oleh

RMD Bapak PJS Lampung, Lahirkan Hilirisasi 3 Komoditas

Oleh: Mahendra Utama

Di tengah pusaran ekonomi yang menuntut lompatan, Rahmat Mirzani Djausal hadir membawa paradigma baru: pembangunan yang dimulai dari akar rumput desa.

Melalui sentuhan kebijakan pada tiga komoditas utama Padi, Jagung, dan Singkong (PJS) gubernur yang baru dilantik bersama Jihan Nurlela ini tak hanya mewariskan program, melainkan sebuah inspirasi hilirisasi yang kini mulai menuai hasil nyata.

*Pilar Kedaulatan: Dari Ketergantungan Menuju Kemandirian*

Langkah Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dapat dibaca sebagai implementasi teori pembangunan berbasis desa (bottom-up development) yang diamanatkan UU Desa No. 6 Tahun 2014.

Teori ini menekankan bahwa desa harus menjadi subjek, bukan sekadar objek pembangunan. Hal ini selaras dengan konsep village-driven development di mana BUMDes menjadi motor penggerak ekonomi lokal.

Program Pupuk Organik Cair (POC) adalah wujud konkretnya. Hingga akhir 2025, 500 unit pusat produksi POC terbangun, menjangkau 190.000 petani dan lahan seluas 175.788 hektare.

“Produktivitas pertanian meningkat 25 persen dan ketergantungan pupuk kimia terpangkas hingga 30 persen,” ujar Gubernur, sebuah capaian yang telah menyentuh 477.000 jiwa.

*Inovasi Infrastruktur: Bed Dryer dan Lompatan Nilai Tambah*

Revolusi pascapanen hadir melalui mesin pengering (bed dryer). APBD 2025 mengalokasikan 34 unit, dan APBD 2026 akan meluncurkan 82 unit di 82 lokus. Setiap unit mampu mengeringkan 200 ton padi dan 300 ton singkong per bulan serta menekan kehilangan hasil panen hingga 7 persen.

Kepala Dinas Perindag Lampung, M. Zimmi Skil, menyebut, “Ini adalah langkah awal menuju industrialisasi pertanian di tingkat desa. Petani kini punya posisi tawar dalam harga dan kualitas.”.

*Akselerasi BUMDes dan Vokasi: Mencetak Pelaku, Bukan Pekerja*

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) didorong sebagai konsolidator hasil tani dan pengelola unit bisnis pascapanen. Di sisi lain, pendidikan vokasi digelar masif. Pada 2025, 928 penduduk usia produktif menerima pelatihan, dan pada 2026 ditargetkan 500 peserta.

“Kita ingin mencetak masyarakat produktif yang siap berkontribusi dan memimpin,” tegas Rahmat Mirzani Djausal di hadapan civitas Polinela.

Integrasi ketiga pilar POC, bed dryer, dan vokasi melahirkan dampak berganda. Petani jagung di Desa Wonomarto menikmati kenaikan pendapatan hingga Rp1 juta per bulan berkat mesin pengering. Inilah bukti bahwa hilirisasi yang berpihak pada petani mampu menciptakan nilai tambah langsung.

Rahmat Mirzani Djausal telah meletakkan fondasi kokoh sebagai penggerak utama hilirisasi berbasis desa. Kini, bola berada di tangan masyarakat untuk mengawal dan mereplikasi semangat ini menjadikan Lampung sebagai lumbung pangan nasional yang mandiri, berdaulat, dan sejahtera.(*)

Komentar