oleh

Ribuan Mahasiswa Unila Tolak UKT

laporan: Buhori
Editor: Juanda

Bandarlampung (Harian Pilar) – Ribuan Mahasiswa Universitas Lampung (Unila) melakukan aksi unjuk rasa di depan halaman Rektorat Unila, Kamis (13/11). Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli UKT itu, menuntut penghapusan uang kuliah tunggal (UKT) karena dinilai sangat memberatkan mahasiswa.

Koordinator aksi Febrianto dalam orasinya menyampaikan, berdasarkan Surat Edaran Dirjen Dikti Nomor 272/ET.I.KU/2013 Tanggal 3 April tentang UKT, seharusnya minimal 5% mahasiswa dari penerimaan tiap tahun yang UKT nya di bawah satu juta. Mereka menilai UKT yang dibebankan kepada mahasiswa mulai dari Rp 1 juta hingga Rp 8 juta, sangat memberatkan.

“Namun di Unila tidak kita temukan, memang sistem perhitungannya yang salah atau justru ada unsur lain yang membuat kebijakan itu tidak ditemui di Unila, sebab biaya segitu memberatkan kami,” ungkapnya.

Diungkapkannya, dengan biaya kuliah yang tinggi, seharusnya sesuai dengan pengadaan fasilitas perkuliahan, pengembangan mutu dan pelayanan akademik di Unila.

“Ini hanya slogan yang hilang begitu saja, masalah akreditasi Unila yang sampai saat ini masih C kemudian ditambah beberapa instansi pemerintah dan lembaga pemerintah serta sebagian perusahaan tidak menerima lulusan dari perguruan tinggi yang terakditasi C. Sedangkan kita membayar uang kuliah yang begitu tinggi , dengan tidak dibarengi perbaikkan mutu pendidikan di Unila. Kemudian siapa yang akan menerima lulusan Unila, ini masalahkan bagi kami,” ungkapnya.

Selanjutnya Febrianto menerangkan, sebelumnya mereka telah mengambil data quisioner Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Ekonomi, dengan hasil bahwa mahasiswa merasa keberatan dengan UKT.

“DPM Fakultas Ekonomi Unila setelah menyebar quesioner ketiga jurusan yaitu S1 manajemen, S1 Akutansi dan Diploma III dari 193 quesioner yang disebar terdapat 171 mahasiswa yang merasa keberatan terhadap UKT dan hanya 22 mahasiswa yang tidak merasa keberatan,” ujarnya.

Demo yang diwarnai dengan aksi teatrikat mahasiswa itu, nyaris menimbulkan kerusuhan, saat mahasiswa membakar keranda mereka sebagai bentuk protes dan duka cita atas matinya hati pejabat Rektorant Unila, Satpam pun langsung berusaha memadamkan apai dengan menyemprotkan gas di keranda yang dibakar tersebut.

Setelah beberapa lama melakukan unjuk rasa, akhirnya pihak Unila yang diwakili Wakil Rektor Dwi Haryono menemui dan menenangkan massa, dan bersedia melakukan mediasi.

“Untuk itu Kami Aliansi Peduli UKT Badan Ekskutif Mahasisiwa se-Unila. Menuntut Wakil Rektor 2 dan bapak Rektor Unila untuk memverifikasi ulang UKT Mahasiswa 2013 dan 2014 sesuai dengan keadaan mahasiswa, menyampaikan transparansi penentuan UKT kepada seluruh mahasiswa, tentukan indikator penentuan UKT dan upayakan penerapan UKT di Unila tepat sasaran,” tegas Febrianto.