oleh

Mirza, Yoga dan Sepakbola (2)

MoU bukan puncak capaian. Sebaliknya, itu awal dari pekerjaan besar dan berat dengan waktu yang singkat.

Menyiapkan semua fasilitas berstandar Liga 1 bukan perkara mudah. Juga tidak murah. Apalagi tanpa sentuhan dana APBD.

​Selama ini ada paradigma yang mengakar. Pengembangan olahraga di daerah seolah wajib disokong APBD.

Jika olahraga lambat dan lemah, minimnya dukungan anggaran daerah selalu jadi kambing hitam.

​Mendatangkan Bhayangkara FC ke Lampung nampaknya bukan sekadar soal sepakbola.

Ini adalah momentum bagi RMD untuk menanamkan perubahan paradigma. Terutama bagi para kepala daerah di Lampung.

​Membangun olahraga perlu kreativitas. Butuh keberanian. Tidak boleh terus-menerus bergantung pada APBD.

RMD seolah mengajak semua pihak menanggalkan pandangan kolot itu. Olahraga harus melibatkan swasta. Sektor industri harus masuk.

​”Olahraga harus dibangun ekosistemnya. Olahraga harus jadi industri,” begitu kata RMD dalam berbagai kesempatan.

​Keinginan RMD itulah yang diejawantahkan oleh Yoga. Ia bergerak merangkul pihak swasta. Mengajak mereka berkontribusi dengan cara dan kemampuan masing-masing.

​Dalam waktu tiga bulan, Stadion Sumpah Pemuda bersolek total. Ada bagian yang dirombak. Ada yang diperbaiki. Ada pula yang ditambah.

Semua detail disesuaikan dengan standar penyelenggara Liga 1 dan manajemen klub.

​Sambil memoles fisik stadion, Yoga mulai membangun fondasi dukungan. Lampung Bhayangkara Suporter (ElBhara) dibentuk. Wadahnya berkembang cepat. Bukan cuma di Lampung, tapi hingga ke Kalimantan.

​”ElBhara wadah induk suporter, tapi masyarakat boleh membentuk wadah sendiri seperti Sikambara,” terang Yoga.

RMD tidak tinggal diam. Ia memantau langsung proses rehabilitasi stadion. Setiap selesai sholat subuh, telepon Yoga selalu berdering. RMD menanyakan progres. Memastikan tidak ada kendala. Bahkan RMD sering memantau langsung renovasi stadion.

“Setiap abis sholat subuh, beliau (RMD) menelpon saya. Menanyakan proses rehabilitas stadion dan proses kepindahan Bhayangkara FC. Beliau memantau secara detail dan mensuppor total,” cerita Yoga.

​Itu sangat wajar. Karena bagi RMD ini bukan sekadar sepakbola. Ini adalah mimpi besar masyarakat Lampung yang sedang ia wujudkan. Ia ingin memastikan semua berjalan tanpa celah.

​Akhir Juli 2025, pekerjaan besar itu tuntas. Stadion Sumpah Pemuda tampil gagah. Megah.

Bangku penonton sudah single seat. Rumput hijau tampak sempurna. Fasilitas ruang ganti, ruang pers, hingga fasilitas umum sudah selevel standar Liga 1.

Senin, 28 Juli 2025, publik Lampung tercengang. Sebuah acara peluncuran yang megah digelar di Stadion Sumpah Pemuda PKOR Way Halim.

Banyak yang menyebut ini sebagai launching klub paling meriah di kasta tertinggi nasional.

​Malam itu, skuad Bhayangkara FC diperkenalkan ke publik. Jersey terbaru dengan motif tapis Lampung dipamerkan di bawah sorot lampu stadion.

Semarak ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah simbol hangatnya pelukan masyarakat Lampung untuk klub baru mereka.

​Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo hadir langsung. Ia menyaksikan sendiri bagaimana kursi penonton penuh sesak.

Yel-yel dukungan bergema tanpa henti sepanjang acara.

​Kapolri menegaskan, klub ini kini milik keluarga besar masyarakat Lampung.

Beliau mengapresiasi keberanian Gubernur Lampung yang mampu merenovasi stadion hingga layak menggelar kasta tertinggi liga tanpa beban negara yang berlebih.

​RMD tampak semangat sekaligus haru saat memberi sambutan. Baginya, melihat Stadion Sumpah Pemuda menjadi markas klub Liga 1 adalah mimpi yang menjadi nyata.

Sebuah penantian panjang masyarakat Lampung yang akhirnya terbayar lunas.

Atmosfer malam itu luar biasa. Rasa haru dan bangga menyatu. Publik merasakan energi baru bagi olahraga Lampung.

​Namun, di tengah euforia yang membubung, sebuah tanya tersisa di benak pencita bola. Akankah suasana penuh semangat ini berlangsung lama? Atau kehadiran Bhayangkara Presisi Lampung FC hanya sekadar singgah semusim saja?…(Bersambung)

Komentar