Harianpilar.com, Tanggamus – Dinas Pendidikan (Disdik) Tanggamus terus menggeber mutu para pendidik dan pengelola PAUD di kabupaten setempat. Karena dirasa, hingga saat ini kualitasnya masih di bawah standar kompetensi yang seharusnya.
Sebagaimana diamanatkan Bunda PAUD Tanggamus Hj. Dewi Handajani saat launching Program Peduli PAUD pada Oktober 2014 lalu, PAUD berperan sangat signifikan menjadi bekal pembentukan diri seorang anak. Generasi penerus bangsa itu harus dididik menjadi orang yang memiliki kemampuan berpikir kreatif, inovatif, berkepribadian mulia dan cinta tanah air, serta bangga menjadi orang Indonesia, sebagaimana yang digagas dalam Kurikulum 2014.
Sehingga untuk mewujudkan semua cita-cita tersebut, Disdik merupakan salah satu instansi yang cukup bertanggungjawab terhadap perkembangan PAUD di Tanggamus. Kasi PAUD Yauyustis, mewakili Kepala Disdik Tanggamus Anas Ansori mengatakan, sebagai instansi yang bertanggungjawab terhadap pendidikan, kegiatan workshop bagi pendidik dan pengelola akan terus dilakukan.
“Kami terus lakukan pelatihan rutin, dalam hal ini materi yang diberikan adalah penyegaran materi tentang semua yang berkaitan dengan PAUD. Sehingga, mutu pendidikan di PAUD juga meningkat,” katanya.
Ia mengaku, untuk peningkatan mutu tersebut memang didukung sepenuhnya oleh Bunda PAUD Tanggamus Dewi Handajani yang selalu hadir apabila ada pelatihan, meskipun pesertanya sedikit. Dan untuk pelatihan saat ini digelar selama sepekan di Disdik Tanggamus, yang jadwalnya terbagi dua gelombang, tiap gelombang pesertanya 50 orang pendidik dan pengelola.
“Materi pelatihan yang diberikan berupa penyegaran kurikum yang menekankan bermain sambil belajar. Sebab PAUD memang mengutamakan bermain. Kemudian disampaikan juga masalah kesehatan, gizi, etika belajar dan pendidik, metode pembelajaran, deteksi kemampuan dini, pentingnya bermain bagi anak, serta hal-hal lainnya,” terang lauyustis.
Ia mengakui, kemampuan pendidik dan pengelola PAUD memang masih di bawah kompetensi, dibandingkan dengan kualitas pendidik pendidikan formal seperti SD, SMP, dan SMA. Hal ini karena lembaga pendidikan PAUD masih baru kemudian segala sesuatunya bersifat mandiri. Berbeda dengan sekolahan yang menginduk pada yayasan atau pemerintah. Lalu sarana dan prasarananya juga disediakan, tentunya perlakukan ini berbeda dengan lembaga PAUD. (Imron/JJ)









