oleh

Sueb Tewas di Puskes Wiralaga

Harianpilar.com, Mesuji – Sungguh malang nasib Juadi bin Sueb (45) warga Desa Wiralaga Dua, Kecamatan Mesuji, Kabupaten Mesuji harus meregang nyawa karena tidak mendapatkan penanganan medis. Korban yang mengalami sakit secara mendadak itu sudah sempat dibawa oleh keluarganya ke Puskesmas Rawat Inap (PRI) desa setempat, untuk mendapatkan pertolongan.

Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis malam (6/10/2016) lantaran tidak adanya tenaga medis baik perawat, bidan, maupun dokter yang berjaga di Puskesmas tersebut. Padahal semestinya petugas medis harus selalu siaga disana, mengingat statusnya adalah Puskesmas rawat inap.

Hal itu seperti diungkapkan oleh salah satu kerabat korban yang enggan menyebutkan namanya. Kepada media ini, sumber mengaku sangat kecewa dan kesal dengan seluruh oknum petugas Dinas  Kesehatan yang ada di puskesmas tersebut. Sebab, pada saat kejadian, dirinya bersama anggota keluarga yang lain sudah sejak pukul 23.30 – 01.30 WIB berada di Puskesmas mengantarkan Juadi untuk mendapatkan perawatan medis, tapi tak satupun petugas yang ada berada di puskes.

“Tak ada satupun orang yang kami temui disana, malah semua pintu dalam keadaan terkunci. Korban juga sempat dibawa ke rumah kepala Puskesmas. Lagi-lagi kecewa karena kepala puskesmas tidak bangun. Padahal saya sendiri sudah nekat lompat pagar rumahnya untuk membangunkan beliau, karena nyawa keluarga kami sudah diujung tanduk,” ujar sumber yang enggan namanya disebutkan itu.

Masih diungkapkan sumber media ini,  bahwa dirinya dibantu oleh warga lain, akhirnya memutuskan untuk mendatangi camat setempat kerumah dinasnya yang berada tak jauh dari kantor kecamatan. Akan tetapi pada saat itu, nyawa Juadi sudah tidak dapat diselamatkan setelah hampir 2 jam terlantar diatas perahu menunggu pertolongan.

Selanjutnya keluarga berinisiatif untuk menemui camat, lalu beliau langsung menghubungi kepala desa Wiralaga Dua, untuk membantu mencari petugas yang memegang kunci ambulans. Karena keluarga sepakat untuk membawa jenazah Juadi ke rumahnya di Simpang Penawar, Kabupaten Tulangbawang.

“Pukul 02.30 WIB sang petugas datang. Tetapi masalah tak berhenti sampai disitu, rupanya oknum petugas puskesmas yang saya tidak kenal identitasnya itu, meminta uang 500 ribu, untuk ongkos ambulans. Kalau mau jenazah keluarga kami itu diantarkan kesana. Apakah seperti ini nasib orang miskin? mau berobat susah, sampai sudah tidak bernyawa masih saja dibuat susah,” ungkapnya, Jumat (7/10/2016).

Terpisah, Camat Mesuji Sunardi, SE., saat dikonfirmasi terkait peristiwa itu membenarkan adanya masyarakatnya yang telah ditelantarkan pihak puskesmas setempat. Padahal, kondisi anggota keluarganya yang sedang sakit itu sudah sangat kritis, hingga akhirnya nyawanya tidak terselamatkan.

“Ya benar, memang mereka datang menemui saya sekitar pukul 01.30 WIB sembari membawa jasad keluarganya (Juadi. red) yang sudah tidak bernyawa lagi dengan menggunakan perahu. Mereka meminta saya untuk mencarikan ambulans, karena pihak keluarga sepakat jenazahnya akan dibawa ke Simpang Penawar, Tuba untuk dikebumikan,” kata Camat Minggu (9/10/2016).

Masih menurut camat, bahwa pihak keluarga Juadi yang merasa kesal dan marah dengan sikap para petugas medis di Puskesmas tersebut, sempat akan melampiaskan kekesalannya dengan merusak dan membakar pusat kesehatan masyarakat itu. Beruntung hal itu masih dapat dicegah dan tidak sampai terjadi.

“Memang sangat disayangkan sekali, satu-satunya fasilitas kesehatan yang ada disini, seharusnya dapat memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat. Justru kenyataannya berbeda, meski berstatus puskesmas rawat inap, SDM yang ada rupanya tidak bisa mewujudkan hal itu. Dokter yang semestinya siaga 24 jam disitu, ini malah lebih memilih tinggal jauh dari tempat dia bertugas, sehingga saat dibutuhkan seperti ini tidak bisa diandalkan,” tandas mantan Kepala Bagian Humas Protokol Setdakab Mesuji itu.

Hingga berita ini dibuat, pihak Puskesmas setempat belum bisa dikonfirmasi, baik kepala puskes maupun dokter yang bertugas disana semuanya tidak dapat dihubungi.

Begitu juga dengan pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mesuji baik kepala dinas, sekretaris, maupun kepala bidang yang membidangi urusan pelayanan tak satupun nomor telepon seluler (ponsel) nya yang aktif, mungkin karena hari libur. (Sandri/Mar)