Menjadi pemimpin di era digital ini, memang harus kuat-kuat mental. Karena komentar nitizen kadang lebih mengerikan dari terkaman harimau di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.
Di era digital, para pemimpin juga harus paham, ada dua sisi berjalan bersamaan.
Satu sisi, ada ribuan harapan yang digantungkan di pundak. Di sisi lain, ada jutaan mata yang siap menghakimi hanya dari sepotong video atau sepenggal narasi yang belum tentu utuh.
Tak cukup hanya niat dan perbuatan baik. Tapi juga perlu penyampaian yang baik. Sebab salah berucap sedikit, langsung kena rujak.
Situasi tak mengenakkan itulah yang sedang di alami Wakil Gubernur Lampung dr.Jihan Nurlela.
Mari kita kesampingkan sejenak jabatannya dan melihat siapa Jihan sebenarnya.
Ia adalah seorang dokter. Sumpahnya Hippokrates. Memperlakukan pasien dengan baik, lebih didahulukan dan diutamakan.
Sumpah tentang memuliakan nyawa. Tentang kelembutan menyentuh pasien. Tentang empati pada rasa sakit.
Jihan yang asli adalah sosok yang matanya berkaca-kaca saat bicara soal stunting atau kematian ibu hamil.
Ia adalah wanita muda yang hatinya mudah tersentuh oleh penderitaan orang lain.
Logika sederhananya, mungkinkah tangan yang terbiasa merawat, melayani dan mengobati itu tetiba berubah menjadi tangan besi yang membungkam keluhan warganya sendiri?
Dari logika itulah, tudingan bahwa Jihan melakukan intimidasi terhadap warga terkait viralnya penyeberangan anak sekolah menggunakan rakit di Sungai Batanghari, Lampung Timur, tak masuk akal.
Bahkan, ada kecenderungan tuduhan itu bentuk kegagalan dalam membaca karakter.
Saya tidak kenal dekat. Juga bukan fans fanatiknya. Tapi untuk mengenal karakter seseorang, cukup lihat rekam jejaknya. Track record adalah saksi jujur tanpa perlu di sumpah.
Jihan itu dokter. DNA-nya melayani, bukan menekan. Tangannya terbiasa merawat bayi dan ibu hamil, bukan menunjuk-nunjuk muka orang dengan arogan.
Kelembutan itu watak aslinya, bukan topeng pencitraan.
Berlatarbelakang keluarga NU yang agamis, hidupnya terbiasa menjunjung adab. Dengan yang lebih tua takzim. Dengan yang sebaya menghargai. Dengan yang muda ia merangkul.
Jadi kalau ada yang bilang Jihan mengintimidasi. Maka tudingan itu hampir bisa dipastikan karena salah memahami karakter Jihan.
Jihan juga tipikal pembelajar. Ia akan bertanya untuk yang dia tidak tahu. Tapi, dia juga punya nalar kritis yang tajam untuk hal-hal yang tidak patut. Itu yang orang sering gagal paham. Ketegasannya pada prinsip sering dipelintir jadi arogansi.
Dan satu lagi yang mengesankan dari Jihan. Ia politisi yang pandai menempatkan diri dan pandai membawa diri.
Dia sadar posisinya Wakil Gubernur. Dia matahari yang tahu kapan harus bersinar, dan kapan harus meredup. Dia menopang Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dengan loyalitas total.
Tugas yang didelegasikan, selalu diselesaikan hingga tuntas. Tanpa ada drama, tanpa ada intrik matahari kembar. Harmonis.
Maka tak heran, sedikit pun tak pernah terdengar keretakan diantara keduanya. Tak seperti kebanyakan pasangan kepala dan wakil kepala daerah, baru hitungan hari dilantik sudah saling intrik.
Jihan Nurlela itu aset Lampung. Dia pemimpin muda yang otentik. Perjalanannya masih panjang. Bukan tak mungkin, suatu waktu bisa Go-Nasional. Jangan bunuh karakternya cuma karena emosi atau malas memverifikasi fakta.
Biarkan dia bekerja. Biarkan tangan dingin dokter ini bersama RMD membangun Lampung dengan baik.
Sejatinya, pemimpin yang baik itu dilihat dari rekam jejaknya, bukan dari katanya di media sosial…Wassalam.










Komentar