oleh

Data Lampung

Saya menyimak seksama sebuah podcast yang menghadirkan Hasan Nasbi.

Ia pendiri lembaga survei Cyrus Network yang kini menjabat Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi.

Dalam podcast itu, Hasan Nasbi menguraikan sebuah perubahan fundamental di lapisan masyarakat.

Utamanya, terjadi perputaran 180 derajat pada ekonomi kita. Jika selama ini uang banyak beredar di perkotaan, kini berputar, uang banyak di tangan para petani.

Saya tambah serius memelototi podcast itu. Setelah melihat Hasan Nasbi menggunakan data yang disampaikan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal (RMD) untuk menggambarkan tanda-tanda jungkir baliknya alur ekonomi kita saat ini.

“Saat ini ada lonjakan pembelian mobil hingga 43%, sebagian besar kendaraan jenis mobil pickup. Itu data yang disampaikan Gubernur Lampung kepada saya,” ujar Hasan Nasbi.

“Berarti pertanian kita maju?” tanya host podcast itu.

“Artinya para petani ada duit. Berarti duit ada di desa, beredar di desa,” jawab Hasan Nasbi.

Saya tidak kaget dengan data itu. Karena itu sudah berulang kali disampaikan RMD. Dan sumber data valid. Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Lampung, lembaga yang mengolek pajak kendaraan di daerah juga merilis data itu.

Yang saya kaget, ada perbedaan mendasar pihak yang menikmati pertumbuhan ekonomi. Sebenarnya pertumbuhan ekonomi Lampung itu biasa-biasa saja. Karena beberapa tahun ini, kisaran lima koma sekian persen. Tak ada kenaikan signifikan.

Tapi tahun-tahun sebelumnya, penjualan kendaraan di Lampung justru anjlok. Terus menunjukkan grafik negatif.

Tahun ini, saat pertumbuhan ekonomi relatif sama, penjualan kendaraan justru naik signifikan.

Disinilah letak perubahan mendasarnya.

Pertumbuhan ekonomi tidak lagi eksklusif, tapi sudah inklusif. Dirasakan rakyat di akar rumput.

“Artinya pertumbuhan itu uangnya ada di petani,” tambah Hasan Nasbi.

Indikator pertumbuhan ekonomi inklusif ini juga terlihat dari indikantor lain. Yakni peningkatan pembelian alat dan mesin pertanian atau alsintan secara besar-besaran.

Lantas apa penyebab itu terjdi??

Karena Hasan Nasbi saja pakai data Lampung, maka kita juga harus lihatnya dalam konteks Lampung.

Di Lampung, kebijakan di sektor pertanian memang sangat agresif, kalau tak mau dibilang ambisius. Itu memang selaras dengan kebijakan Presiden Prabowo.

RMD bukan hanya membuat banyak kebijakan propetani. Tapi juga turun langsung pada tataran eksekusi. Berkali-kali dia memantau langsung di lapangan.

Kebijakan yang paling fenomenal adalah penetapan batas minimal harga beberapa komoditas pertanian.

Mulai dari gabah sampai singkong. Bukan cuma harga, penjualan komoditas seperti gabah ke luar daerah juga dilarang.

Pemotongan mata rantai distribusi pupuk. Bahkan, RMD menggulirkan pupuk cair organik (POC) secara massif ke petani. Agar produktivitas lahan meningkat tajam.

Menyalurkan mesin pengering atau dryer ke gapoktan. Sehingga petani tak lagi bergantung pada cuaca.

Kebijakan-kebijakan berbasis agraria dari hulu ke hilir inilah yang menjadi pengungkit ekonomi petani. Menahan laju inflasi di desa. Menaikkan daya beli riil masyarakat yang selama ini hanya menjadi penonton.

Maka tak heran. Jika di Lampung ada fenomena pembeli mobil baru itu banyak di desa.

Persoalannya, apakah ini merata dirasakan rakyat Indonesia, sehingga Hasan Nasbi menjadikan data Lampung untuk menggambarkan kondisi Indonesia secara umum? Atau ini hanya terjadi di Lampung? Entalah. Wallahu a’lam bish-shawab.(*)

Komentar