Harianpilar.com, Metro – Persatuan Pedagang Pasar Kopindo Kota Metro, mengaku tidak pernah diajak urun rembuk dan pemberitahuan yang tepat atas proses pembangunan pasar terpadu eks Nuban Ria dan Kopindo. Perwakilan pedagang Kopindo meminta pemerintah mengevaluasi dan transparansinya kepada masyarakat pedagang atas pembangunan pasar terpadu tersebut.
“Kami para pedagang selama ini merasa dibodohi, semua rencana pembangunan khususnya pasar, selalu saja pedagang di usik. Pedagang tidak alergi atas pembangunan yang ada, hanya saja proses awal perlu adanya musyawarah, komunikasi urun rembuk dan tentunya keterbukaan. Agar dalam pelaksanaannya tidak menimbulkan persoalan yang menghambat,” ungkap perwakilan pedagang pasar Kopindo Kota Metro Fauza. SH. didampingi H.Najwar dan sekitar 50-an pedagang kopindo saat pertemuan intern pedagang dan Pemerintah di rumah dinas Walikota Lukman Hakim, Sabtu (07/03/2015) sekitar pukul 20.00 WIB.
Dalam pertemuan kami, dikatakan Fauza, hanya meminta pembahasan detil atas pembangunan pasar terpadu tersebut. Dan diminta juga pembelian harga toko atau ruko nantinya tidak terlalu mahal. Pemerintah juga sesogyanya dapat tegas, jika memang sudah diadakan relokasi kami di terminal kota, maka cukupkan untuk semua pedagang Kopindo, jangan ada tangan orang lain yang mematok-matok lokasi untuk di sewa belikan.
“Pedagang tidak akan rewel, kalau saja Pemerintah sendiri dapat bijak dalam semua kebijakan yang akan diambil untuk memajukan Kota Metro agar lebih indah, rapih dan bersih. Ketika ada hal seperti ini, tuntutan pedagang selaku masyarakat Metro, jangan dianggap menghambat, justru Pemerintah perlu pengevaluasian yang lebih bijak pro ke masyarakatnya,”ungkapnya.
Perlu jadi pertimbangan kembali, Fauza melanjutkan, menjadi pelajaran pengalaman besar atas pembangunan Metro Mega Mall yang samapi saat ini tidak jelas. Berkenaan dengan pembangunan Pasar Kopindo ini jangan sampai terjadi seperti yang ada.
“Banyak alasan pedagang terhadap pembangunan pasar terpadu itu, yang semestinya di bahas satu meja, antara Pemerintah-pedagang dan pengembang. Artinya ekspose rencana pembangunan dilakukan lebih laik transparansianya kepada pedagang, karena kami adalah objek utama dalam pasar itu,”ujarnya.
Dari kesemua ini, ditambahkan Fauza, meminta pemerintah khususnya Walikota Lukman Hakim dan jajaranya, kembali mengevaluasi dan mengajak pedagang bermusyawarah membahas hal yang berkaitan dengan pedagang dan pasar, maksudnya win solution yang di cari dalam hal ini.
“Kami tak akan meminta lebih, hanya saja jika ada kebijakan yang lebih baik dan tidak merugikan satu sama lain maka perlu urun rembuk itu, berapa relokasi, harga ruko toko nantinya membebani pedagang atau tidaknya, berapa lama pembangunan itu targetnya, nah ini perlu di bahas, khususnya pemohonan pedagang agar tidak menjadi ke khawatiran,”imbuhnya.
Sementara Walikota Metro Lukman Hakim, menjelaskan, masalah permintaan pedagang Kopindo itu hanya sebatas pertimbangan untuk Pemerintah Metro. Khusus untuk relokasi pedagang yang sementara ini di bangun di areal terminal Kota Metro, sudah pasti hak dari pedagang Kopindo, bukan untuk orang lain.
Untuk hal lainnya, akan di bahas kembali di lain waktu, yang tentunya berkenaan dengan pembangunan pasar terpadu itu. Sebenarnya dari jauh hari Pemerintah sudah melakukan pendekatan dan pemberitahuan rencana pembangunan tersebut.
“Kita baru memulainya eks Nuban ria, dan baru akan mengarah ke Kopindo, dan pengembang sudah sedininya menyiapkan relokasi sementara sesuai jumlah pedagang yang ada. Sementara kan baru titik Eks Nuban Ria, selah waktu masih ada, maka ini lah moment nya membahasa bersama, apa- apa yang menjadi keluhan pedagang Kopindo,”ujarnya. (Romzi/JJ).









