Oleh : Magendra Utama
Pemerhati Pembangunan
Pemandangan di kantor Sekretariat DPRD Provinsi Lampung pada Kamis (5/2/2026) kemarin bukan sekadar rutinitas ASN yang ingin cepat pulang. Ada gairah yang berbeda saat sapu, cangkul, dan gotong royong menyatu dalam Gerakan Aksi Aman, Sehat, Tertib, dan Indah (ASRI).
Ini bukan sekadar gerakan bersih-bersih biasa, melainkan “tes ombak” pertama bagaimana birokrasi di Lampung menerjemahkan arahan Presiden Prabowo Subianto dan Instruksi Gubernur Rahmat Mirzani Djausal.
Pertanyaannya: Mengapa Lampung tampak begitu progresif dibandingkan daerah lain?
*Sinkronisasi Pusat-Daerah: Teori Pilihan Publik*
Secara teoretis, apa yang dilakukan Sekretariat DPRD Lampung di bawah komando Descataama Paksi Moeda adalah bentuk nyata dari Institutional Compliance atau kepatuhan institusional. Dalam kacamata Public Choice Theory, keberhasilan sebuah program nasional sangat bergantung pada bagaimana pemerintah daerah menyelaraskan insentif dan instruksi menjadi aksi nyata.
Ketika Presiden Prabowo menekankan “Bersih Nasional”, Gubernur Rahmat Mirzani Djausal langsung “mengunci” arahan tersebut lewat Instruksi Gubernur No. 8 Tahun 2026 tentang KORVE. Ini adalah duet maut kepemimpinan. Lampung tidak hanya menunggu bola, mereka menciptakan lapangan permainannya sendiri.
*Lampung vs Daerah Lain: Siapa Lebih Cepat?*
Jika kita melirik beberapa provinsi tetangga, banyak yang masih terjebak dalam tatanan wacana atau sekadar unggahan seremonial di media sosial tanpa keberlanjutan.
Di Lampung, program ASRI ini langsung menyentuh level akar rumput birokrasi. Gerakan KORVE (Gerakan Bersih-Bersih Kantor) menjadi indikator bahwa reformasi birokrasi di Lampung mulai bergerak ke arah perubahan perilaku (behavioral change), bukan sekadar perubahan administratif.
Banyak daerah lain yang masih menganggap urusan kebersihan adalah tugas cleaning service. Namun, di Lampung, dengan semangat gotong royong yang melibatkan jajaran pegawai hingga tenaga pendukung, ada pesan kuat yang disampaikan: kebersihan adalah martabat instansi.
*Apresiasi untuk Langkah Nyata*
Kita perlu memberi apresiasi setinggi-tingginya kepada Sekretariat DPRD Provinsi Lampung. Langkah ini menunjukkan bahwa lembaga legislatif melalui sekretariatnya ingin menjadi role model bagi instansi lain. Keberanian untuk langsung “tancap gas” melaksanakan Instruksi Gubernur adalah bukti loyalitas yang produktif.
Apresiasi juga layak diberikan kepada Gubernur Rahmat Mirzani Djausal yang mampu menerjemahkan visi besar Presiden Prabowo ke dalam instruksi teknis yang mudah dieksekusi. Tanpa kepemimpinan yang tegas, instruksi pusat seringkali menguap begitu saja di tingkat provinsi.
*Kesimpulan: Budaya Baru, Harapan Baru*
Gerakan ASRI dan KORVE adalah fondasi bagi pembangunan Lampung ke depan. Lingkungan yang bersih adalah cermin dari pikiran yang tertib dan kerja yang transparan. Jika ritme seperti ini terus dipertahankan, Lampung bukan tidak mungkin akan menjadi provinsi paling disiplin secara nasional.
Mari kita kawal bersama, kebersihan adalah sebagian dari iman, agar semangat ini tidak “hangat-hangat tahi ayam”, melainkan menjadi budaya baru yang mendarah daging di tanah Sang Bumi Ruwa Jurai.(*)
#LampungASRI #PrabowoMirza
#PembangunanLampung








