Harianpilar.com, Bandarlampung – Dalam 100 hari kerja kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dan dr.Jihan Nurlela sektor pertanian menjadi tumpuan dalam memajukan dan mensejahterakan masyarakat. Selain karena mayoritas masyarakat Lampung bertopang hidup dari sektor ini, juga karena potensi sektor pertanian sangat besar. Mirza terus mendorong hilirisasi dan modernisasi sektor ini.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal bahkan jauh sebelum menjadi gubernur memang sudah melirik sektor pertanian sebagai prioritas dalam mensejahterakan masyarakat, Mirza telah banyak melakukan upaya untuk memajukan sektor pertanian. Bahkan, Mirza sudah dua periode menjadi Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Lampung sebagai serananya untuk bergelut di sektor pertanian.
Mirza tidak hanya berupaya menaikkan angka-angka produksi, tapi juga mendorong peningkatan pertanian berdampak pada peningkatan kesejahteraan petaninya juga. Karena itu, Mirza bertekat melakukan hilirisasi dan modernisasi sektor pertanian, agar sektor pertanian mengalami kemajuan dalam produktifitas sekaligus memberi efek kesejahteraan pada masyarakat.
Salah satunya, Mirza melarang penjualan gabah keluar Provinsi Lampung. Sebab selama ini banyak gabah yang dibawa ke luar Lampung, sehingga harga gabah di Lampung menjadi rendah. Mirza meminta pengusaha untuk membeli gabah dari petani dengan harga yang telah ditetapkan pemerintah yaitu Rp6.500/kg, dan gabah tersebut akan diserap Bulog. Pelarangan ini juga sesuai dengan instruksi Presiden RI tentang kemandirian pangan.
Mirza kemudian berusaha melakukan pembangunan silo dan pengadaan alat pengering gabah (dryer) di sentra-sentra produksi. Kebijakan ini bertujuan meningkatkan nilai tambah hasil panen, mempermudah proses pascapanen, dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Sedikitnya sudah 24 unit mesin pengering gabah dan empat unit mesin penepung mocaf diserahkan kepada kelompok tani dan BUMDes di sepuluh kabupaten/kota. Dryer tersebut multi fungsi, untuk gabah, jagung, cokelat, kelapa dan singkong
Mesin pengering padi berkapasitas 20 ton ini diberikan kepada 21 kelompok tani dan tiga BUMDes di Kabupaten Way Kanan, Tanggamus, Pesawaran, dan Lampung Barat. Dengan alat ini, proses pengeringan gabah yang biasanya memakan waktu 36 jam dapat dipangkas menjadi hanya 12 jam.
“Dengan alat ini, petani bisa menyimpan gabah lebih lama, menjualnya dalam bentuk Gabah Kering Giling (GKG), dan memperoleh harga jual yang lebih tinggi,” ujar Gubernur Mirza.
Satu unit mesin dapat mengolah gabah dari lahan seluas 2–3 hektare, sehingga total kapasitas pengolahan mencapai 480 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hari dari 24 mesin yang disebar. “Petani kini bisa meraup tambahan pendapatan hingga Rp550 per kilogram dengan menjual GKG dibandingkan GKP,” kata Gubernur.
Koperasi Pertanian Serbajadi, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan telah menguji mesin tersebut dan mencatat efisiensi tinggi serta hasil gabah yang stabil. Selain mendukung panen raya, mesin ini juga membuka peluang usaha pengeringan gabah secara komersial yang dikelola oleh BUMDes maupun koperasi tani.
Tak hanya padi, Pemerintah Provinsi Lampung juga memperkuat hilirisasi komoditas singkong melalui pemberian empat unit mesin penepung mocaf (Modified Cassava Flour). Mesin ini diserahkan kepada petani di Lampung Tengah, Lampung Timur, Way Kanan, dan Lampung Utara.
Mocaf dihasilkan dari proses fermentasi singkong dan memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan singkong segar. Dengan teknologi ini, petani bisa memperoleh nilai tambah hingga Rp6.394 per kilogram dengan margin keuntungan mencapai 67,2%.
“Selain bernilai ekonomi, tepung mocaf juga menawarkan alternatif pangan yang lebih sehat dan bisa menggantikan tepung terigu. Ini menjadi alternatif pengolahan hasil panen singkong petani,” kata Mirza.
Sebagai produsen singkong terbesar di Indonesia, Provinsi Lampung mencatatkan produksi singkong mencapai 7 juta ton pada 2025, menurut data Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung. Potensi ini menjadikan Lampung sebagai wilayah strategis pengembangan produk turunan berbasis singkong seperti mocaf, tapioka, hingga bioetanol.
Provinsi Lampung menargetkan produksi padi mencapai 3,5 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) pada 2025, meningkat dari capaian tahun sebelumnya. Untuk mendukung target tersebut, luas tanam padi ditargetkan mencapai 1.034.205 hektare, yang mencakup 849.384 hektare pertanaman reguler serta 184.821 hektare dari optimalisasi lahan dan cetak sawah .
Kabupaten Lampung Tengah merupakan sentra penghasil padi terbesar di Provinsi Lampung, dengan produksi mencapai 614.016,70 ton pada 2024 . Selain itu, Kabupaten Lampung Timur dan Tulang Bawang juga termasuk dalam lima besar kabupaten dengan produksi padi tertinggi di provinsi ini.
Kolaborasi antara pemerintah daerah dan pelaku usaha tani menunjukkan bahwa transformasi pertanian berbasis teknologi bukan lagi wacana di Provinsi Lampung. “Dengan infrastruktur mesin modern, Lampung siap menjadi pusat pertanian maju yang tidak hanya produktif tetapi juga memberikan nilai tambah tinggi bagi petani lokal,” terang Mirza.(*)









