Harianpilar.com, Bandarlampung – Kinerja ekonomi Provinsi Lampung di era kepemimpinan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal (RMD) mencatatkan lonjakan signifikan pada Triwulan I 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung merilis pertumbuhan ekonomi mencapai 5,58 persen (year-on-year). Pertumbuhan ini tertinggi dalam lima tahun terakhir dan tercepat di Pulau Sumatera.
Data pertumbunan ekonomi Lampung ini diketahui dari Kepala BPS Lampung, Ahmad Riswan Nasution, dalam konferensi resmi di Aula Radin Imba Kusuma, Selasa (5/5/2026).
Capaian ini menempatkan Lampung sebagai salah satu daerah dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Sumatera, berada di posisi kedua setelah Kepulauan Riau yang tumbuh 7,04 persen. Dari sisi kontribusi regional, Lampung menyumbang 9,72 persen terhadap perekonomian Sumatera, berada di peringkat keempat setelah Sumatera Utara, Riau, dan Sumatera Selatan.
Pertumbuhan ekonomi Lampung ditopang kuat oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang menjadi tulang punggung produksi daerah. Dengan kontribusi struktur mencapai 23,14 persen, sektor ini menyumbang 39,42 persen terhadap total pertumbuhan ekonomi.
“Peningkatan produksi tanaman pangan dan hortikultura menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan di awal tahun,” ujar Ahmad Riswan.
Selain itu, geliat mobilitas masyarakat turut mempercepat laju ekonomi. Kunjungan wisatawan nusantara melonjak 25,55 persen, diikuti kenaikan jumlah penumpang transportasi darat, laut, dan udara.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama dengan kontribusi sekitar 64 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), serta menyumbang 61,92 persen terhadap pertumbuhan. Sementara konsumsi pemerintah tumbuh signifikan sebesar 13,84 persen, dipicu percepatan realisasi program pembangunan.
Investasi yang tercermin dalam Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 5,19 persen secara tahunan, meski secara triwulanan mengalami kontraksi. Di sisi lain, sektor akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi hingga 12,43 persen, seiring meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat.
Meski secara tahunan tumbuh kuat, secara triwulanan ekonomi Lampung mengalami kontraksi 1,08 persen. Kondisi ini dinilai sebagai pola musiman awal tahun akibat melambatnya aktivitas konstruksi dan proyek industri.
Namun demikian, sejumlah sektor strategis seperti pertanian, perdagangan, serta informasi dan komunikasi tetap menunjukkan kinerja positif dan menjadi penopang stabilitas ekonomi daerah.
Capaian ini menegaskan ketahanan ekonomi Lampung di tengah dinamika nasional, sekaligus memperlihatkan efektivitas kebijakan pembangunan yang terus mendorong pertumbuhan inklusif dan berkelanjutan. (*)










Komentar