Harianpilar.com, Bandarlampung – Demo lanjutan mahasiswa IAIN Lampung, yang melakukan aksi mogok makan berakhir di rumah sakit, setelah pihak keamanan kampus IAIN yang diduga dibekingi preman mengobrak abrik posko mogok makan mahasiswa, Jumat (20/5/2016) malam sekitar pukul 21.00 wib.
Akibatnya, mahasiswa yang tak berdaya tersebut tidak bisa berbuat apa-apa lantaran lemas dan dalam kondisi diinfus. Tercatat, tiga dari enam mahasiswa yang menggelar aksi mogok makan harus menjalani perawatan medis di rumah sakit Imanuel dan Urip Sumoharjo Bandarlampung.
Salah seorang mahasiswa korban aksi mogok makan yakni, Abiem Pangestu (Koben) mengungkapkan, jika pembubaran paksa posko mahasiswa mogok makan tersebut dipimpin langsung oleh pengawas Satpam Hasbi. Para Satpam dengan didampingi preman tersebut diduga dalam keadaan mabuk minuman keras (Miras).
“Koordinator satpamnya si Hasbi dan anak buahnya dan beberapa Satpam lainnya dan kawan-kawan sekitar ada 15 orang lebih. Mereka marah-marah ngebentak dan maksa juga untuk disuruh pindah. Banner dan posko kami itu juga langsung dibongkar paksa kan didalam juga lagi pada diimpus. Kami nggak bisa berbuat apa-apa karena keadaan juga lagi lemas,” ungkap Koben, saat ditemui di Rumah Sakit Uripsumoharjo, Sabtu (21/5/2016).
Masih kata korban, pembubaran posko aksi mogok makan yang dilakukan pihak keamanan IAIN sangat tidak manusiawi dengan melakukan intimidasi.
“Brutal sekali pada saat bongkar posko kami, diobrak-abrik, ya selayaknya memang orang mabuk , bentak-bentak nggak karuan sampai kami didorong-dorong,” ujarnya.
Diungkapkan Koben, jika saat ini para keamanan dan preman masih mencari para mahasisw baik di dalam kampus maupun di luar kampus.
“Kalau untuk teror denger-denger ada beberapa preman yang nyariin kawan-kawan, jadi kami juga kurang bebas kalau mau gerak, takut , apalagi preman-premannya ada di dalam kampus juga,” kata Koben.
Sebelumnya, aksi Aliansi Mahasiswa Peduli IAIN (AMPI), Jumat (20/5/2016) berakhir ricuh. Aksi dorong mendorong tak terelakan hingga terjadi batu hantam antara mahasiswa, petugas keamanan (Satpam) dan Kepolisian.
Akibat aksi tersebut, Koordinator Aksi Pupung, digelandang aparat kepolisian, hingga mengalami patah tulang kaki.
Sebelumnya, para mahasiswa melakukan penyegelan terhadap sejumlah gedung fakultas, serta memboikot aktifitas perkuliahan. Langkah tegas mahasiswa ini lantaran pihak rektorat tidak bersedia membuka ruang dialog terkait sejumlah tuntutan mahasiswa.
Dalam akisnya, mahasiswa menuntut serta menolak adanya praktik pungli, penghapusan pembekuan UKM SBI, mengembalikan nama baik 16 massa aksi yang diamankan aparat kepilisian, menolak keras setiap tindakan refresifitas dan menghentikan tindakan pembregusan kreatifitas mahasiswa oleh pihak rektorat dan meminta maaf kepada seluruh masyarakat Lampung baik secara tertulis maupun lisan atas tindakan yang tidak menyenangkan terhadap massa aksi. (Ramona/Juanda)









