oleh

Dialog di Bappenas Relawan DKILampung ‘Adu Keungulan’

Harianpilar.com, Jakarta – Tim Relawan DKI Lampung memaparkan berbagai keunggulan Lampung untuk menjadi Ibukota Negara (IKN) di hadapan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Tim Relawan DKILampung terdiri dari Ketua Relawan DKI Lampung Andi Desfiandi, Sekretaris Ary Meizary, Mantan Rektor Universitas Lampung (Unila) Prof. Sugeng P Heriyanto, Akademisi Universitas Lampung Dr. Any Nurhasanah, dan Ketua Masyarakat Tranfortasi Indonesia (MTI) Lampung IB.Ilham Malik.

Sementara, dari Bappenas hadir Deputi Pengembangan Regional Bappenas merangkap penanggung jawab Tim Kajian Pemindahan Dr. Ir. Rudy Soeprihadi, Ketua Tim Kajian Pemindahan Ibukota, Dr. Ir. Imron Bulkin yang juga Staf Ahli Menteri/ Kepala Bappenas dan Ir. Hayu Parasati sebagai Sekertaris Tim Kajian Pemindahan Ibukota.

Ketua DKILampung, Andi Desfiandi, mengatakan, dari sembilan kriteria calon IKN yang dilansir Bappenas, secara keseluruhan Lampung justru memiliki 19 lebih kriteria yang mendukung sehingga lebih siap menjadi ibu kota Republik Indonesia,”Lampung wilayah timur aman dari cincin api, ketersediaan air bersih yang melimpah, pembiayaan infrastruktur rendah, dominasi lahan milik pemerintah, dekat dengan ibu kota yang sudah berkembang, budayanya terbuka, serta memiliki parameter hankam, dil.” terangnya.

Selain itu, lanjutnya, Sumatera bagian timur yang ditawarkan menjadi lokasi ibukota Negara di Lampung dekat dengan jalan tol, Bandara, dan pelabuhan. Sehingga mobilisasi alat dan material pembangunan IKN akan lebih efektif dan efesien. “Biaya pembangunan dan pemindahan pusat pemerintahan itu akan jauh lebih murah. Disisi lain ketersediaan material pokok seperti pasir, batu dan lainnya jauh lebih melimpah di Lampung dari pada wilayah Kalimantan Timur,” ungkapnya.

Lampung, jelasnya, secara geostrategis, demografi, sumber kekayaan alam, ideologi, ekonomi, pertahanan dan keamanan, jauh lebih baik dan siap.”Ini berdasarkan kajian ilmiah yang melibatkan perguruan tinggi, para pakar berbagai bidang yang terkait dengan aspek-aspek yang dibutuhkan,” tandasnya.

Andi memberi masukan agar daerah Kalimantan dijadikan pusat energi dan pertahanan. Sebab wilayah itu memang memiliki potensi energi dan pertambangan yang besar serta dekat dengan negara tetangga. Sementara, daerah Sulawesi, Maluku dan Papua dijadikan pusat maritim dan ketahanan pangan karena secara sumberdaya memang potensial, Pulau Jawa dan Madura menjadi pusat industri dan tehnologi selain Jakarta tetap menjadi pusat bisnis dan perdagangan, Bali bersama NTB dan NTT dijadikan pusat pariwisata dan budaya nasional .

“Bicara Indonesia sentris, bukan harus memindahkan ibu kota di tengah-tengah, tapi bagaimana pembangunan wilayah dilakukan berdasarkan potensi serta ancaman dari masing-masing wilayah. Dan tentunya dengan membangun sentra ekonomi baru di setiap kawasan untuk dapat memberikan dampak multiplier secara signifikan serta menjamin pemerataan ekonomi,” terangnya.

Mantan Rektor Universitas Lampung, Prof. Sugeng P Heriuanto, menambahkan, Lampung memiliki lahan yang potensial untuk jadi lokasi IKN.”Selain milik pemerintah, juga masyarakat lebih terbuka untuk menerima pendatang. Ini syarat penting pemindahan IKN,” ungkapnya.

Menurut Prof. Sugeng, Bappenas harus kembali melihat potensi Lampung untuk dijadikan lokasi IKN.”Kita tidak pada posisi memaksa. Semua keputusan ada pada pemerintah pusat. Kami hanya memberikan gambaran agar dijadikan pertimbangan,” ungkapnya.

Ketua Masyarakat Tranfortasi Indonesia (MTI) Lampung, IB.Ilham Malik, mengatakan, menentukan lokasi IKN tentu dengan alat ukur yang jelas. Namun, alat ukur yang digunakan Bappenas belum tentu sama dengan alat ukur yang digunakan Tim Relawan DKILampung. “Lampung berharap dipertimbangkan, dikaji oleh Bappenas dengan alat ukur sehingga bisa diketahui seperti apa kesiapannya,” ujar Ilham Malik.

Bisa jadi, lanjutnya, Lampung memang kurang layak di banding daerah lain untuk jadi ibukota. Tapi bukan tidak mungkin Lampung justru paling layak.”Karena itu Bappenas diharapkan melakukan kajian juga terhadap Lampung dengan berbagai parameter atau alat ukur Bappenas sendiri,” tandasnya.

Deputi Pengembangan Regional Bappenas, Dr. Ir. Rudy Soeprihadi, menyampaikan banyak terimaksih pada Tim Relawan DKILampung yang telah bersedia memberi masukan. “Terimakasih sekali kawan-kawan dari Lampung sudah bersedia memberi saran dan masukan. Ini semua menjadi perhatian kita dan menjadi bahan untuk memperkaya kajian kami,” ungkapnya.

Menurut Rudi, proses pemindahan IKN ini sebenarnya tidak mendadak, justru berbagai kajian dan pembahasan sudah dilakukan sejak beberapa tahun lalu. Namun, memang tidak secara keseluruhan di buka ke publik. Sebab ini menyangkut lahan dan sangat sensitif.

“Tidak mendadak atau tergesa-gesa. Ini sudah lama prosesnya. Namun memang kita sangat hati-hati, ini menyangkut lahan dan hal-hal sensitif. Tapi kita menampung semua masukan dari banyak pihak,” ungkapnya.

Rudi mengatakan, dalam waktu dekat proses uji publik pemindahan ibukota akan dilakukan di hadapan Pansus DPR RI.”Sebelumnya kita juga membahasnya di kampus-kampus, akademisi dan lainnya. Dan apapun masukannya akan kita terima dan dipertimbangkan,” pungkasnya. (Maryadi)