dan singkong yang juga menjadi kekuatan ekonomi Lampung.
Pisang dapat dikembangkan menjadi roti, kue dan berbagai produk turunan. Sementara singkong dapat diolah menjadi etanol, tepung, gula serta berbagai produk lainnya.
Dengan hilirisasi, menurut Zulkifli, nilai ekonomi yang dihasilkan tidak hanya dinikmati dari penjualan bahan mentah, tetapi dapat menciptakan lapangan usaha dan pekerjaan baru di daerah.
Di hadapan peserta Lampung Financial Festival 2026, Zulkifli juga mengingatkan mahasiswa agar tidak hanya memiliki orientasi menjadi pencari kerja setelah menyelesaikan pendidikan.
Ia mendorong generasi muda mulai membangun jiwa kewirausahaan sejak usia muda dengan memanfaatkan perkembangan teknologi digital.
“Jangan kuliah nanti empat tahun selesai, melanjutkan S2 dua tahun, umur sudah 26 tahun. Habis itu mencari lamaran kerja, tiga tahun belum diterima. Umur 30 menikah. Kamu harus ada wawasan usahanya,” katanya.
Menurutnya, saat ini banyak anak muda yang sudah mampu menjalankan usaha secara daring sembari tetap menempuh pendidikan.
Karena itu, mahasiswa tidak perlu menunggu lulus untuk memulai usaha. Justru masa pendidikan dapat menjadi momentum untuk belajar membaca peluang, menguji pasar dan membangun bisnis.
“Kalau kamu sudah umur 19 tahun, bahkan dari SMA sudah bisa dimulai. Jadi Gen Z memang harus punya critical thinking dan problem solving,” tegas Zulkifli.
Zulkifli menegaskan, pengembangan sektor pangan memiliki dampak jauh lebih luas daripada sekadar memenuhi kebutuhan makanan masyarakat.
“Pangan, makan itu bukan hanya sekadar nasi di piring ada lauknya. Makan itu akan melihat peradaban suatu negara,” ujarnya.
Ia menjelaskan pangan berkaitan erat dengan kesejahteraan petani, daya saing bangsa, kemiskinan, kesehatan, pendidikan hingga kedaulatan negara.
Ia mencontohkan ketergantungan Indonesia terhadap impor beras pada 2024 yang mencapai sekitar 4,5 juta ton. Menurutnya, ketergantungan impor harus ditekan dengan meningkatkan produktivitas, kualitas varietas, manajemen pertanian dan efisiensi produksi.
Zulkifli mengapresiasi capaian Indonesia pada 2025 yang tidak lagi melakukan impor beras untuk kebutuhan tertentu sebagaimana sebelumnya.
“Alhamdulillah 2025 kita enggak impor beras lagi. Boleh tepuk tangan ini untuk Indonesia,” katanya.
Selain pertanian, Zulkifli menyoroti sektor perikanan dan kehidupan nelayan.
Ia menilai pembangunan kampung nelayan, penyediaan pabrik es, cold storage, SPBN dan balai lelang menjadi bagian penting untuk memperkuat posisi nelayan.
Dengan dukungan infrastruktur tersebut, nelayan diharapkan tidak berada pada posisi lemah ketika menjual hasil tangkapannya.
Zulkifli menekankan pembangunan sektor pangan membutuhkan kolaborasi pemerintah daerah, TNI, perguruan tinggi, mahasiswa serta berbagai elemen masyarakat.
Di tengah kekayaan komoditas yang dimiliki Lampung, ia kembali mengingatkan bahwa tantangan terbesar sekaligus peluang terbesar berada di tangan generasi muda.
“Kamu bisa. Kalian ini bisa semua, asal mau. Mau usaha, mau kerja keras, mau belajar,” pungkasnya. (Ramona)










Komentar