Harianpilar.com, Tanggamus – Warga Pekon Tanjung Kurung dan Balak atau yang kerap disebut Pekon Atas, Kecamatan Wonosobo, Tanggamus, mengharapkan adanya bantuan dari Pemkab Tanggamus untuk sarana air bersih.
Seperti yang di ungkapkan oleh Syahrul, warga Tanjung Kurung, menyatakan bahwa krisis air bersih di wilayahnya sudah berlangsung cukup lama. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Warga setempat, terkhusus kaum pria, harus berjalan sejauh dua kilometer dari pemukiman menuju ke sungai di bendungan Way ngarip. Bahkan, kaum wanita pun turut pula mencuci pakaian di di sungai bendungan way ngarip. “Ya kita setiap harinya mengambil air ke sungai way ngarip. Kalau tidak begitu, maka di rumah gak ada air minum dan mencuci beras. Capek sih pasti ya mas, tapi mau gimana lagi. Kondisinya memang sudah seperti ini,” ujar Syahrul, Minggu (11/10/2015).
Menurut Syahrul, kesulitan air bersih di perparah dengan masuknya musim kemarau panjang yang terjadi seperti sekarang ini. Karena aliran air sungai Way Ngarip mengecil dan di pinggiran sungainya, banyak perserakan sampah rumah tangga terutapa pempers bayi. Apalagi, aliran air sungai di musim kemarau panjang ini sebagian besar di alirkan ke area persawahan yang ada di Kecamatan Wonosobo. “Terkadang kita itu merasa jorok ya mas mengambil air di sungai. Karena aliran air kecil, sudah itu banyak pempers bayi yang di buang ke pinggir sungai. Jadi kebawa hanyut tidak, yang ada mengendap di pinggir sungai.” ucapnya.
Ia menambahkan, bahwa sedikit sekali masyarakat di wilayahnya yang memiliki sumur. Itu dikarenakan, sulitnya menemukan mata air tanah, meskipun penggalian sumur sudah mencapai puluhan meter. Maka dari itu, warga banyak yang enggan membuat sumur. “Salah satu faktor kenapa susah menemukan mata air tanah, mungkin karena wilayah kami berada di dataran tinggi. Sehingga mata air susah untuk di temukan. Tapi kami berharap, Pemkab Tanggamus bisa mencarikan jalan keluar dari kesulitan air bersih ini,” harapnya. (imron/joe)









