Harianpilar.com, Tanggamus – PT Tanggamus Electrik Power (TEP) pelaksana pengerjaan pembangkit listrik tenaga air mikro (PLTAM), menargetkan bisa beroperasional di tahun 2018.
Kepala Bagian Humas PT TEP Rozi mengatakan, hal itu merupakan target produksi, dalam artian sudah ditetapkan. Sebab pihaknya mesti bertanggung jawab terhadap penanam saham di PT TEP, yakni Komipo Global Pte Ltd, Posco Engineering Co. Ltd, keduanya dari Korea, lalu PT Bina Nusantara, PT Nusantara Hydro Alam dari Indonesia. “Jadi bentuknya konsorsium dan selama ini kami sudah menargetkan 2018 listrik sudah bisa diproduksi,” katanya, Minggu (26/4/2015).
Dalam melakukan aktifitas nantinya, ujarnya, PT TEP memanfaatkan sungai dan aliran anak Sungai Way Semaka di Register 39, Kecamatan Semaka. Teknisnya tentu dengan cara mengelola air yang mengalir untuk menggerakan turbin penghasil listrik.
Namun PT TEP tidak membendung Way Semaka seperti PLTA Batu Tegi, melainkan mengelolanya dalam bentuk tenaga mikro. Pecahan aliran yang selama ini ada direkayasa sehingga bisa menghasilkan tenaga untuk menggerakan turbin listrik.
“Polanya tidak dibendung, hanya membuat jalur-jalur air untuk menggerakan turbin, lalu air dikembalikan lagi ke sungai. Jadi disana nantinya ada puluhan turbin yang saat ini semua sedang dalam proses pembuatan. Selanjutnya listrik yang dihasilkan dari turbin-turbin itu digabungkan dalam satu pos, selanjutnya baru dialirkan ke PLN sebagai pihak pembeli listrik yang dihasilkan,” terang Rozi.
Ia mengaku, Tanggamus memiliki potensi sumber tenaga listrik dengan pemanfaatan air.Dan PT TEP sendiri sudah perhitungkan antara Tanggamus dan Lampung Barat. Keduanya sama-sama besar, namun untuk di Tanggamus PT TEP menilai lebih di untungkan,pasalnya pemerintah setempat memfasilitasi soal perizinan dan memperlancar pembangunan, maka pilihannya ke Tanggamus. “Memang kami memperhitungkan segala hal termasuk perizinan, dan pemerintah daerah membantu izin hingga ke gubernur maka akhirnya dibangun disini,” Ungkapnya.
Sementara itu PT TEP sudah menargetkan dengan investasinya sebesar Rp 3 triliun, dan untuk saat ini dana tersebut sudah digunakan,seperti untuk proses pembangunan, pemberian tali asih ke warga yang tinggal di hutan lindung, dan penggantian kewajiban sebagai pihak yang menggunkan hutan lindung berupa kopensasi ganti dua kali lipat lahan Hutan Lindung yang dilakukan di Kec. Kelumbayan dengan area seluas 186 hektar dan hal itu sudah dihutankan. Kemudian membayar dana tegakan sesuai nilai pohon di lahan yang digunakan PT TEP ke Kementerian Kehutanan.
“Dalam pembangunan ini kami juga sudah perhitungkan jarak, dan tingkat keamanan, penyusutan air sungai, pertumbuhan ekonomi Tanggamus dan potensi industri yang akan tumbuh disini. Begitu pun dengan devisit listrik di Tanggamus yang termasuk cukup besar,” ujar Rozi lagi.
Ia mengaku, nantinya listrik yang dihasilkan tidak untuk suplai di Tanggamus semata, melainkan pula dikirimkan untuk kebupaten/kota di Lampung oleh PLN. Hal itu karena listrik yang dihasilkan sebanyak 56 megawatt dan itu bisa mengcover Lampung. Dan sejauh ini perjalanan pembangunan tidak ada kendala,menurutnya apabila ada hambatan kecil itu dinilai wajar, sebab proyek ini merupakan pekerjaan besar. (Imron/JJ)









