oleh

WFS

Oleh : Mico P

Namanya Wahrul Fauzi Silalahi (WFS). Meski ada marga Silalahi dinamanya, tapi ia tumbuh besar di Pesisir Lampung. Tepatnya di Desa Sebarus, Liwa, Lampung Barat.

Saya kenal sejak sama-sama masih kuliah dan sama-sama jadi aktivis mahasiswa. Tapi kami berbeda dalam hampir semua aspek. Dari muda sampai sekarang.

Saat mahasiswa kami beda organisasi ekstrakampus. Ia kader tulen Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Saya Front Mahasiswa Nasional (FMN). Karena beda organisasi ekstra kampus, pasti beda idiologi juga. Ia tengah, saya kerap dicap agak ke-kiri-an.

Pasca mahasiswa. Kami melanjutkan perbedaan. Mulai dari beda profesi sampai beda hobi. Ia pengacara, saya jurnalis. Ia hobi motor CB, saya hobi burung. Ia jadi politisi, saya tetap jurnalis. Terus begitu sampai saat ini kami tetap banyak beda.

Sudah banyak beda, kami juga jarang diskusi atau ngopi bareng. Hanya sesekali, itu pun setelah berulang kali janjian dan berulang batal. Jika tidak benar-benar urgen, tidak bertemu.

Tapi ada satu hal yang selalu menyatukan kami. Tanpa diskusi pun. Dari saat mahasiswa sampai saat ini. Untuk satu hal ini selalu sama suaranya. Yakni ketika bicara perjuangan rakyat. Perjuangan rakyat disektor apa saja.

Saat mahasiswa, kami selalu bertemu ketika ada petani yang lahannya digusur. Ketika ada buruh yang di PHK. Ketika ada kaum miskin kota yang hak-haknya dirampas. Ketika para perempuan berjuang menuntut kesetaraan gender.

Isu-isu perjuangan rakyat inilah instrumen yang menyingkirkan perbedaan kami dan mengharuskan kami diskusi bersama di beberapa kesempatan.

Selesai kuliah, WFS jadi advokat dan bergabung dengan Dewan Rakyat Lampung (DRL). Tradisi mendampingi rakyat terus dilakoninya. Sampai dijuluki pengacara rakyat. Karena mayoritas kasus yang ditanganinya, kasus rakyat. Dimana rakyat diperlakukan tak adil, disitu WFS hadir.

Karena dedikasi dan konsistensinya dalam membela rakyat kecil, WFS didapuk jadi Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandarlampung.

Di LBH kiprahnya terus meluas. Sepak terjangnya mulai dilirik banyak orang. Bukan hanya di Lampung, tapi juga Nasional. Mulai sering muncul di media massa daerah maupun TV Nasional.

Pernyataannya di media massa persis seperti suaranya saat orasi. Lantang, menggema, lugas dan agitatif. Itu salah satu kelebihan yang dimilikinya sejak mahasiswa dan tak berubah hingga kini.

WFS kerap membuat kuping memerah jika mengkritik. Pun saat orasi, kelantangannya selalu membakar semangat massa aksi.

2018 WFS bimbang. Dihadapkan pada pilihan sulit. Antara melanjutkan kiprah ke Jakarta. Atau pindah arena perjuangan ke politik.

Taufik Basari (Tobas), seniornya di LBH yang juga petinggi Partai Nasdem “menggodanya” untuk maju sebagai caleg tahun 2019. Disisi lain, WFS banyak didorong aktivis Lampung ikut dalam pemilihah Dewan Nasional Wahana Lingkungan Hidup (Walhi). NGO besar yang konsen diisu-isu lingkungan.

Dengan segala pertimbangan, WFS memutuskan masuk dunia politik. Jadi caleg Nasdem. Ikut jejak Tobas. Keduanya sama-sama berjuang dengan keras. Dengan hebat. Dengan terhormat. Dan sama-sama terpilih di Pileg 2019. Tobas DPR RI, WFS DPRD Provinsi Lampung.

WFS mengakui. Peran Tobas sangat besar dalam langkah politiknya. Itu sangat wajar. Juga tak salah memilih panutan. Tobas bukan politisi karbitan. Ia mantan aktivis 98. Kader HMI. Lulusan universitas luar Negeri. Mantan Direktur LBH Indonesia. Banyak menangani kasus pelanggaran HAM. Banyak mengadvokasi kasus rakyat. Pergaulannya luas. Dari rakyat jelata sampai para eksekutif. Dari kader tingkat ranting sampai para elit lintas partai.

Tobas salah satu idiolog Partai Nasdem, yang terus membumikan restorasi. Salah satu kader andalan Surya Paloh.

WFS banyak belajar dengan Tobas. Makin matang, makin dewasa dalam politik. Presepektif kerakyatannya juga makin teguh.

2024, WFS pindah ke Partai Gerindra. Maju lagi di Pileg 2024 dari daerah pemilihan (dapil) yang sama dan tetap untuk DPRD Provinsi Lampung. Kembali terpilih, dengan suara jauh lebih besar dari Pileg sebelumnya. Sekitar 43 ribu. Suara caleg terbanyak dapil Lamsel.

WFS tak berubah. Meski tak bisa beracara lagi. Tapi kantor hukumnya tetap jalan. Tetap mengurusi kasus yang melibatkan rakyat kecil. Bedanya, kini WFS bisa bersuara lantang dari gedung DPRD Lampung. Mengkritik setiap hal yang dianggapnya tak berpihak pada rakyat.

Juga aktivitasnya di akar rumput, tak berubah. Tetap rajin bercengkrama dengan petani. Tetap peka terhadap keadaan kaum lemah. Tetap rajin menyelami aspirasi kaum proletar. Tetap berjalan bersama kawan seperjuangan.

“Dulu kita buntu saja, berani berjuang bersama rakyat. Apa lagi sekarang udah ada amanah jabatan, jadi harus lebih hebat berjuang untuk rakyat,” ungkapnya dalam suatu kesempatan.

Sebagai aktivis, WFS paham betul makna otokritik. Karena itu juga, selain suka mengkritik, ia juga siap dikritik. Saya masih ingat lima tahun lalu. Pasca dilantik sebagai anggota DPRD hasil pileg 2019, WFS langsung bertandang ke kantor Harian Pilar. Cuma untuk mengingatkan jangan sungkan untuk memberi masukan.

“Pantau gua ya bung. Ingatkan gua kalau gua salah. Kasih tau gua kalau cara dan langkah gua ada yang keliru,” kata WFS saat itu.

Sikap itu ditunjukkan WFS hingga kini dan dengan siapa saja. Ia akan mendengar bahkan meminta penilaian, ketika ia perlu pendapat orang lain. Semoga terus begitu, agar makin panjang umur perjuangan dan makin banyak aktivis mahasiswa mengikuti jejaknya..Amin YRA..Wallahu a’lam bishawab.(*)

Jangan Lewatkan