Harianpilar.com, Bandarlampung – Pengetahuan masyarakat akan rencana pemilihan kepala daerah serentak pada 2015 masih rendah tak sebanding dengan prediksi antusias masyarakat di delapan kabupaten kota se – Lampung dalam menghadapi perhelatan pesta demokrasi rakyat tersebut secara serentak.
Bagaimana tidak, dari hasil survey yang dilakukan oleh Rakata Institute sejak 7 sampai dengan 13 Februari diketahui jika antusiasme masyarakat di delapan daerah tersebut dalam menghadapi pilkada serentak 2015 mencapai 95,25 persen dimana hanya 0,75 persen saja yang diprediksi tidak berpartisipasi dengan 4 persen sample yang tidak memberikan jawaban. Praktek pragmatisme pun akan tetap menjadi ‘momok’ dalam sistem pelaksanaan pilkada langsung oleh rakyat.
“Hasil ini mengindikasikan antusias publik untuk berpartisipasi dalam pilkada masih sangat tinggi,” kata Direktur Eksekutif Rakata Institute, Eko Kuswanto, belum lama ini.
Meski demikian, Eko memberikan warning kepada KPU setempat untuk memininalisir faktor yang akan menyebabkan rendahnya partisipasi masyarakat, seperti dengan cara mempermudah akses publik dalam menggunakan hak pilihnya.
Hal yang berbanding terbalik dengan tingkat pengetahuan masyarakat mengenai rencana pilkada yang akan dilaksanakan serentak tahun ini. Dari hasil survey, Eko menyatakan hanya sebesar 39,75 persen saja yang mengetahui wacana tersebut dengan kisaran 14,25 persen yang tidak memberikan jawaban. “Diduga kesimpangsiuran sistem pilkada antara langsung oleh rakyat atau DPRD disinyalir sebagai penyebab masyarakat belum mengetahui waktu pelaksanaan pilkada langsung serentak pada Desember 2015 ini,” ucapnya.
Hal tersebut menurut Eko sebagai pekerjaan rumah besar bagi KPU untuk segera melakukan sosialisasi secara masif, terstruktur dan sistematis agar tingkat partisipasi masyarakat dapat dioptimalkan.
Persoalan lain pun akan muncul dan membayang – bayangi sistem pelaksanaan pilkada oleh rakyat dimana 33,50 persen masyarakat menganggap pemberian barang atau uang oleh kandidat merupakan tindakan yang wajar. “Perlu sebuah sistem pengawasan yang sangat ketat dari seluruh elemen masyarakat untui mengawal pilkada langsung oleh rakyat ini agar bersih dari unsur politik uang dan atau barang,” tutupnya.
Lembaga survei ini mendata 400 responden pada 8 kabupaten/kota se-Lampung yang akan melakukan pilkada tahun ini. Survei dilaksanakan pada 7-13 Februari 2015. Calon pemilih dari 8 kabupaten/kota diasumsikan sebagai sebuah populasi.
“Sampel dicuplik menggunakan metode stratified random sampling dengan tingkat kepercayaan 95% serta toleransi kesalahan (margin of error) plus minus 5%. Wawancara terhadap responden dilakukan secara tatap muka,” pungkas Eko. (Lia/JJ).









