Harianpilar.com, Tanggamus – Bupati Tanggamus Hi. Bambang Kurniawan, S.T berikan catatan dalam kunjungannya ke lokasi industri ubur-ubur yang terdapat di Pekon Kiluan, Kecamatan Kelumbayan.
Kunjungan orang nomor satu di Bumi begawi Jejama ke lokasi industri ubur-ubur tersebut, terkait dengan adanya keluhan dari masyarakat akan limbah ubur-ubur yang dikhawatirkan mencemari lingkungan sekitar.
Apalagi, kiluan merupakan lokasi wisata ekosistem kebanggan Tanggamus.
Dalam kunjungannya, Bambang menyampaikan beberapa catatan penting yang harus di perhatikan dan wajib dijalankan oleh pihak investor industri ubur-ubur. Yang pertama, pihak investor harus melengkapi industri ubur-uburnya dengan unit pengolahan limbah produksi. Karena memang adanya unit pengolahan limbah sangat penting, guna mengatasi limbah ubur-ubur agar tidak mencemari lingkungan sekitar.
Yang mana nantinya, untuk teknis pengelolaan limbah. Akan di berikan pemahaman oleh Badan pengelolaan lingkungan hidup dan kebersihan (BPLH-K) Tanggamus dibantu dengan Camat serta unsur pimpinan Pekon.
“Saya tidak mau ini di langgar, harus dilaksanakan. Sampaikan kepada investornya, harus melengkapinya dengan disediakannya unit pengolahan limbah. Karena saya sudah mengizinkan industri pengolahan limbah ada di Kiluan ini,” kata Bambang, saat kunjungan ke Kiluan, beberapa waktu lalu.
Catatan yang kedua, Bupati Tanggamus menginginkan industri pengolahan ubur-ubur menjadi industri terpusat. Dalam artian, industri ubur-ubur yang saat ini masih terpencar menjadi beberapa bagian, menjadi satu atau maksimal dua insdustri. Sehingga dengan menjadi industri terpusat, pihak Pemkab Tanggamus mudah untuk memonitoring/mengawasi aktifitas industri pengolahan ubur-ubur.
“Maka dari itu saya minta kepada Kepala Pekon setempat untuk menjadikan industri ubu-ubur menjadi terpusat. Kalau sekarang kan masih masing-masing, karena dengan demikian. Kita mudah untuk melakukan pengawasan.” ujar Pun Bambang, sapaan akrabnya.
Ia menegaskan, ini semua di lakukan agar. Pariwisata kiluan yang mengusung ekowisata tidak tercemari oleh limbah ubur-ubur, yang berdampak pada hilangnya image kelumbayan sebagai wisata pantai dengan sejuta keindahan biota lautnya, seperti lumba-lumba, penyu hijaunya dimata para penikmat wisata/wisatawan, baik lokal dan international.
“Karena kita berbicara wisata kiluan bukan untuk saat ini saja, akan tetapi kita berbicara wisata kiluan dalam jangka panjang. Maka dari itu, jangan lah di cemari oleh limbah-limbah dari industri ubur-ubur yang membuat kiluan tidak ada lagi di kunjungi,” harapnya. (Imron/JJ)









