oleh

Sejumlah Petahana Terancam Tumbang

Harianpilar.com, Bandarlampung – Calon kepala daerah incumben kerap kali dianggap memiliki peluang menang lebih besar dari pada penantangnya. Namun hal itu belum terlihat pada pilkada sejumlah kabupaten/kota di Lampung. Sebab dalam hasil jejak pendapat terbaru beberapa calon petahana justru terancam tumbang. Disisa waktu yang sedikit, petahana memiliki tantangan besar untuk meningkatkan elektabilitas.

Merujuk pada hasil survey Departemen Riset, Penelitian dan Pengembangan Radar Lampung Media Group (Litbang RLMG), dari 11 petahana yang ikut kembali dalam kontestasi Pilkada serentak 2024 di Lampung, terdapat enam petahana yang hasil jejak pendapatnya tertinggal. Yakni Dawam Rahardjo, Ali Rahman, Wahdi Sirajudin, Nanang Ermanto dan Dewi Handajani.

Untuk Lampung Timur, elektabilitas calon incumbent yang diusung PDI Perjuangan Dawam Rahardjo-Ketut Erawan tercatat cuma 41,40% dan kalah dengan penantangnya Ela Siti Nuryamah-Azwar Hadi yang semakin kokoh dengan raihan dukungan publik mencapai 56,60%. Pasangan yang diusung koalisi PKB, Golkar, Gerindra, NasDem, Demokrat, PAN, PKS, dan PPP menguasai peta dukungan di kabupaten dengan populasi lebih dari 822 ribu pemilih ini.

Di Way Kanan, elektabilitas calon incumbent Ali Rahman-Ayu Asalasiyah kalah tipis dari penantangnya Resmen Khadapi-Cik Raden. Pasangan nomor urut 1 Resmen-Cik Raden unggul dengan perolehan 46,20%. Sedangkan, pasangan nomor urut 2 Ali-Ayu hanya meraih dukungan 45,80%. Menariknya, ada 8% pemilih yang belum memutuskan pilihannya.

Di Metro, elektabilitas petahana Wahdi Siradjudin-Qomaru Zaman disalip penantangnya Bambang Iman Santoso-M. Rafieq Adi Pradana. Bambang-Rafieq mendapat dukungan 52,60%, meninggalkan Wahdi-Qomaru yang meraih 38,00%. Sedangkan total yang belum memutuskan pilihan 9,40%.

Di Lampung Selatan, Pasangan Radityo Egi dan M. Syaiful Anwar memimpin dalam elektabilitas calon Bupati-Wakil Bupati  Lampung Selatan dengan dukungan 50,80%. Sementara petahana Nanang Ermanto-Antoni Imam memperoleh 39,80%. Dengan 9,40% pemilih yang belum memutuskan, persaingan menuju kursi bupati semakin menarik.

Di Tanggamus, Calon Bupati dan Wakil Bupati Tanggamus M. Saleh Asnawi-Agus Suranto meraih elektabilitas signifikan dengan dukungan mencapai 59,80%. Mereka unggul jauh dari calon petahana, Dewi Handajani-Ammar Siradjudin, yang mendapatkan 39,80%. Sementara, 1,40% responden mengaku belum memutuskan pilihan.

Pengamat politik dari Universitas Lampung (Unila) Sigit Krisbiantoro, menilai kinerja dan jaringan menjadi faktor banyaknya petahana yang terancam tumbang dalam pilkada serentak di sejumlah kabupaten/kota se-Provinsi Lampung. Selain itu, konsolidasi partai pengusung juga menjadi kunci keberhasilan petahana dalam pilkada.

Sigit menyampaikan, tumbang tidaknya petahana tergantung hasil kinerja mereka selama menjabat, dan hasil kinerja ini apakah sudah tersosialisasi sampai kebawah.

“Kemudian seberapa besar jaringan yang dibangun selama ini, termasuk konsolidasi  parpol pengusung untuk memperkuat jaringan sampai ke akar rumput,” ungkapnya.

Sigit juga menyoroti preferensi pemilih atau prilaku elektoral yang menurutnya bisa saja berubah sewaktu waktu, khususnya generasi z dan generasi milenial.

“Generasi ini merupakan pemilih dominan dalam pilkada dan cenderung merubah pilihan tergantung moody, termasuk pemilih pedesaan yang tidak tersentuh informasi bisa saja belum menentukan pilihan atau kesulitan memilih,” bebernya.

Sigit juga mengingatkan para petahana bergerak cepat untuk meningkatkan elektabilitasnya di sisa waktu kampanye yang sebentar lagi. Caranya dengan melakukan pendekatan dan meyakinkan generasi z dan generasi milineal untuk bisa memilih

Serta melakukan pendekatan dan peyakinan  terhadap pemilih di tingkat rural area (area pedesaan) yang belum tersentuh informasi tentang pilkada. “Tentu hal ini juga harus didukung parpol pengusung untuk memperkuat jaringan pemilih,” pungkasnya. (*)