oleh

Petani Lampung ‘Menjerit’

Harianpilar.com, Bandarlampung – Para petani di Lampung saat ini mengalami berbagai kesulitan. Mulai dari kekeringan hingga kelangkaan pupuk bersubsidi. Kondisi ini semakin mendera kehidupan para petani terutama secara ekonomi.

Kesulitan seperti ini hampir dirasakan para petani di seluruh Lampung, jika tidak ada tindakan nyata dari pemerintah untuk mengatasi berbagai kepelikan petani itu, maka dipastikan para petani akan terjerambab dalam kemiskinan yang parah.

Seperti para petani di Lampung Barat, selain mengalami kekeringan, para petani juga kesulitan dalam memperoleh pupuk bersubsidi setelah memasuki musim tanam. Pupuk bersubsidi langka termasuk ditingkatan distributor maupun pengecer.

Salah satu petani di Pekon Way Pulau Ulu Lambar, Umbarno, mengaku kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi jenis Phonska dan SP3 untuk membantu pertumbuhan tanamannya.”Kami sudah ke kios-kios pupuk di Balik Bukit ini mas, tetapi sampai hari ini (kemarin) saya belum mendapatkan pupuk,” keluhnya.

Seharusnya tanaman padi sekitar dua minggu itu harus dipupuk, sehingga tanaman itu bisa tumbuh, akan tetapi sudah satu minggu lebih dia belum memperoleh pupuk bersubsidi tersebut.
“Kami bingung mas, gimana caranya kami ini mendapatkan pupuk, sementara padi sudah berusia satu minggu lebih. Mungkin ada yang non subsidi tetapi sangat mahal, petani tradisional seperti kami ini mana bisa membelinya,” ujar Umarno.

Dia berharap kepada Pemerintah Daerah dalam hal ini Dinas Pertanian dan semua stakeholder untuk memperhatikan nasib para petani.

Kondisi tak jauh berbeda di alami para petani di Kabupaten Tulangbawang Barat. Para petani juga mengalami kesulitan dan terancam gagalpanen akibat kesulitan air. Bahkan, untuk keperluan air sehari-hari saja warga kesulitan memenuhinya.

Candra salah satu warga Tiyuh Penumangan Kecamatan Tulangbawang Timur, mengatakan warga saat ini harus mengantri saat mengambil air di sumur bor dan rawa-rawa. “Kita antrian, karna memang didusun kita yang terdekat sementara waktu baru ada 2 sumur bor,” kata dia.

Kekeringan juga mengancam kehidupan para petani, para petani mulai dihantui kekekhawatiran gagal panen.”Iya mas tanaman mulai tidak sehat tumbuhnya.Kami khawtair gagal panen,” ujar salah satu petani setempat, Paryadi.

Menurutnya, saat ini secara ekonomi para petani sudah kesulitan, apa lagi jika nanti ditambah gagal panen.”Kami berharap pemerintah memperhatinkan nasib petani, terutama mencarikan solusi agar ladang pertanian bisa dialiri air,” tutupnya. (Doni/Epriwan)