Harianpilar.com, Bandarlampung – Badan Meteologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Provinsi Lampung memprediksi tahun ini musim kemarau di Provinsi Lampung akan berlangsung cukup panjang hingga November mendatang. Musim kemarau panjang ini disebabkan pengaruh El-Nino Moderat yang saat ini melanda.
Kepala Klimatologi BMKG Rahmatullah Aji mengatakan, musim kemarau tahun ini akan lebih panjang untuk Lampung, musim kemarau sebenarnya telah dimulai sejak bulan Mei lalu, namun secara umum mulai berkurangnya curah hujan baru dimulai pada pertengahan bulan Juni.
Terkait pengaruh El-Nino saat ini, Sugiono menjelaskan, dampak El-Nino moderat sedikit banyak bisa mempengaruhi musim kemarau di Lampung.
“Ddengan adanya gejala ini musim kemarau dapat lebih panjang masanya,” jelasnya melalui telepon selulernya, Rabu (1/7/2015).
Gejala El-Nino yang menimpa Lampung tahun ini bersifat moderat atau sedang, meskipun tidak seperti gejala El-Nino pada tahun 1997 dan 2009 lalu yang bersifat kuat, masyarakat harus tetap waspada karena gejala alam ini dapat menyebabkan sedikit gagal panen, curah hujan berkurang dan masa kemarau sedikit lebih panjang.
Terkait daerah yang paling berpengaruh dengan musim kemarau tahun ini di Lampung, menurut Rahmatullah, dari pantauan BMKG, yang akan sangat berpengaruh dengan datangnya musim kemarau tahun ini berdampak di semua Provinsi Lampung yaitu, daerah Lampung Timur, Lampung Selatan bagian selatan, dan sedikit di daerah Utara Lampung, kecuali Pesisir Barat karena curah hujan di sana masih tinggi, merupakan daerah pergunungan.
” El-Nino pada 1997 dan 2009 lebih kuat sehingga mengakibatkan gagal panen, kemarau panjang dan kering sehingga dampaknya terjadi kebakaran hutan,” jelasnya,
Musim kemarau di Lampung diprediksi akan berlangsung hingga lima bulan ke depan, namun meskipun kemarau masih terdapat hujan dengan intensitas ringan atau kecil sekali, untuk itu masyarakat diharapkan tidak membakar sampah sembarangan yang dapat memicu terjadinya kebakaran serta menghemat penggunaan air.
Musim kemarau saat ini perlu mewaspadai cuaca panas terutama berkaitan dengan aktivitas masyarakat di lahan-lahan perkebunan dan hutan untuk tidak membakar kebun atau hutan yang akan dijadikan lahan pertanian dan perkebunan.
Menurut Rahmatullah, musim kemarau ini juga dipengaruhi oleh El-Nino yang cukup moderat yang mengakibatkan curah hujan berkurang suhu kering dan udara panas.
“Kami meminta kepada masyarakat atau petani untuk menghemat air pada musim kemarau saat ini. Khusus petani diminta untuk menanam tanaman yang masa tanamnya lebih pendek atau tahan terhadap cuaca panas,” jelasnya.
Terkait kondisi itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung, mengimbau masyarakat untuk tetap waspada selama menghadapi musim kemarau yang diprediksi hingga sampai bulan September.
Kepala BPBD Provinsi Lampung Sobri mengatakan, biasanya di masa musim kemarau berdampak terjadinya kebakaran akibat gesekan tanaman yang mengering akibat kekeringan.
“Melihat dari peristiwa kebakaran hutan yang sebelumnya pernah terjadi di berbagai kabupaten/kota di Provinsi Lampung, kami kembali mengimbau kepada masyarakat agar tetap hati-hati dan selalu waspada selama mengadapi musim kemarau dan peralihan musim,” jelasnya melalui telepon selulernya, Rabu (1/7/2015).
Lebih lanjut Sobri menjelaskan, musim kemarau panjang yang diprediksi akan berlangsung hingga bulan September mendatang, dikawatirkan dapat menyebabkan terjadinya kekeringan sehingga mudah terjadi bencana kebakaran dengan mudah diberbagai kawasan.
“Suhu udara sudah naik sampai 30-31 derajat celcius, karena pengaruh panas kemarau, fenomena kenaikan suhu ini nanti dikhawatirkan akan menyebabkan potensi bahaya kebakaran,” ujarnya.
Saat ini provinsi Lampung sedikitnya terdapat lima Kabupaten/Kota yang masuk dalam kategori rawan kebakaran. Mengatasi bahaya kebakaran, BPBD juga terus berkordinasi dengan seluruh petugas pemadam kebakaran yang ada di Kabupaten/Kota di provinsi Lampung untuk mengecek kesiapan kendaraan dalam menghadapi kemungkinan terjadinya bencana.
Potensi kebakaran naik seiring dengan kenaikan suhu yang signifikan.
Kebakaran ditimbulkan karena terbakarnya benda-benda kering yang mudah terbakar akibat paparan panas matahari. Karena keadaanya yang kering, barang-barang seperti semak riskan terbakar, potensi bahaya juga tinggi,” jelasnya. (Fitri/Juanda)









