Harianpilar.com, Tanggamus – Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Tanggamus menyatakan, stok cadangan beras pemerintah (CBP) kabupaten ini sebanyak 100 ton untuk satu tahun.
Kepala Dinsosnakertrans Tanggamus Sabarudin mengatakan, CBP diberikan langsung oleh Pemerintah Pusat kepada setiap kabupaten/kota di seluruh wilayah Indonesia. Di mana, CBP bisa digunakan untuk bantuan para korban bencana bilamana terjadi bencana ataupun kerusuhan di suatu kabupaten/kota. Dan CBP di titipkan di Bulog.
“CBP itu dikhususkan untuk bantuan pangan jika bencana terjadi. Dengan catatan ada surat rekomendasi bencana dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tanggamus yang ditanda tangani oleh Bupati Tanggamus H. Bambang Kurniawan, S.T, dan itu sifatnya Emergency,” jelasnya, Minggu (8/3/2015).
CBP ini sendiri, katanya, tidak di patok satu tahun harus habis. Karena, habis atau tidaknya CBP yang ada di Bulog. Tergantung dengan musibah bencana yang ada, jika dalam satu tahun banyak terjadi bencana alam di suatu wilayah dalam kabupaten/kota. Maka besar kemungkinan stok CBP yang di berikan oleh Pemerintah Pusat habis, dan jika kekurangan, maka Pemkab/kota bisa meminta kembali tambahan CBP ke Pusat.
“Seperti tahun 2014 lalu, dari stok CBP yang ada. Hanya terpakai sekitar 20 ton saja, dan tersisa 80 ton beras lagi. Nah sistematisnya, sisa CBP dalam satu tahun tersebut tidak kemudian ditambah kekurangan untuk tahun depan. Tapi sisa CBP yang ada dikembalikan lagi ke kas beras nasional. Yang kemudian, Pusat akan kembali mengirimkan CBP dengan hitungan 100 ton pertahunnya,” ungkap mantan Kabag Humas Pemkab Tanggamus ini.
Ditambahkannya, hitungannya sendiri, jika terjadi bencana, 4 ons perkepala selama penanggulangan bencana yakni selama tujuh hari. Jadi 4 ons perorang dikali selama 7 hari sama dengan 28 ons, jadi semakin banyak orang dalam satu Kepala Keluarga (KK). Maka akan semakin banyak bantuan beras yang akan di terimanya. Dan untuk masyarakat yang tidak terkena bencana tapi membantu proses evakuasi atau dalam artian gotong royong, juga mendapatkan bantuan beras dari CBP.
“Akan tetapi hitungannya tidak sebanyak dengan korban bencana. Dan para korban bencana yang juga ikut gotong royong, akan mendapatkan jatah double. Dimana dari hitungan bantuan beras sebagai korban bencana dapet di tambah bantuan dari gotong royong. Dan bila berbicara soal kualitas, sama seperti beras miskin (Raskin) dan kita menjamin CBP tidak berkutu atau pun bau. Hanya saja paling bila dimasak, warnanya agak kemerahan. Dan stok CBP sendiri tidak pernah mengalami pengurangan disetiap tahunnya dari Pusat, tetap pada angka 100 ton,” pungkasnya. (Imron/JJ).









